Mengapa Banyak Orang Bekerja Tak Kunjung Kaya? Ini Kata Sosiolog
– Bekerja dari pagi hingga malam, mengambil lembur, bahkan menjalani dua pekerjaan sekaligus, kini menjadi rutinitas banyak orang di perkotaan.
Alih-alih hidup lebih layak, sebagian besar pekerja justru merasa semakin jauh dari kata sejahtera dan dibayangi risiko burn out akibat beban kerja berlebih.
Realitas bekerja keras tetapi tak kunjung kaya ini bukan lagi cerita personal, melainkan fenomena sosial di Indonesia yang kian mengemuka di tengah naiknya biaya hidup dan pendapatan yang tak kunjung bertambah.
Sosiolog dan Dosen Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, M.Sos menyebut, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang turut memengaruhi struktur ekonomi nasional.
“Ini bukan persoalan individu semata, ini merupakan fenomena global juga, bukan hanya di Indonesia saja. Banyak masyarakat yang kerja sudah banting tulang tapi tidak sejahtera, bahkan untuk bertahan hari ini saja,” kata Sry saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Baca juga: Di Balik Fenomena Working Poor, Ketika Kerja Keras Tak Menjamin Sejahtera
Mengapa banyak orang bekerja tapi tak kunjung sejahtera?
Ketimpangan sistemik dalam kebijakan ekonomi
Menurut Sry, ketidakmampuan pekerja untuk keluar dari tekanan ekonomi sehari-hari berakar pada kebijakan negara yang belum sepenuhnya memprioritaskan kesejahteraan masyarakat.
Dalam praktiknya, kebijakan ekonomi dinilai lebih menguntungkan kelompok tertentu dibandingkan kelas pekerja.
“Penyebabnya kembali lagi ke sistem kebijakan pemerintah yang lagi-lagi hanya berpihak pada kalangan elitnya, korporasi, kebijakan neoliberal yang seringkali didukung oleh negara,” ujarnya.
Ia menilai, orientasi kebijakan tersebut menciptakan jurang antara pendapatan dan kebutuhan hidup.
Baca juga: Belanja Lebih Sadar, Ini 5 Cara Memberi Jeda Sebelum Membeli Barang di Tengah Ekonomi Sulit
Upah minimum yang diterima pekerja sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama di tengah kenaikan harga pangan, perumahan, dan layanan publik.
“Kesejahteraan masyarakat sering dibelakangkan, bisa dilihat dari kebijakan UMR dan UMP kita yang saat ini masih segitu-segitu saja, tapi tidak sebanding dengan kebutuhan biaya hidup,” kata Sry.
Pengunjung mencari informasi tentang lowongan kerja pada Jakarta Utara Job Festival 2025 di Gedung Serbaguna Gelora Sunter, Jakarta, Selasa (14/10/2025). Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Utara menggelar bursa kerja dengan menghadirkan 38 perusahaan dari beragam sektor industri untuk memperluas akses lapangan kerja dan menekan angka pengangguran.
Tekanan mental dan normalisasi kerja berlebih
Ketimpangan tersebut tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis pekerja.
Ketika upah tidak mencukupi, beban tanggung jawab justru dialihkan ke individu, seolah-olah kegagalan mencapai kesejahteraan adalah kesalahan pribadi.
Baca juga: Cerita Driver Ojol Rudi Kerja 14 Jam Sehari tapi Sulit Menabung
“Akibatnya banyak masyarakat yang merasa bersalah, tidak bekerja dengan baik, harus double job, dan lembur sampai malam. Kondisi ini jadi masalah pribadi yang menyebabkan stres dan depresi,” jelas Sry.
Ia menambahkan, budaya kerja berlebihan perlahan dinormalisasi, meski tidak diikuti peningkatan kualitas hidup. Kondisi ini memperkuat lingkaran kelelahan yang sulit diputus.
“Ini merupakan isu struktural. Kita tahu sebutan budak korporat, budak modern ini yang mengakibatkan masyarakat kita tidak bisa keluar dan terkungkung di dalamnya,” ujarnya.
Baca juga: Biaya Hidup Naik, Soft Saving ala Gen Z Bisa Jadi Strategi Menabung
Kurangnya kesadaran kolektif pekerja
Sry menilai eksploitasi terhadap pekerja terus berlangsung karena sistem yang menopangnya tidak pernah benar-benar dipertanyakan secara kolektif.
“Karena memang dipelihara oleh sistem, kebijakan kita tidak berpihak kepada masyarakat, terutama buruh, bahkan melanggengkan eksploitasi terhadap buruh itu sendiri,” kata dia.
Sayangnya, tekanan ekonomi masih sering dipersepsikan sebagai persoalan individu, bukan masalah bersama.
“Kita belum punya kesadaran secara kolektif dan juga solidaritas bahwa ini merupakan isu kita semua. Kita masih menganggap isu pribadi, tekanan pribadi,” ucap Sry.
Ia menekankan pentingnya solidaritas agar pekerja memiliki daya tawar yang lebih kuat.
“Kesadaran kolektif ini yang perlu kita pupuk supaya solidaritas para buruh semakin kuat dan bisa menuntut kebijakan yang lebih berpihak kepada kita,” tambahnya.
Baca juga: Menyiapkan Tabungan untuk Menikah dengan Gaji UMR, Realistis atau Mustahil?
Merit System yang belum menjadi fondasi
Sosiolog Nia Elvina menyoroti aspek lain yang memperkuat fenomena bekerja tak kunjung kaya, yakni belum berjalannya sistem prestasi secara adil atau merit system di dunia kerja.
Ia menjelaskan, persoalan utama terletak pada lemahnya komitmen untuk menempatkan orang sesuai kompetensi.
“Sumber utamanya terletak pada belum ada kemauan yang sungguh-sungguh dari pimpinan dan pengelola negara ini, untuk menerapkannya dan prinsip the right man and right place juga belum diterapkan,” jelasnya.
Akibatnya, pekerja yang tidak memiliki koneksi sosial atau modal finansial sering kali terhambat mobilitasnya dan peluang untuk mendapatkan pendapatan kerja yang lebih baik.
“Sehingga kelas pekerja yang sungguh-sungguh tadi, yang tidak punya koneksi, finansial dan kemampuan mempersuasi pimpinan dan lain sebagainya, akan mengalami kesulitan untuk naik jabatan, gaji dan sebagainya,” tutup Nia.
Baca juga: Bukan Malas atau Tak Kompeten, Ini Alasan Pekerja Muda Enggan Naik Jabatan
Tag: #mengapa #banyak #orang #bekerja #kunjung #kaya #kata #sosiolog