Dari Film Materialists, Begini Trauma Masa Lalu Membentuk Standar Perempuan Memilih Pasangan
Poster film Materialists yang diperankan Dakota Johnson, Chris Evans, dan Pedro Pascal.(Instagram.com/materialists)
15:35
9 Januari 2026

Dari Film Materialists, Begini Trauma Masa Lalu Membentuk Standar Perempuan Memilih Pasangan

– Tokoh Lucy dalam film ‘Materialists’ digambarkan sebagai perempuan yang menjadikan kekayaan sebagai standar utama dalam memilih pasangan. 

Ia bahkan memutuskan hubungannya dengan John, pria yang ia cintai, karena John tidak mampu memberikan stabilitas finansial. 

Keputusan tersebut rupanya tidak lepas dari latar belakang Lucy yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan dan penuh perjuangan.

Pengalaman hidup seperti ini, menurut psikolog, bukan sekadar latar cerita fiktif, tetapi kerap terjadi dalam kehidupan nyata. 

Pengalaman masa kecil dan trauma dalam relasi dapat membentuk cara seseorang memandang keamanan, cinta, dan standar pasangan hidup.

Konsep tabula rasa dan rekaman pengalaman hidup

Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., PsikologDok. Pribadi Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog

Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa dalam psikologi terdapat konsep tabula rasa yang menggambarkan bagaimana pengalaman hidup sejak kecil membentuk cara berpikir seseorang.

“Dalam psikologi ada konsep namanya tabula rasa. Ketika kecil, kita itu seperti satu lembar kertas putih kosong yang siap diisi oleh pengalaman-pengalaman hidup yang kita miliki dari waktu ke waktu,” jelas Winona saat diwawancarai Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Pengalaman tersebut tidak selalu berupa peristiwa yang dialami secara langsung. Hal-hal yang disaksikan dan dirasakan di lingkungan sekitar juga meninggalkan jejak psikologis.

“Misalnya, sejak kecil melihat bahwa orang dewasa di sekitar kita itu berkonflik soal ketidakstabilan finansial, maka kita belajar bahwa hal tersebut membuat kita merasa tidak aman,” ujarnya.

Belajar dari apa yang dilihat, bukan dialami langsung

Winona menekankan, anak dapat merekam konflik dan ketegangan yang terjadi di sekitarnya, meskipun tidak terlibat secara langsung.

“Meskipun pada saat itu bukan kita yang secara langsung berkonflik, tapi kita melihat dan merekam kejadiannya di kertas kosong itu,” kata Winona.

Rekaman pengalaman tersebut tersimpan dan membentuk pola pikir tentang apa yang dianggap aman atau berisiko dalam hidup. 

Dalam konteks ini, ketidakstabilan finansial dapat tertanam sebagai sumber ancaman yang perlu dihindari di masa depan.

Dari rasa tidak aman menuju standar relasi

Seiring waktu, pengalaman yang tidak teregulasi dapat memengaruhi cara seseorang menentukan standar dalam hubungan.

“Seiring berjalannya waktu, kalau kita tidak punya kesempatan untuk meregulasinya, bisa jadi kita tumbuh menjadi orang yang tanda kutip materialis,” ujar Winona.

Namun, Winona menegaskan bahwa sikap tersebut bukan berangkat dari keserakahan semata.

Anak belajar bahwa ketidakamanan secara finansial, membuat kehidupan jangka panjang dengan pasangan tidak harmonis.

“Otak itu tidak mau pengalaman yang kurang menyenangkan itu terjadi lagi, sehingga arahnya bisa jadi ke materialis,” jelasnya.

Standar yang tampak materialistis bisa menjadi mekanisme perlindungan diri agar pengalaman buruk tidak terulang.

Pengaruh trauma relasi terhadap standar pasangan

Psikolog Klinis dari Bali, Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., PsikologDok. Pribadi Psikolog Klinis dari Bali, Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog

Pandangan Winona diperkuat oleh Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog. Menurut Ayu, pengalaman masa kecil dan relasi sebelumnya memiliki pengaruh besar dalam pembentukan standar hubungan seseorang.

“Individu yang dulunya mungkin tumbuh dalam kondisi yang kurang stabil, misalnya baik secara ekonomi maupun emosional, atau yang dulu pernah berada dalam hubungan yang tidak aman,” ujar Ayu saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Pengalaman tersebut dapat menciptakan kebutuhan kuat untuk melindungi diri di hubungan berikutnya.

Ia menjelaskan, standar relasi yang tinggi sering kali muncul sebagai respons terhadap pengalaman tidak aman di masa lalu.

“Hal-hal ini bisa cenderung membentuk standar tertentu sebagai cara mereka menjaga diri. Standar ini biasanya merupakan upaya untuk menciptakan rasa aman yang sebelumnya itu belum terpenuhi atau kurang terpenuhi,” kata Ayu.

Dalam konteks ini, standar bukan sekadar daftar kriteria ideal, melainkan strategi psikologis untuk menghindari luka yang sama.

Belajar dari kisah Lucy

Kisah Lucy dalam Materialists mencerminkan bagaimana latar belakang keluarga dan pengalaman hidup dapat membentuk pilihan pasangan. 

Keputusannya mengakhiri hubungan dengan John bukan semata karena kurang cinta, tetapi karena ketidakmampuan hubungan tersebut memberikan rasa aman yang ia butuhkan.

Baik Winona maupun Ayu sepakat bahwa memahami konteks pengalaman masa lalu sangat penting sebelum menilai standar seseorang dalam memilih pasangan. 

Apa yang tampak sebagai sikap materialistis bisa jadi berakar dari pengalaman tidak aman yang belum sepenuhnya pulih.

Melalui sudut pandang psikologis ini, publik diajak untuk lebih berempati dan memahami bahwa standar relasi perempuan sering kali lahir dari upaya bertahan hidup dan menciptakan masa depan yang lebih aman.

Tag:  #dari #film #materialists #begini #trauma #masa #lalu #membentuk #standar #perempuan #memilih #pasangan

KOMENTAR