Mengapa AI Bikin Perusahaan Teknologi Global Ramai-ramai PHK?
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor teknologi global belum mereda hingga awal 2026.
Sejumlah perusahaan raksasa teknologi mengumumkan pemangkasan ribuan karyawan, di tengah percepatan investasi dan integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam model bisnis mereka.
Restrukturisasi organisasi, efisiensi biaya, dan pergeseran fokus ke AI menjadi benang merah dalam pengumuman PHK tersebut.
Baca juga: Perusahaan Logistik Terbesar di Dunia Bakal PHK 30.000 Karyawan
Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Data yang dirangkum Network World dari analisis RationalFX menyebutkan, sektor teknologi global memangkas sekitar 244.851 pekerjaan sepanjang 2025.
Laporan itu menyebut percepatan adopsi AI dan otomatisasi sebagai faktor dominan dalam gelombang pemangkasan tersebut.
Fenomena ini terjadi di tengah transformasi besar-besaran industri teknologi, ketika perusahaan berlomba mengembangkan dan mengintegrasikan AI generatif, otomatisasi proses, serta sistem berbasis pembelajaran mesin ke dalam produk dan operasional mereka.
Restrukturisasi dan efisiensi organisasi
Salah satu perusahaan teknologi yang kembali mengumumkan pemangkasan adalah Amazon. Reuters melaporkan, Amazon PHK sekitar 16.000 posisi secara global sebagai bagian dari restrukturisasi yang lebih luas.
Baca juga: Tekanan Persaingan AI, Amazon PHK 16.000 Karyawan
Langkah itu menyusul pemotongan sekitar 14.000 posisi pekerjaan korporat pada Oktober 2025.
“Sebagian dari Anda mungkin bertanya apakah ini awal dari ritme baru, di mana kami mengumumkan pengurangan besar-besaran setiap beberapa bulan. Itu bukan rencana kami," tulis Kepala Sumber Daya Manusia Amazon Beth Galetti dalam memo internal kepada karyawan yang dikutip Reuters.
Ilustrasi gudang Amazon.
Galetti menambahkan, Amazon perlu mengurangi lapisan hierarki, meningkatkan kepemilikan, dan menghilangkan birokrasi dalam upaya merampingkan organisasi dan mempercepat pengambilan keputusan.
Langkah serupa juga terlihat di perusahaan teknologi lain. Pinterest, misalnya, mengumumkan rencana memangkas kurang dari 15 persen tenaga kerjanya untuk mengalihkan sumber daya ke prioritas strategis, termasuk pengembangan AI.
Baca juga: Citigroup Dikabarkan Bakal Kembali PHK Karyawan pada Maret
Reuters melaporkan, Pinterest menyatakan pemangkasan tersebut bertujuan untuk mengalihkan sumber daya ke prioritas utama, termasuk investasi pada teknologi berbasis AI.
Pengumuman-pengumuman ini muncul dalam konteks industri yang sedang menata ulang struktur organisasi setelah periode ekspansi besar selama pandemi Covid-19.
Banyak perusahaan teknologi melakukan perekrutan masif pada 2020–2022, ketika permintaan layanan digital melonjak. Ketika pertumbuhan melambat dan tekanan biaya meningkat, restrukturisasi pun dilakukan.
Pergeseran ke AI sebagai prioritas strategis
Transformasi yang lebih mendasar terjadi pada arah investasi.
Baca juga: Nike Bakal PHK Hampir 1.000 Karyawan Korporat, Kedua pada 2025
Perusahaan teknologi global meningkatkan belanja modal untuk pusat data, infrastruktur komputasi awan, dan pengembangan model AI.
Dalam memo kepada karyawan yang dipublikasikan di blog resmi perusahaan, CEO Satya Nadella dari Microsoft menyatakan bahwa perubahan ini bukan sekadar penyesuaian operasional.
"Keputusan-keputusan ini termasuk yang paling sulit yang harus kita buat," tulis Nadella dalam memo tersebut.
Ia menekankan perlunya perusahaan melakukan pembelajaran kembali untuk beradaptasi dengan pergeseran platform menuju era AI.
Baca juga: PHK di AS Tembus 1,17 Juta pada 2025, AI Jadi Pendorong
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Memo tersebut menggambarkan bagaimana perusahaan melihat AI sebagai platform teknologi baru yang akan membentuk kembali cara produk dirancang, dibangun, dan dipasarkan.
Dalam berbagai forum, eksekutif teknologi menyatakan bahwa AI akan meningkatkan produktivitas dan mengubah komposisi kebutuhan tenaga kerja.
Perusahaan menghadapi tekanan dari investor untuk menunjukkan hasil nyata dari investasi besar di AI.
Perusahaan yang telah menggelontorkan investasi miliaran dollar AS untuk pengembangan model AI dan infrastruktur pendukung dituntut menghasilkan efisiensi dan pertumbuhan baru.
Baca juga: PHK Massal Terjadi Sepanjang 2025, Meta hingga Amazon Pangkas Karyawan
Otomatisasi dan dampaknya pada peran tertentu
Laporan Network World yang mengutip analisis RationalFX menyatakan bahwa PHK pada 2025 lebih mencerminkan penataan ulang struktural, bukan koreksi biaya jangka pendek.
