Amran: Hilirisasi Kelapa, CPO, dan Gambir Bikin Negara Cuan Rp 15.000 T
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, hilirisasi produk kelapa, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dan gambir bisa membuat negara meraup cuan hingga Rp 15.000 triliun.
Hal tersebut Amran sampaikan saat memberikan pembekalan dalam diklat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementerian Pertahanan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Potensi ekonomi dari hilirisasi ketiga produk perkebunan itu menurutnya bisa setara 5 tahun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau ini jadi, baru dua, baru tiga. CPO, gambir, kemudian kelapa, Pak. Ini sudah bisa Rp 15.000 triliun. Itu 5 tahun APBN kita,” kata Amran, Jumat (39/1/2026).
Baca juga: Amran Mau Optimalkan Pertanian untuk Dukung Energi Hijau
Amran mengatakan, harga kelapa di dalam negeri meningkat hingga berkisar Rp 10.000 per butir.
Sementara, jika diekspor ke luar negeri, harga kelapa mentah yang belum diolah itu bisa mencapai Rp 30.000 per butir.
Ketika pemerintah menerapkan kebijakan hilirisasi dengan mengolahnya menjadi coconut milk (santan) dan virgin coconut oil (VCO), nilai ekonomi kelapa meningkat hingga 100 kali lipat.
“Ekspor (kelapa mentah) kita Rp 24 triliun, ini kelapa kita nomor satu dunia. Ekspor kita Rp 24 triliun kalau kali 100 berarti Rp 2.400 triliun, kita hilirisasi hentikan kita ekspor (mentah),” ujar Amran.
Air kelapa yang telah melalui hilirisasi juga memiliki nilai ekonomi tinggi.
Jika dikemas dengan baik maupun diolah menjadi produk kecantikan (skin care), nilainya bisa mencapai Rp 2.400 triliun.
“Kelapa saja, (produk hilirisasi) air kelapa dengan kelapa kita hitung Rp 5.000 triliun,” jelas Amran.
Selain kelapa, produk hilirisasi gambir juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi hingga Rp 5.000 triliun.
Berdasarkan hasil penelitian, tanaman yang biasanya digunakan untuk menyirih itu bisa diolah menjadi tinta, sampo, dan sabun.
Selama ini, Indonesia memasok 80 persen pasar gambir dunia namun diekspor sebagai bahan mentah ke India.
“Tidak ada pabriknya di Sumatera Barat, tidak ada pabriknya di Sumatera Barat. Nilainya yang kita ekspor kalau kita hilirisasi Rp 5.000 triliun,” ungkap Amran.
Pemerintah, kata Amran, telah mengirim tim ke India dan mengecek bagaimana gambir diolah menjadi produk jadi di sana.
Perusahaan di India ternyata mengolah gambir dari Indonesia dan memasok produknya ke Eropa dan Amerika Serikat.
“Dia mensuplai negara lain tapi bahan bakunya dari Indonesia. Kita dibeli paling Rp 100 triliun, Rp 200 triliun, Rp 500 triliun tapi Rp 5.000 triliun nilainya,” tutur Amran.
Sementara itu, sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar, Indonesia mengekspor 26 juta ton CPO.
Hal ini membuat Indonesia bisa mengendalikan harga CPO di pasar dunia.
Kebijakan hilirisasi dengan mengolah CPO menjadi biofuel atau bahan bakar minyak berbahan nabati membuat volume ekspor minyak sawit mentah berkurang.
Kondisi itu membuat harga CPO di pasar dunia melonjak.
Sementara hasil pengolahan CPO menjadi biosolar 50 persen substitusi dari solar (B50) membuat Indonesia tidak perlu lagi mengimpor solar.
“Itulah (hilirisasi) yang bisa menciptakan kesejahteraan. Cuma kita debatnya luar biasa terjadi di luar,” jelas Amran.
Baca juga: Asosiasi Pedagang Daging Mogok, Minta Mentan Atasi Harga Sapi Mahal
Tag: #amran #hilirisasi #kelapa #gambir #bikin #negara #cuan #15000