GERD Tak Hanya Soal Lambung, Kesehatan Mental Juga Berperan
Stres kerja sering dianggap wajar hingga tak disadari. Psikolog mengingatkan, tekanan yang menumpuk bisa berujung burnout pada pekerja.(freepik)
22:36
31 Januari 2026

GERD Tak Hanya Soal Lambung, Kesehatan Mental Juga Berperan

Selama ini, gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dipahami semata sebagai gangguan lambung akibat asam lambung naik.

Padahal, menurut dokter, keluhan GERD tidak hanya dipengaruhi kondisi fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan mental, terutama stres dan kecemasan.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, mengatakan banyak pasien GERD datang dengan keluhan yang memburuk saat berada dalam tekanan emosional.

“Dari pengalaman dan penelitian yang pernah kami lakukan, sekitar 80 persen pasien GERD juga mengalami gejala kecemasan,” ujar dr. Andi dalam Siaran Sehat Kementerian Kesehatan RI, dikutip Sabtu (31/1/2026).

Stres dan GERD Saling Memengaruhi

Dr. Andi menjelaskan, hubungan antara kesehatan mental dan GERD bersifat dua arah

Stres dan kecemasan dapat memicu atau memperberat keluhan GERD, sebaliknya gejala GERD yang sering kambuh juga bisa menimbulkan kecemasan pada penderitanya.

“Kecemasan bisa muncul lebih dulu lalu diikuti GERD, atau GERD-nya yang lebih dulu lalu pasien menjadi cemas. Jalurnya tidak satu arah, tapi saling memengaruhi,” jelasnya.

Dalam kondisi stres, tubuh memproduksi hormon tertentu yang dapat memengaruhi kerja saluran cerna, termasuk produksi asam lambung dan sensitivitas kerongkongan.

Baca juga: Lula Lahfah Pernah Ungkap Alami GERD hingga Batu Ginjal, Dokter Jelaskan Risiko Komplikasi Penyakit

Peran Brain–Gut Axis

Fenomena ini dikenal dalam dunia medis sebagai brain–gut axis, yaitu hubungan kompleks antara otak, emosi, dan sistem pencernaan. Apa yang dirasakan dan dipikirkan seseorang dapat memengaruhi fungsi lambung dan usus.

“Ketika seseorang mengalami tekanan mental, fungsi saluran cerna bisa ikut terganggu. Itulah sebabnya keluhan GERD sering memburuk saat pasien mengalami stres berat atau kecemasan,” kata dr. Andi.

Karena itu, penanganan GERD idealnya tidak hanya fokus pada pemberian obat lambung, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis pasien.

Baca juga: Sering Tanpa Disadari, Dokter Sebut Berat Badan Berlebih dan Rokok Picu GERD

Ilustrasi penyakit nyeri lambung.FREEPIK Ilustrasi penyakit nyeri lambung.

Mengapa GERD Bisa Terasa Lebih Parah Saat Cemas?

Pada orang dengan kecemasan, ambang rasa nyeri cenderung lebih rendah. Artinya, rangsangan kecil yang sebelumnya tidak terasa, kini bisa dirasakan sebagai nyeri atau rasa tidak nyaman yang lebih berat.

“Esofagus menjadi lebih sensitif terhadap asam. Jadi asamnya mungkin sama, tapi rasa nyerinya terasa lebih hebat,” ujar dr. Andi.

Hal inilah yang membuat sebagian pasien merasa GERD-nya sulit membaik meski sudah minum obat secara rutin.

Penanganan Harus Menyeluruh

Menurut dr. Andi, hasil pengobatan GERD akan lebih baik jika dilakukan secara menyeluruh. Selain mengatasi keluhan fisik dengan obat dan perubahan pola makan, dokter juga perlu membantu pasien mengelola stres dan kecemasannya.

“Kita harus men-treat dua sisi sekaligus. Kalau hanya lambungnya saja yang diobati, tapi stresnya dibiarkan, hasilnya sering kali tidak optimal,” jelasnya.

Dalam beberapa kasus, pasien mungkin memerlukan pendampingan tambahan, seperti konseling psikologis atau terapi untuk membantu mengelola stres.

Baca juga: Sering Tertukar, Begini Cara Membedakan GERD dan Serangan Jantung Menurut Dokter

Peran Pola Hidup Sehat

Selain kesehatan mental, faktor gaya hidup tetap memegang peranan penting.

Berat badan berlebih, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan pola makan tidak teratur dapat memperburuk GERD sekaligus memengaruhi kondisi mental.

“Sebagian besar penyakit kronis, termasuk GERD, dipengaruhi pola hidup. Kalau gaya hidupnya diperbaiki, keluhan biasanya jauh lebih terkendali,” kata dr. Andi.

GERD bukan sekadar persoalan asam lambung naik. Kondisi ini juga berkaitan erat dengan kesehatan mental, terutama stres dan kecemasan. Karena itu, pendekatan penanganan GERD perlu dilakukan secara holistik, mencakup aspek fisik dan psikologis.

“Dengan memahami pemicunya dan memperbaiki pola hidup serta cara mengelola stres, GERD bisa dikendalikan dan kualitas hidup pasien tetap terjaga,” pesan dr. Andi.

Tag:  #gerd #hanya #soal #lambung #kesehatan #mental #juga #berperan

KOMENTAR