Saat Orangtua Berjuang Bertahan Hidup, Emosi Anak Tak Boleh Terabaikan
Ilustrasi orangtua(FREEPIK)
22:35
6 Februari 2026

Saat Orangtua Berjuang Bertahan Hidup, Emosi Anak Tak Boleh Terabaikan

Banyak orangtua menjalani hari dengan satu tujuan utama: memastikan keluarga bisa bertahan.

Bekerja lebih lama, menekan kebutuhan pribadi, dan memikirkan cara memenuhi kebutuhan dasar anak menjadi rutinitas yang melelahkan.

Namun, di tengah perjuangan tersebut, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, kebutuhan emosional anak.

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang berat tidak hanya berdampak pada kondisi fisik dan materi keluarga, tetapi juga memengaruhi dinamika emosional di dalam rumah.

“Ketika orang tua berada dalam tekanan hidup yang besar, kapasitas emosional mereka bisa ikut terkuras. Ini manusiawi, bukan kesalahan,” ujar Vera kepada Kompas.com baru-baru ini.

Anak ikut memikul beban yang tak terlihat

Menurut Vera, anak-anak, terutama usia sekolah dasar, sangat peka terhadap suasana emosional di sekitarnya.

Mereka bisa merasakan kecemasan, kelelahan, dan stres orang tua, meski tidak selalu memahami penyebabnya.

Dalam kondisi ekonomi sulit, anak sering kali ikut menyesuaikan diri.

Ada yang menjadi lebih pendiam, tidak banyak menuntut, atau memilih memendam keinginan dan perasaannya.

Sayangnya, sikap “mengerti keadaan” ini justru bisa membuat beban emosional anak tidak terlihat.

“Anak bisa merasa bahwa masalahnya tidak penting dibandingkan perjuangan orang tuanya. Akhirnya, ia belajar untuk diam,” kata Vera.

IlustrasiFREEPIK Ilustrasi

Ketika kebutuhan dasar menyentuh harga diri anak

Tekanan emosional anak tidak selalu datang dari konflik besar. Hal-hal yang terlihat sederhana bagi orang dewasa, seperti tidak memiliki perlengkapan sekolah atau tidak bisa ikut aktivitas tertentu, bisa berdampak besar bagi anak.

Bagi anak, kebutuhan sekolah bukan hanya alat bantu belajar, tetapi juga bagian dari identitas diri dan rasa diterima di lingkungan sosial.

Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anak bisa merasa berbeda, malu, atau tidak dianggap.

“Anak belum mampu memaknai situasi secara rasional seperti orang dewasa. Yang muncul adalah emosi, rasa tidak setara, takut dinilai, dan merasa tidak cukup,” jelas Vera.

Jika perasaan ini berlangsung lama dan tidak memiliki ruang aman untuk dibicarakan, anak bisa merasa sendirian menghadapi tekanan tersebut.

Baca juga: Bagaimana Anak Bisa Sampai pada Pikiran Mengakhiri Hidup? Ini Penjelasan Psikolog

Diam bukan berarti baik-baik saja

Vera mengingatkan bahwa tekanan emosional pada anak sering kali muncul dalam bentuk perubahan perilaku, bukan keluhan verbal.

Anak bisa menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan sosial, mudah marah, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.

Keluhan fisik berulang seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas juga bisa menjadi sinyal adanya tekanan emosional.

Dalam beberapa kasus, anak mulai merendahkan dirinya sendiri, hingga merasa tidak disayang.

“Perubahan yang berlangsung terus-menerus perlu diperhatikan, bukan dianggap fase biasa,” ujar Vera.

Orangtua tidak salah, tapi tidak bisa sendirian

Vera menegaskan bahwa penting untuk melihat konteks secara utuh. Orangtua dalam kondisi ekonomi sulit bukanlah pihak yang patut disalahkan.

Namun, tanpa dukungan dari lingkungan dan sistem, risiko terabaikannya kebutuhan emosional anak bisa meningkat.

Di sinilah peran sekolah, keluarga besar, dan lingkungan sekitar menjadi krusial.

Sekolah dapat berfungsi sebagai ruang aman melalui deteksi dini, komunikasi dengan orangtua, serta mekanisme bantuan kebutuhan dasar yang menjaga martabat anak.

Lingkungan yang empatik, tidak menghakimi dan mau peduli, dapat menjadi penyangga emosional bagi anak maupun orang tua.

Baca juga: Rasa Malu dan Tidak Dianggap Bisa Melukai Mental Anak, Ini Kata Psikolog

Mendengar sebagai bentuk perlindungan emosional

Di tengah keterbatasan, Vera menekankan bahwa salah satu bentuk perlindungan emosional paling penting bagi anak adalah merasa didengar. Mendengarkan tidak selalu berarti harus langsung memberi solusi.

“Bagi anak, didengar adalah tanda bahwa perasaannya penting. Itu memberi rasa aman,” kata Vera.

Komunikasi sederhana, validasi emosi anak, dan kehadiran yang konsisten, meski singkat, dapat membantu anak merasa tidak sendirian.

Rutinitas kecil seperti menanyakan perasaan anak setiap hari atau menyediakan waktu khusus bersama dapat memberi dampak besar.

Anak, kata Vera, tidak membutuhkan orangtua yang sempurna. Mereka membutuhkan kehadiran, rasa aman, dan harapan.

Ketika orang dewasa di sekitarnya saling menopang, keluarga, sekolah, dan lingkungan, beban emosional anak tidak harus ditanggung sendirian.

Tag:  #saat #orangtua #berjuang #bertahan #hidup #emosi #anak #boleh #terabaikan

KOMENTAR