Ketika Stres Dianggap Wajar, Psikolog Ingatkan Risiko Burnout pada Pekerja
Dalam keseharian kerja yang serba cepat dan penuh tuntutan, stres kerap dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari profesionalisme.
Namun, anggapan bahwa stres adalah hal wajar justru membuat banyak pekerja tidak menyadari tekanan mental yang mereka alami hingga berdampak serius pada kesehatan mental.
Psikolog dari Universitas Indonesia, Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengatakan stres sering kali tidak disadari oleh pekerja karena dianggap sebagai konsekuensi normal dari tuntutan pekerjaan sehari-hari.
Akibatnya, kondisi tersebut kerap diabaikan dan dibiarkan menumpuk.
“Banyak orang tidak merasa dirinya stres. Mereka baru sadar ketika sudah mudah marah, defensif, menarik diri, atau merasa lelah terus-menerus,” ujar Ayu, dalam kegiatan Health Talk bertajuk “Mind Matters: Menciptakan Ruang Aman untuk Sadar, Peduli, dan Saling Mendukung”, seperti dikutip dari ANTARA, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Kamu Mengalami Stres? Ini Kata Dokter
Stres tak selalu disadari sejak awal
Menurut Ayu, banyak pekerja tetap menjalani rutinitas seperti biasa meski tubuh dan pikirannya sudah berada dalam kondisi tertekan.
Stres sering kali baru diakui ketika dampaknya mulai mengganggu kinerja dan relasi sosial.
Ia menjelaskan, dalam budaya kerja yang umum ditemui, stres sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang harus diterima.
Ketahanan mental pun kerap disamakan dengan kemampuan menahan tekanan tanpa mengeluh, bukan dengan kemampuan mengenali batas diri.
Pandangan tersebut, kata Ayu, membuat pekerja enggan mengakui kelelahan mental.
Padahal, ketika stres tidak dikenali sejak awal, tekanan tersebut bisa terus menumpuk dalam jangka waktu lama.
Baca juga: Peneliti Temukan Uban Akibat Stres Bisa Dipulihkan
Dari stres berkepanjangan hingga burnout
Ayu menambahkan, stres yang berlangsung singkat sebenarnya masih tergolong normal dan dapat membantu seseorang tetap waspada serta produktif.
Namun, masalah muncul ketika stres dibiarkan berlarut-larut tanpa pengelolaan yang tepat.
Stres kronis yang terus diabaikan berisiko berkembang menjadi burnout, yakni kondisi kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada menurunnya motivasi serta kinerja seseorang.
Burnout, lanjut Ayu, tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya didahului oleh stres yang terus diabaikan, minimnya jeda pemulihan, serta tidak adanya ruang aman untuk mengekspresikan tekanan yang dirasakan.
Baca juga: Basah Kuyup dan KRL Padat Bikin Stres? Psikiater Ungkap Cara Atasi “Burnout” di Jalan
Sinyal kecil yang sering terlewat
Dalam paparannya, Ayu juga menekankan bahwa stres tidak selalu muncul dalam bentuk keluhan verbal. Perubahan perilaku kecil sering kali menjadi sinyal awal yang luput diperhatikan.
Menurunnya fokus, meningkatnya kesalahan kerja, atau kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi sosial dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang berada dalam tekanan mental.
Karena itu, Ayu mengajak para pekerja untuk mulai lebih peka terhadap perubahan pada tubuh, emosi, dan pola pikir mereka.
Kesadaran diri menjadi kunci agar stres dapat dikelola sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Baca juga: 5 Langkah Melindungi Diri dari Hubungan Pemicu Stres Emosional
Ilustrasi stres.
Menjaga kesehatan mental di tengah tekanan kerja
Menjaga kesehatan mental, menurut Ayu, bukan berarti menghindari tekanan sama sekali.
Tekanan tetap menjadi bagian dari kehidupan kerja.
Namun, yang terpenting adalah memahami kapan tekanan tersebut perlu direspons dan kapan tubuh serta pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti dan pulih.
Dengan mengenali batas diri dan menciptakan ruang aman untuk saling mendukung, pekerja diharapkan dapat tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.
Tag: #ketika #stres #dianggap #wajar #psikolog #ingatkan #risiko #burnout #pada #pekerja