IDAI: Virus Nipah Menyerang Otak dan Paru-Paru, Risiko Kematian Tinggi
Ilustrasi sesak napas. IDAI menyebut keterlibatan otak dan paru-paru menjadi penyebab utama tingginya angka kematian virus Nipah.(Freepik)
21:06
30 Januari 2026

IDAI: Virus Nipah Menyerang Otak dan Paru-Paru, Risiko Kematian Tinggi

Virus Nipah dikenal sebagai salah satu penyakit infeksi paling mematikan dengan tingkat kematian mencapai 40 hingga 75 persen.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. Dominicus Husada, mengatakan tingginya angka kematian virus Nipah dipengaruhi oleh kombinasi gejala berat dan keterbatasan pengobatan.

“Virus ini tidak hanya menyerang satu organ, tetapi bisa langsung mengenai otak dan paru-paru,” ujar Dominicus dalam webinar “Mengenal dan Mewaspadai Nipah” Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang diikuti Kompas.com pada Kamis (29/1/2026).

IDAI menilai pemahaman tentang mekanisme penyakit penting agar masyarakat tidak meremehkan infeksi ini.

Baca juga: Belum Ada Vaksin Virus Nipah, Pakar IDAI Ungkap Perkembangan Riset Global

Kenapa virus Nipah mematikan?

Berikut adalah beberapa alasan kenapa virus Nipah mematikan.

  • Virus menyerang otak dan paru-paru

Dominicus menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama tingginya angka kematian virus Nipah adalah kemampuannya menyerang sistem saraf pusat.

Infeksi dapat berkembang menjadi radang otak atau ensefalitis yang menyebabkan penurunan kesadaran hingga kejang.

“Ketika otak sudah terlibat, kondisi pasien bisa memburuk sangat cepat,” kata Dominicus.

Selain otak, virus Nipah juga dapat menyerang sistem pernapasan dan memicu pneumonia berat yang membutuhkan bantuan pernapasan.

Baca juga: PHBS Jadi Kunci Cegah Virus Nipah, IDAI Ingatkan Warga Tetap Waspada

  • Perburukan kondisi terjadi dalam waktu singkat

Tangkapan layar webinar IDAI, Kamis (29/1/2026). IDAI menyebut keterlibatan otak dan paru-paru menjadi penyebab utama tingginya angka kematian virus Nipah.Tangkapan layar webinar IDAI Tangkapan layar webinar IDAI, Kamis (29/1/2026). IDAI menyebut keterlibatan otak dan paru-paru menjadi penyebab utama tingginya angka kematian virus Nipah.

Virus Nipah tidak selalu menunjukkan gejala berat sejak awal. Pada banyak kasus, infeksi diawali gejala ringan seperti demam dan sakit kepala sebelum memburuk secara drastis.

“Pasien bisa tampak baik-baik saja di awal, lalu dalam waktu singkat mengalami penurunan kondisi,” ujar Dominicus.

Menurutnya, perburukan yang cepat ini membuat penanganan sering terlambat dilakukan.

  • Belum ada obat dan vaksin spesifik

Faktor lain yang membuat virus Nipah mematikan adalah ketiadaan terapi spesifik. Hingga kini belum tersedia obat antivirus maupun vaksin untuk mencegah dan mengobati infeksi virus Nipah.

“Penanganan pasien masih bersifat suportif, yaitu hanya mengatasi gejala dan mempertahankan fungsi organ,” kata Dominicus.

Kondisi ini membatasi pilihan medis ketika pasien sudah mengalami komplikasi berat.

Baca juga: Anak Bisa Terinfeksi Virus Nipah, IDAI Jelaskan Risiko dan Cara Mencegahnya

  • Diagnosis tidak mudah dilakukan

Dominicus menyebutkan bahwa diagnosis virus Nipah memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus. Pada fase awal, penyakit ini sulit dibedakan dari infeksi virus lain karena gejalanya tidak khas.

“Untuk memastikan Nipah dibutuhkan pemeriksaan PCR, dan tidak semua fasilitas kesehatan bisa melakukannya,” ujarnya.

Keterbatasan diagnosis turut berkontribusi terhadap tingginya risiko kematian.

Baca juga: Virus Nipah Jadi Sorotan Global, IDAI Tegaskan Indonesia Masih Nol Kasus Manusia

  • Kelompok rentan mengalami risiko lebih besar

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K), menambahkan bahwa kondisi pasien turut memengaruhi tingkat keparahan penyakit.

“Orang dengan penyakit penyerta atau daya tahan tubuh rendah berisiko mengalami kondisi yang lebih berat,” ujar Piprim dalam webinar yang sama.

Meski lebih banyak menyerang usia dewasa produktif, anak-anak dan lansia tetap memiliki risiko jika terinfeksi.

IDAI ingatkan jangan meremehkan gejala awal

IDAI menegaskan bahwa tingginya angka kematian virus Nipah menjadi alasan penting untuk tidak mengabaikan gejala awal. Kewaspadaan dini dinilai krusial agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Semakin cepat dikenali, peluang penanganan akan lebih baik,” kata Dominicus.

Tag:  #idai #virus #nipah #menyerang #otak #paru #paru #risiko #kematian #tinggi

KOMENTAR