Warga AS Ramai-ramai Pasang Paspor di Jidat agar Tak Digerebek ICE
- Warga-warga Amerika Serikat (AS) membagikan video di media sosial yang memperlihatkan mereka menempelkan paspor di dahi, sebagai simbol protes atas operasi penegakan hukum imigrasi oleh Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).
Salah satu video yang viral diunggah kreator konten TikTok @dotish001. Dalam video tersebut, ia berjalan-jalan dengan paspornya yang ditempelkan di kepala.
“Beginilah cara kami beraktivitas,” ucapnya, mengacu pada kekhawatiran akan permintaan bukti kewarganegaraan secara mendadak.
Baca juga: Apa Itu Agen ICE AS dan Mengapa Boleh Menggunakan Kekerasan?
Berbicara kepada Newsweek melalui pesan media sosial, @dotish001 menjelaskan bahwa video itu dibuat sebagai bentuk komentar sosial.
“Saya membuat video ini sebagai komentar tentang bagaimana kita memproses rasa takut dan ketidakpastian seputar operasi ICE saat ini."
"Video tersebut untuk mencerminkan kecemasan yang dirasakan banyak orang, dan bagaimana media sosial menjadi ruang orang-orang mengekspresikan kekhawatiran, mengatasi masalah, dan terkadang menggunakan simbolisme atau satir untuk memahami isu-isu serius,” ujarnya.
Fenomena ini mencuat setelah dua warga negara AS tewas dalam waktu kurang dari tiga minggu, dalam operasi penegakan hukum imigrasi di Minneapolis.
Baca juga: Mengabdi Sebagai Perawat, Alex Pretti Berakhir Tragis Ditembak Aparat
Alex Pretti, perawat ICU berusia 37 tahun, dan Renee Good, ibu dari tiga anak, sama-sama ditembak oleh aparat penegak imigrasi, masing-masing dari Patroli Perbatasan dan ICE.
Tragedi tersebut memicu gelombang protes di sejumlah kota dan meningkatkan kekhawatiran atas cara ICE menjalankan tugasnya.
Menurut catatan, sepanjang 2025 sebanyak 32 orang meninggal dalam tahanan ICE, tertinggi dalam 20 tahun terakhir.
Selain itu, publik juga menyoroti isu penangkapan tanpa prosedur hukum, penahanan anak-anak, serta dugaan profil rasial.
Baca juga: Kematiannya Picu Amarah Warga AS, Siapa Renee Nicole Good yang Ditembak Agen ICE?
Dalam salah satu video lainnya, @dotish001 terlihat di dalam mobil dengan SIM ditempelkan di kepala.
Video itu diberi keterangan, "Permisi Nona ICE", dan menampilkan tulisan “Bagaimana pemegang kartu hijau (green card) bergerak di Amerika.”
“Respons online beragam, tetapi sebagian besar mencerminkan percakapan lebih luas yang terjadi saat ini. Beberapa audiens merasa terkait dengan pesan tersebut dan memiliki perasaan serupa, sedangkan yang lain menafsirkannya secara berbeda,” kata @dotish001.
Ia menambahkan, “Saya pikir beragam reaksi tersebut menyoroti betapa emosional dan kompleksnya topik ini bagi banyak orang Amerika. Dan terutama orang Afrika dan negara-negara lain. Saya berasal dari Afrika dan kami orang Afrika-lah yang paling takut.”
Menurut Newsweek, video milik @dotish001 yang menampilkan dirinya berjalan dengan paspor di kepala telah ditonton lebih dari tujuh juta kali.
Baca juga: Agen ICE Tembak Mati Warga AS Lagi di Minneapolis, Kali Kedua Usai Renee Good
Respons Pemerintah AS
Pedemo bentrok dengan aparat dalam demo di luar gedung federal Whipple, untuk memprotes penembakan seorang ibu oleh agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Kota Minneapolis, Negara Bagian Minnesota, Amerika Serikat, Kamis (8/1/2026).Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyampaikan, identitas legal seseorang di Amerika tidak ditentukan hanya melalui dokumen seperti paspor atau SIM.
“REAL ID bukanlah dokumen imigrasi—mereka mempersulit pemalsuan identitas, sehingga menggagalkan upaya kriminal dan teroris. REAL ID dapat mengonfirmasi identitas, tetapi tidak mengonfirmasi status hukum,” kata juru bicara DHS melalui e-mail kepada Newsweek.
Ia menambahkan, “Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan (INA) mewajibkan warga negara asing dan non-warga negara di AS untuk membawa dokumen imigrasi.”
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara itu menjelaskan, “REAL ID menetapkan standar keamanan untuk penerbitan dan produksi SIM, serta melarang lembaga federal menerima SIM dan kartu identitas yang tidak sesuai untuk tujuan resmi tertentu.”
Meningkatnya kekhawatiran publik atas operasi ICE berdampak pada situasi politik di Washington DC.
Kemungkinan penutupan pemerintahan federal (government shutdown) semakin besar setelah insiden penembakan Alex Pretti.
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer dari Demokrat menyatakan, partainya akan memblokir pengesahan paket pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), sebagai bentuk protes terhadap kebijakan imigrasi garis keras yang tetap dijalankan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Baca juga: AS Shutdown Lagi, Kini gara-gara Agen ICE Bunuh Warga Sipil
Tag: #warga #ramai #ramai #pasang #paspor #jidat #agar #digerebek