Tak Terduga! Profesi Pengemudi Bus di Korea Selatan Kini Jadi Incaran Generasi Z
Yangcheon Public Garage di Yangcheon-gu, Seoul (Korea Times)
19:09
30 Januari 2026

Tak Terduga! Profesi Pengemudi Bus di Korea Selatan Kini Jadi Incaran Generasi Z

- Di pusat pelatihan KD Transport Group yang merupakan operator bus terbesar Korea Selatan di Seongnam, provinsi Gyeonggi, beberapa pria berpenampilan muda tampak menonjol di antara sekitar 100 pengemudi, yang berkumpul untuk pelatihan keselamatan pada tanggal 20 Januari.

Menurut perusahaan, 47 dari 460 pengemudi di cabang Pangyo berusia 20-an atau 30-an yang mewakili sekitar 10 persen dari total tenaga kerja.

"Sebagian besar dari mereka bergabung dalam satu atau dua tahun terakhir. Sangat tidak biasa melihat peningkatan tajam seperti ini pada pelamar muda," kata seorang pejabat perusahaan.

Mengemudikan bus yang dulunya merupakan pekerjaan yang dihindari oleh pekerja muda, kini menjadi daya tarik bagi warga Korea Selatan berusia 20-an dan 30-an.

Para analis mengaitkan pergeseran ini dengan diperkenalkannya sistem bus semi-publik, sebuah model di mana pemerintah daerah menutupi defisit operasional dengan pendapatan pajak ditambah dengan pasar kerja yang sulit.

Data dari Otoritas Keselamatan Transportasi Korea menunjukkan, bahwa jumlah orang berusia 20-an dan 30-an yang memperoleh SIM pengemudi bus melonjak 43 persen dalam tiga tahun, dari 6.218 pada tahun 2023 menjadi 10.931 tahun lalu.

Dikutip dari Korea Times, pendorong utama tren ini adalah peningkatan kondisi kerja dan pergeseran persepsi sosial. 

Sejak awal tahun 2000-an, wilayah metropolitan besar seperti Seoul, Incheon, dan provinsi Gyeonggi telah mengadopsi sistem semi-publik yang secara signifikan meningkatkan upah dan keamanan kerja.

Data industri menunjukkan, bahwa gaji bulanan rata-rata untuk seorang pengemudi bus metropolitan sekarang berkisar antara 5,2 juta won (sekitar Rp 60 juta) dan 5,6 juta won (sekitar Rp65 juta). Termasuk shift liburan, gaji bulanan dapat melebihi 6 juta won.

Pengemudi senior berusia 50-an dan 60-an, dapat memperoleh lebih dari 80 juta won atau sekitar Rp 934 juta per tahun.

"Dulu saya bekerja di bidang instalasi jaringan seluler, sebelum beralih menjadi sopir bus setahun yang lalu," kata Kwon Hyuk Woo yang berusia 33 tahun. 

"Mengingat gaji dan kondisi kerja (supir bus), orang-orang di sekitar mengatakan jika saya mendapatkan 'pekerjaan yang bagus,' dan banyak dari mereka terang-terangan iri."

Keamanan saat bekerja adalah daya tarik utama lainnya. Usia pensiun untuk pengemudi bus di Korea Selatan biasanya 63 tahun, yang lebih tua daripada banyak posisi di perusahaan, serta jam kerja harian yang dibatasi hanya sampai sembilan jam.

Seorang pemuda berusia 27 tahun Song Seong Hwan, terjun ke industri ini atas rekomendasi ayahnya.

"Ayah saya yang juga seorang sopir bus, mengatakan bahwa pekerjaan ini lebih baik daripada kebanyakan pekerjaan lain," kata Song. 

"Tekanan untuk mengemudi dengan aman memang nyata, tetapi saya menikmati bekerja sendirian tanpa politik kantor atau atasan yang mengawasi."    "Selain itu, saya menyukai pekerjaan ini karena membuat diriku merasa berperan dalam menjaga kelancaran lalu lintas kota."   Park Chan Dong pria berusia 35 tahun, memilih meninggalkan pekerjaan di bidang manufaktur untuk menjadi seorang pengemudi, berharap para pekerja muda dapat membantu membentuk kembali citra industri ini.   "Di masa lalu, pekerjaan ini membawa stigma negatif. Tetapi pengemudi muda seperti kami ingin mengubah itu dan menciptakan budaya, di mana kami dapat mengatakan apa yang kami lakukan dengan bangga," kata Park.   Meskipun demikian, pekerjaan menjadi supir tetap memiliki tantangan tersendiri, termasuk kritik publik atas aksi mogok dan kebutuhan akan disiplin diri yang ketat.   "Sakit rasanya ketika orang mengatakan, para pengemudi hanya mencari keuntungan pribadi dengan uang pajak setiap kali terjadi aksi mogok," kata seorang pengemudi.    "Kami berharap orang-orang melihatnya sebagai investasi dalam infrastruktur keselamatan. Pekerjaan ini juga menuntut pengendalian diri yang sangat ketat sehingga kami bahkan tidak bisa minum (alkohol) dengan bebas atau sering bertemu teman."  

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #terduga #profesi #pengemudi #korea #selatan #kini #jadi #incaran #generasi

KOMENTAR