Sering Tanpa Disadari, Dokter Sebut Berat Badan Berlebih dan Rokok Picu GERD
Keluhan asam lambung naik atau gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dianggap sepele. Banyak orang mengira penyebabnya hanya telat makan atau salah memilih makanan.
Padahal, tanpa disadari, berat badan berlebih dan kebiasaan merokok menjadi pemicu utama GERD yang sering diabaikan.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, mengatakan meningkatnya kasus GERD erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup masyarakat modern.
“Sekitar 80–90 persen faktor risiko GERD berasal dari pola hidup. Salah satu yang paling besar kontribusinya adalah kelebihan berat badan,” ujar dr. Andi dalam Siaran Sehat Kementerian Kesehatan RI, dikutip Kompas.com, Sabtu (31/1/2026).
Baca juga: Sering Tertukar, Begini Cara Membedakan GERD dan Serangan Jantung Menurut Dokter
Ilustrasi penyakit nyeri lambung.
Kelebihan Berat Badan dan Tekanan di Lambung
Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan tekanan di rongga perut. Kondisi ini membuat katup pemisah antara lambung dan kerongkongan, yang disebut lower esophageal sphincter (LES), menjadi lebih mudah melemah.
“Kalau berat badan berlebih, tekanan di lambung meningkat. Katupnya jadi tidak menutup sempurna, sehingga asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan,” jelas dr. Andi.
Akibatnya, penderita bisa merasakan sensasi panas di dada, nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, hingga mual. Risiko ini semakin besar jika kelebihan berat badan disertai kebiasaan makan dalam porsi besar sekaligus.
Baca juga: 3 Penyebab GERD saat Puasa Kambuh dan Tips untuk Penderita
Rokok dan Alkohol Memperparah GERD
Selain berat badan, rokok dan alkohol juga berperan besar dalam memperburuk GERD. Menurut dr. Andi, zat dalam rokok dapat merusak keutuhan katup lambung dan membuat dinding kerongkongan lebih sensitif terhadap asam.
“Rokok dan alkohol itu tidak hanya melemahkan katup, tapi juga membuat jaringan esofagus lebih peka. Jadi rasa nyerinya lebih cepat muncul dan lebih berat,” katanya.
Tak hanya perokok aktif, perokok pasif juga berisiko mengalami keluhan serupa jika sering terpapar asap rokok.
Pola Hidup Modern dan Risiko GERD
Dr. Andi menjelaskan, negara-negara dengan angka obesitas tinggi, seperti Amerika Serikat dan negara Eropa, memiliki prevalensi GERD yang lebih besar, yakni mencapai 20–30 persen. Sementara di Indonesia, sekitar 10 persen penduduk diperkirakan mengalami gejala GERD.
“Pola hidup sedentari, konsumsi junk food, dan kebiasaan merokok membuat angka GERD terus meningkat,” ujarnya.
Stres Ikut Berperan
Tak hanya faktor fisik, kondisi psikologis juga berpengaruh. Banyak pasien GERD mengalami kecemasan atau stres yang dapat memperberat keluhan. Hubungan ini dikenal sebagai brain–gut axis, yaitu keterkaitan antara pikiran, emosi, dan sistem pencernaan.
“Kalau stresnya tidak dikelola, gejala GERD bisa semakin sering kambuh,” kata dr. Andi.
Baca juga: Lula Lahfah Pernah Ungkap Alami GERD hingga Batu Ginjal, Dokter Jelaskan Risiko Komplikasi Penyakit
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Untuk menurunkan risiko GERD, dr. Andi menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta mengatur pola makan dengan porsi kecil namun lebih sering.
Selain itu, hindari langsung berbaring setelah makan dan upayakan jeda sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur.
“GERD bukan penyakit yang muncul tiba-tiba. Dengan memperbaiki pola hidup, keluhan ini bisa dicegah dan dikendalikan,” ujar dr. Andi.
Tag: #sering #tanpa #disadari #dokter #sebut #berat #badan #berlebih #rokok #picu #gerd