Sering Tertukar, Begini Cara Membedakan GERD dan Serangan Jantung Menurut Dokter
Keluhan nyeri dada kerap membuat banyak orang panik. Sensasi panas di dada, jantung berdebar, hingga rasa tidak nyaman di ulu hati sering kali langsung dikaitkan dengan penyakit jantung.
Padahal, tidak semua nyeri dada menandakan serangan jantung. Salah satu kondisi yang paling sering tertukar adalah gastroesophageal reflux disease (GERD) atau asam lambung naik.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, mengatakan kesalahpahaman ini wajar terjadi karena secara anatomi, lambung dan jantung berada di area yang berdekatan.
“Kalau dianalogikan, jantung dan lambung itu seperti tetangga yang rumahnya berdempetan. Karena dekat, keluhan dari satu organ sering terasa seperti berasal dari organ lainnya,” ujar dr. Andi dalam Siaran Sehat Kementerian Kesehatan RI.
Namun, ada beberapa tanda penting yang bisa membantu masyarakat membedakan keluhan GERD dan serangan jantung.
Baca juga: GERD Ramai Dibicarakan, Dokter Tegaskan Tak Sebabkan Kematian Mendadak
Riwayat keluhan yang mendahului
Menurut dr. Andi, GERD biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Keluhan nyeri dada akibat GERD umumnya didahului riwayat sakit maag, nyeri ulu hati, perut terasa penuh, atau sering mengalami asam lambung naik.
Sementara itu, serangan jantung lebih sering terjadi pada orang dengan faktor risiko tertentu, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
“Kalau nyeri dada muncul tiba-tiba pada seseorang dengan faktor risiko jantung, ini harus lebih diwaspadai,” jelasnya.
Baca juga: Sama-sama di Lambung, Dokter: Ini Beda Gastritis dan GERD
Sensasi nyeri yang dirasakan
Perbedaan berikutnya terletak pada karakter nyeri. Pada GERD, nyeri biasanya digambarkan sebagai sensasi panas atau terbakar di dada. Hal ini terjadi karena asam lambung mengiritasi dinding kerongkongan yang tidak tahan terhadap sifat asam.
Sebaliknya, serangan jantung umumnya menimbulkan rasa tertekan, diremas, atau seperti tertindih beban berat di dada. Nyeri ini bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, atau punggung, dan sering disertai keringat dingin serta sesak napas.
“GERD terasa terbakar, sedangkan nyeri jantung lebih ke rasa tertekan atau diremas,” kata dr. Andi.
Baca juga: Kenali Tanda yang Sering Disangka GERD Ternyata Serangan Jantung
Ilustrasi penyakit nyeri lambung.
Respons terhadap obat
Cara tubuh merespons obat juga bisa menjadi pembeda. Keluhan GERD umumnya mereda setelah mengonsumsi obat lambung, seperti antasida atau obat penekan asam.
Sebaliknya, nyeri akibat serangan jantung tidak membaik dengan obat lambung. Nyeri bisa berlangsung lebih dari 10–15 menit dan cenderung menetap.
“Kalau nyeri dada tidak berkurang dengan obat lambung dan berlangsung lama, jangan menunggu. Segera cari pertolongan medis,” tegas dr. Andi.
Baca juga: 8 Obat Alami untuk Mengatasi GERD yang Perlu Diketahui
GERD tidak menyebabkan kematian mendadak
Dokter Andi juga menegaskan bahwa GERD tidak menyebabkan kematian mendadak, meskipun sering dikaitkan dengan kabar meninggalnya seseorang yang memiliki riwayat penyakit lain.
“Kalau ada kejadian fatal, hampir pasti bukan GERD yang berdiri sendiri. Biasanya ada penyakit lain yang menyertai,” ujarnya.
Baca juga: Belajar dari Wendy Cagur, Apakah Sakit Dada Gejala GERD? Ini Ulasannya...
Kapan harus ke dokter?
Keluhan GERD ringan umumnya dapat ditangani dengan perubahan pola makan dan obat yang dijual bebas.
Namun, dr. Andi menyarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter jika nyeri dada sering kambuh, semakin berat, atau disertai gejala seperti muntah darah dan buang air besar berwarna hitam.
Sementara itu, untuk nyeri dada yang dicurigai sebagai serangan jantung, penanganan medis harus dilakukan sesegera mungkin.
“Lebih baik dianggap serius dan diperiksa, daripada terlambat,” tegasnya.
Tag: #sering #tertukar #begini #cara #membedakan #gerd #serangan #jantung #menurut #dokter