Ilustrasi orang rugi (tonodiaz/freepik)
3 Alasan Investasi Justru Membuat Banyak Orang Merugi: Kesalahan Pola Pikir yang Sering Diabaikan
- Investasi sering dipersepsikan sebagai jalan pintas menuju kebebasan finansial.
Narasi ini berkembang luas melalui media sosial, percakapan sehari-hari, hingga testimoni yang menonjolkan keberhasilan dalam waktu singkat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan hasil yang berlawanan bagi banyak orang.
Alih-alih meningkat, kondisi keuangan justru memburuk setelah mulai berinvestasi.
Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Kerugian dalam investasi umumnya bukan disebabkan oleh instrumen itu sendiri, melainkan oleh cara pandang dan keputusan investor.
Tanpa pengetahuan yang memadai, investasi dapat berubah menjadi aktivitas spekulatif yang berisiko tinggi dan sulit dikendalikan.
Berikut alasan utama mengapa investasi justru membuat banyak orang merugi dihimpun dari YouTube Waktu Berfikir.
Dengan memahami akar masalahnya, Anda dapat membangun strategi investasi yang lebih rasional, terukur, dan berkelanjutan.
1. Masuk Investasi Tanpa Pemahaman yang Memadai
Banyak orang memulai investasi hanya karena dorongan tren dan rekomendasi lingkungan sekitar.
Keputusan diambil tanpa memahami apa yang sebenarnya dibeli, bagaimana cara kerjanya, serta risiko yang melekat pada instrumen tersebut.
Pola ini membuat investasi lebih menyerupai perjudian dibandingkan perencanaan keuangan.
Kurangnya pemahaman terhadap analisis fundamental dan karakteristik instrumen sering berujung pada kesalahan memilih aset.
Saham dibeli tanpa menilai kinerja perusahaan, reksa dana dipilih tanpa memahami jenis dan tujuannya, serta instrumen berisiko tinggi diambil tanpa menyesuaikan profil risiko.
Akibatnya, ketika harga bergerak tidak sesuai harapan, kerugian menjadi sulit dihindari.
Investasi menuntut pengetahuan dasar yang kuat. Dengan memahami prinsip dasar, tujuan investasi, serta jangka waktu yang direncanakan, Anda dapat membuat keputusan yang lebih rasional dan tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi jangka pendek.
2. Emosi Mengendalikan Keputusan Investasi
Emosi merupakan salah satu faktor terbesar yang menyebabkan kerugian dalam investasi.
Ketika pasar naik, rasa takut tertinggal mendorong banyak orang membeli aset pada harga tinggi tanpa analisis yang matang.
Sebaliknya, saat pasar turun, kepanikan membuat investor menjual aset pada harga rendah.
Ketidakmampuan mengelola emosi menyebabkan keputusan impulsif yang merusak strategi jangka panjang.
Rasa serakah mendorong ekspektasi keuntungan tidak realistis, sementara rasa takut membuat investor kehilangan objektivitas.
Dalam kondisi ini, logika dan perencanaan sering kali tersingkir.
Investor yang sukses umumnya memiliki rencana yang jelas dan disiplin dalam menjalankannya.
Dengan tujuan yang terdefinisi dan strategi yang konsisten, Anda dapat menjaga jarak dari keputusan berbasis emosi dan tetap fokus pada nilai jangka panjang investasi.
3. Mengabaikan Biaya Tersembunyi dalam Investasi
Banyak investor hanya fokus pada potensi imbal hasil tanpa memperhitungkan biaya yang menyertainya.
Padahal, biaya transaksi, biaya pengelolaan, pajak, dan selisih harga beli-jual dapat secara perlahan menggerus keuntungan investasi.
Dalam jangka pendek, biaya-biaya ini terlihat kecil dan sering diabaikan.
Namun, dalam jangka panjang, akumulasinya dapat berdampak signifikan terhadap hasil akhir investasi.
Semakin sering transaksi dilakukan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung.
Kesadaran terhadap struktur biaya merupakan bagian penting dari strategi investasi yang sehat.
Dengan memilih instrumen yang transparan, biaya rendah, dan sesuai dengan tujuan investasi, Anda dapat menjaga hasil investasi tetap optimal dan berkelanjutan.
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tag: #alasan #investasi #justru #membuat #banyak #orang #merugi #kesalahan #pola #pikir #yang #sering #diabaikan