Analisis tersebut menilai bahwa percepatan otomatisasi dan adopsi AI membuat sejumlah fungsi menjadi lebih rentan terhadap pengurangan.
Peran-peran yang bersifat administratif, pemrosesan data, dukungan pelanggan tingkat awal, hingga fungsi tertentu dalam sumber daya manusia disebut lebih mudah terdampak otomatisasi.
Dengan sistem AI yang mampu menangani tugas berulang dan analisis data dalam skala besar, kebutuhan tenaga kerja di bidang tersebut berkurang.
Baca juga: Risiko PHK dan Turunnya Kelas Menengah Uji Konsumsi 2026
Di sisi lain, peningkatan permintaan terhadap talenta AI, seperti insinyur machine learning, data scientist, serta spesialis infrastruktur komputasi awan.
Perusahaan melakukan realokasi sumber daya ke tim yang berfokus pada pengembangan dan integrasi AI.
Beberapa perusahaan juga mengumumkan program pelatihan ulang (reskilling) untuk membantu karyawan beradaptasi dengan kebutuhan baru. Namun, program tersebut tidak selalu dapat menyerap seluruh tenaga kerja yang terdampak.
Ilustrasi artificial intelligence (AI).
Tekanan pasar dan ekspektasi investor
Selain faktor teknologi, tekanan pasar turut memengaruhi keputusan perusahaan. Reuters mewartakan, manajemen perusahaan menghadapi tuntutan untuk menjaga margin keuntungan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti.
Baca juga: Lebih dari 50.000 Pekerja AS Kena PHK Akibat AI pada 2025
Dalam konteks tersebut, pengurangan tenaga kerja sering kali menjadi salah satu cara cepat untuk memangkas biaya operasional.
Namun, sejumlah analis yang dikutip media juga mengingatkan bahwa tidak semua PHK dapat secara langsung dikaitkan dengan AI.
Sebagian pengamat pasar melihat penggunaan narasi AI dalam pengumuman PHK sebagai bagian dari strategi komunikasi korporasi.
Artinya, di samping transformasi teknologi, faktor-faktor seperti perlambatan pertumbuhan, restrukturisasi bisnis, dan tekanan biaya tetap berperan.
Baca juga: Tarik Ulur Akuisisi Warner Bros, Ancaman PHK “Hantui” Industri Film Hollywood
Meski demikian, data agregat menunjukkan bahwa gelombang PHK bertepatan dengan percepatan investasi AI di berbagai perusahaan besar. Belanja modal untuk pusat data dan chip AI meningkat signifikan, sementara biaya tenaga kerja di sejumlah unit bisnis ditekan.
Dinamika komunikasi perusahaan
Cara perusahaan menyampaikan pengumuman PHK juga menjadi sorotan.
Sebagian perusahaan menyampaikan keputusan melalui memo internal yang kemudian dipublikasikan, sementara lainnya melalui pernyataan resmi kepada regulator atau media.
Dalam memo internal Amazon, Galetti menegaskan bahwa PHK bukan pola yang akan terus berulang.
Baca juga: Gelombang PHK di AS Meluas, Belasan Perusahaan Global Pangkas Karyawan
“Itu bukan rencana kami,” tulisnya, merujuk pada kekhawatiran bahwa perusahaan akan mengumumkan pengurangan besar secara berkala.
Bos Microsoft, Satya Nadella.
Sementara itu, Nadella dalam memo Microsoft menekankan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari perjalanan transformasi yang lebih luas.
Skala global dan lintas sektor
Gelombang PHK tidak terbatas pada satu atau dua perusahaan. Sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya juga melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala ribuan selama 2025.
Fenomena ini mencakup perusahaan perangkat lunak, perangkat keras, e-commerce, hingga layanan konsultasi teknologi.
Baca juga: Kenapa Banyak Perusahaan Teknologi Global PHK Karyawan Tahun Ini?
Dalam banyak kasus, perusahaan menyatakan bahwa mereka menyederhanakan struktur organisasi untuk menjadi lebih ramping dan lebih fokus pada area pertumbuhan seperti AI, komputasi awan, dan keamanan siber.
PHK terjadi di berbagai wilayah, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Hal ini mencerminkan sifat global industri teknologi dan dampak luas dari transformasi digital yang sedang berlangsung.
Transformasi industri yang terus berlangsung
AI dipandang sebagai teknologi platform baru yang berpotensi mengubah model bisnis, rantai nilai, dan struktur tenaga kerja.
Dalam memo dan pernyataan publik, para eksekutif perusahaan teknologi menegaskan bahwa perubahan ini tidak sekadar siklus ekonomi biasa, melainkan pergeseran struktural.
Baca juga: Adopsi AI, HP Bakal PHK hingga 6.000 Karyawan
Namun, faktor ekonomi makro dan dinamika pasar tetap menjadi bagian dari persamaan.
AI menjadi elemen sentral dalam narasi restrukturisasi perusahaan teknologi global.
Gelombang PHK yang terjadi sepanjang 2025 hingga awal 2026 mencerminkan fase penyesuaian industri di tengah percepatan adopsi AI.
Perusahaan menata ulang organisasi, mengalihkan sumber daya, dan menekankan efisiensi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang cepat.
Tag: #mengapa #bikin #perusahaan #teknologi #global #ramai #ramai