Turun 35 Kg Tanpa Obat Diet, Topik Sudirman: Jangan Olahraga Buat Kurus!
Berawal dari ejekan, Topik Sudirman menurunkan berat badan dari 128 kg ke 93 kg lewat lari dan diet realistis. Ini kisah perjuangannya. (dok. Topik Sudirman)
18:50
31 Januari 2026

Turun 35 Kg Tanpa Obat Diet, Topik Sudirman: Jangan Olahraga Buat Kurus!

Di tengah gempuran iklan obat pelangsing yang menjanjikan hasil instan, muncul sebuah narasi jujur dari pegiat lari sekaligus content creator asal Solo, Topik Sudirman (33).

Pendiri gerakan "Gendut Berlari" ini membagikan kisah transformasinya selama menjalani diet sehat.

Berhasil memangkas bobot hingga 35 kilogram, dari 128 kg ke 93 kg, Topik justru berpesan bahwa "jangan olahraga dengan motivasi untuk kurus.”

Baca juga: Berawal dari Hujatan, Topik Sudirman Inisiasi Movement Gendut Berlari

Berdamai dengan angka 128

Perjalanan diet Topik saat ingin menjalani hidup sehat dan berdamai dengan tubuhnya yang saat itu berada di angka 128 kilogram.

"Udah tergolong obesitas, jadi harus olahraga biar tubuh nyaman dan sehat," ujarnya saat ditemui Kompas.com beberapa waktu lalu.

Awalnya, Topik mengaku sempat terjebak dalam tren. Ia membeli sepatu lari bermerek hanya karena fear of missing out (FOMO).

Di empat bulan pertama, ia berlari namun berat badannya tak bergeming. Penyebabnya klasik: ia melakukan "balas dendam" di meja makan setelah lari.

"Habis lari, nyoto, tempe, sundukan. Siang makan lagi. Sore makan lagi," ujarnya tertawa.

Kejujuran inilah yang kemudian menjadi fondasi gerakannya: bahwa olahraga saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan mindset terhadap makanan.

Baca juga: Dari 128 Kg ke 93 Kg, Cerita Diet Topik Sudirman yang Berawal dari Ejekan

Matematika defisit kalori

Ia menanggalkan semua teori diet rumit dan suplemen ajaib. Fokusnya hanya satu: defisit kalori dan olahraga.

Baginya, matematika diet itu sederhana namun disiplinnya yang luar biasa berat: pemasukan harus lebih sedikit dari pengeluaran.

“Saya lawan godaan sarapan berat. Intinya, makan berat hanya sekali sehari,” ungkap Topik.

Walau begitu, ia menekankan bahwa setiap orang harus menemukan ritme yang sesuai dengan kondisi tubuhnya masing-masing.

Menurutnya, ia cocok dengan defisit kalori.

Di sisi lain, ia juga rajin olahraga angkat satu minggu minimal dua kali untuk melatih otot.

Kini, ia sudah berhasil turun berat badan 35 kilogram, dari 128 kilogram menjadi 93 kilogram.

Baca juga: Olahraga Tanpa Takut Dihakimi, Gendut Berlari Buka Ruang Aman bagi Obesitas

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
Instagram @gendutberlari Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Mengapa jangan olahraga buat kurus?

Inilah poin penting yang membuat gerakan Gendut Berlari berbeda.

Menurut Topik, ketika seseorang berolahraga hanya demi angka di timbangan, mereka akan cepat kecewa dan menyerah saat angka tersebut tidak turun.

"Jangan motivasi ke angka. Senang dulu. Kalau kamu olahraga buat happy, tapi kok tiba-tiba beratnya turun, itu bonus. Kalau orientasinya cuma kurus dan ternyata nggak turun-turun, kamu akan sedih dan berhenti," jelasnya.

Paradigma inilah yang ia bawa ke movement-nya.

Gendut Berlari bukan sekadar tempat kumpul orang-orang yang ingin mengecilkan perut, melainkan ruang aman (safe space) bagi tubuh-tubuh yang seringkali merasa tidak pantas hadir di dunia olahraga.

Baca juga: Tubuh Gemuk Juga Berhak Olahraga Tanpa Ejekan, Kenali Gerakan Gendut Berlari

Lari adalah perayaan, bukan hukuman

Melalui akun Instagramnya yang kini memiliki lebih dari 190 ribu pengikut, Topik aktif mengampanyekan inklusivitas dalam olahraga

Di event yang ia buat, tidak ada paksaan soal kecepatan (pace). Bahkan, ia menyediakan sweeper khusus untuk menemani peserta yang memilih untuk berjalan kaki.

Ia melawan stigma bahwa lari hanya milik mereka yang bertubuh ideal. Baginya, lari adalah tentang kehadiran dan keberanian untuk muncul di ruang publik dengan identitas apa adanya.

"Banyak orang obesitas yang ingin bangun pagi tapi takut dihujat. Jangan mem-bully mereka. Mereka sudah bergelut dengan jam kerja dan keluarga, lalu menyempatkan diri lari di jalanan. Tolong hargai itu," tutupnya.

Tag:  #turun #tanpa #obat #diet #topik #sudirman #jangan #olahraga #buat #kurus

KOMENTAR