Bukan Sekadar Diet, Gendut Berlari Ajak Kaum Obesitas 'Pede' Berolahraga
Bagi banyak kaum obesitas, jalan raya tak jarang terasa seperti panggung penghakiman.
Niat baik untuk mulai berolahraga kerap kandas sebelum langkah pertama dimulai, hanya karena rasa malu atas tatapan sinis atau komentar miring mengenai bentuk tubuh di ruang publik.
Menjawab keresahan tersebut, sebuah gerakan bernama Gendut Berlari muncul sebagai oase.
Diinisiasi oleh Topik Sudirman (33), gerakan yang lahir di Solo pada Agustus 2025 ini mendobrak stigma lama: bahwa olahraga, khususnya lari, hanya milik mereka yang bertubuh ideal.
Ruang Aman di Atas Aspal
Topik Sudirman bukan orang asing bagi isu ini. Berangkat dari berat badan 128 kg, ia pernah berada di titik lelah melawan keterbatasan tubuhnya sendiri. Namun, alih-alih bersembunyi, ia memilih untuk muncul di jalanan.
“Gendut Berlari hadir untuk menghapus stigma bahwa lari itu hanya milik tubuh ideal. Kami menyediakan ruang aman (safe space) bagi mereka yang selama ini merasa tidak pantas hadir di dunia olahraga,” ujar Topik saat berbincang dengan Kompas.com, baru-baru ini.
Gendut Berlari justru merayakan proses yang paling sederhana. Dalam setiap kegiatannya, Topik menyediakan tim sweeper khusus yang bertugas menemani peserta yang hanya mampu berjalan kaki.
Tidak ada tuntutan jarak, tidak ada paksaan hasil, hanya ada keberanian untuk melangkah.
Melawan Stigma dengan Kejujuran
Salah satu alasan mengapa gerakan ini begitu diminati, dengan ribuan pengikut di media sosial adalah kejujurannya.
Topik tidak menjual mimpi instan atau janji manis obat pelangsing. Ia justru blak-blakan mengenai perjuangan berat di balik penurunan berat badannya yang kini mencapai 93 kg.
Ia mengakui sempat terjebak dalam tren lari karena fear of missing out (FOMO) dan perilaku "balas dendam" di meja makan setelah berolahraga. Namun, titik baliknya terjadi ketika ia berhenti memikirkan angka di timbangan dan mulai fokus pada kesehatan mentalnya.
“Jangan olahraga buat kurus. Kalau kamu olahraga buat bahagia, tapi kok tiba-tiba turun (berat badan), itu bonus. Kalau orientasinya cuma kurus dan ternyata tidak turun-turun, kamu akan sedih dan akhirnya berhenti,” jelas Topik mengenai filosofi diet "jujur" yang ia jalani.
Baca juga: Tubuh Gemuk Juga Berhak Olahraga Tanpa Ejekan, Kenali Gerakan Gendut Berlari
Berawal dari ejekan, Topik Sudirman menurunkan berat badan dari 128 kg ke 93 kg lewat lari dan diet realistis. Ini kisah perjuangannya.
"Whatever Will Be, Will Be"
Tagline "Whatever Will Be, Will Be" (Que Sera, Sera) menjadi ruh dari gerakan ini. Sebuah keyakinan bahwa apa pun hasilnya nanti, yang terpenting adalah niat dan usaha yang sedang dilakukan hari ini.
Gendut Berlari kini telah merambah ke berbagai kota seperti Sragen dan Sukoharjo. Bukan sebagai komunitas formal yang birokratis, melainkan sebagai wadah cair yang menyatukan siapa saja yang ingin bergerak.
Bahkan, gerakan ini aktif merangkul UMKM lokal seperti kedai kopi sebagai titik kumpul, memperkuat kesan bahwa lari adalah bagian dari gaya hidup urban yang inklusif.
Bagi Topik, Gendut Berlari adalah sebuah pesan bahwa obesitas bukanlah hambatan untuk tampil percaya diri.
"Banyak orang obesitas yang ingin bangun pagi tapi takut dihujat. Kami di sini untuk bilang: pakai sepatumu, keluar rumah, dan lari. Aspal ini milik kita semua," ungkapnya.
Tips Mulai Berlari untuk Pemula Obesitas menurut Pengalaman Topik
-
Mulai dari Jalan Kaki
Jangan langsung memaksa lari jika tubuh belum siap. Mulailah dengan jalan kaki secara rutin untuk membiasakan otot dan sendi menumpu beban.
-
Kombinasi Angkat Beban (Strength Training)
Selain kardio (lari), lakukan latihan beban minimal dua kali seminggu. Ini penting untuk membangun otot agar metabolisme meningkat dan kulit tidak terlalu kendur saat lemak menyusut.
-
Gunakan Sepatu yang Tepat
Jangan asal pakai sepatu lifestyle. Investasikan dana pada sepatu lari dengan bantalan (cushion) yang empuk untuk melindungi sendi lutut dari beban berat badan.
-
Pantau Detak Jantung
Gunakan jam pintar untuk memantau heart rate. Bagi penyandang obesitas, menjaga intensitas jantung jauh lebih penting daripada mengejar kecepatan.
-
Pilih Bahan Pakaian Fiber
Hindari kaos katun karena akan terasa sangat berat saat basah oleh keringat dan bisa menyebabkan lecet (blister) pada lipatan kulit.
-
Cari Kesenangan, Bukan Beban
Mulailah dengan jalan kaki cepat (power walking). Jangan memaksa lari jika tubuh belum siap; konsistensi lebih berharga daripada kecepatan.
Disclaimer
Pengalaman yang dibagikan Topik Sudirman bersifat personal dan dipengaruhi oleh kondisi fisik serta disiplin pribadinya.
Perlu diingat bahwa kondisi tubuh setiap orang berbeda. Sangat disarankan untuk tetap berkonsultasi dengan dokter atau ahli medis sebelum memulai program diet dan olahraga intensif, terutama jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu.
Tag: #bukan #sekadar #diet #gendut #berlari #ajak #kaum #obesitas #pede #berolahraga