Bagi Industri Semikonduktor Taiwan, Trump dan Harris Sama-sama Bawa Risiko
Kamala Harris dan Donald Trump. Tak sedikit negara yang menantikan siapa yang memenangkan pemilu AS 2024 dan memimpin pemerintahan selama empat tahun ke depan. Terlebih, Taiwan. 
13:40
29 Oktober 2024

Bagi Industri Semikonduktor Taiwan, Trump dan Harris Sama-sama Bawa Risiko

Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) tinggal menghitung hari.

Pada Selasa, 5 November 2024, Calon Presiden (Capres) dari Partai Republik Donald Trump dan Capres dari Partai Demokrat Kamala Harris akan berebut Gedung Putih.

Tak sedikit negara yang menantikan siapa yang memenangkan pemilu AS 2024 dan memimpin pemerintahan selama empat tahun ke depan. Terlebih, Taiwan.

Industri semikonduktor adalah salah satu sektor paling penting dalam ekonomi global. Sementara hubungan antara Amerika Serikat dan Taiwan di bidang ini sangat signifikan.

Bagi industri semikonduktor Taiwan, Trump dan Harris sama-sama membawa risiko.

Para insinyur yang bekerja di industri semikonduktor Taiwan mengatakan, beberapa tahun terakhir merupakan masa yang sulit, lapor Al Jazeera.

Upaya AS untuk mengekang pertumbuhan kekuatan China dengan memutus aksesnya ke chip paling canggih telah menempatkan sektor chip pulau itu pada sasaran persaingan geopolitik paling penting di dunia.

Bagi Taiwan, persaingan AS-Tiongkok untuk mendominasi merupakan pedang bermata dua.


Di satu sisi, upaya AS untuk menahan pertumbuhan kekuatan dan pengaruh China berfungsi sebagai penangkal risiko kemungkinan invasi China di masa mendatang ke pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu, yang dianggap Beijing sebagai wilayahnya.

Di sisi lain, hal ini membuat bisnis menjadi lebih rumit bagi produsen semikonduktor dan peralatan di Taiwan, yang menjual sebagian besar "teknologi penting" tersebut ke Tiongkok.

Meskipun ukurannya kecil, Taiwan memproduksi hampir 60 persen pasokan chip semikonduktor dunia dan hampir 90 persen chip tercanggih yang dibutuhkan untuk memberi daya pada semuanya, mulai dari telepon pintar hingga kecerdasan buatan.

Sejak Presiden AS Joe Biden menandatangani Undang-Undang Chips and Science pada tahun 2022, yang memberi insentif pada produksi chip di AS sekaligus membatasi transfer teknologi ke China, sektor semikonduktor Taiwan harus beradaptasi dengan lingkungan regulasi yang berubah.

Banyak perusahaan telah mengalihkan fokus bisnis mereka dari China, mendiversifikasi produksi ke AS dan Asia Tenggara.

Untuk sebagian anggota industri, ada perasaan terguncang.

"Ada arah yang jelas. (AS) ingin bersaing dan membatasi pengembangan Tiongkok," kata seorang insinyur Taiwan di perusahaan pembuat chip multinasional Eropa kepada Al Jazeera.

"Namun, kebijakannya tidak pernah konsisten, kebijakannya dinamis,"

"Kami kesulitan untuk mencari tahu apa kebijakan kami (terhadap) bisnis China dalam situasi seperti ini karena aturan berubah dengan cepat,"

"Hari ini seperti ini, besok seperti itu," kata teknisi tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan profesional.

Setelah pergolakan selama dua tahun terakhir, pergolakan lebih besar mungkin akan terjadi saat AS menyelenggarakan pemilihan presiden pada tanggal 5 November.

Pandangan analis

Apakah Wakil Presiden Kamala Harris atau mantan Presiden Donald Trump yang terpilih sebagai Presiden AS berikutnya, para analis secara luas mengantisipasi pembatasan baru pada teknologi China, dengan dampak lanjutan bagi industri chip Taiwan.

Meskipun Harris dan Trump memiliki perbedaan besar dalam masalah dalam negeri, sentimen anti-Tiongkok semakin mencerminkan konsensus di antara Demokrat dan Republik.

Selama masa jabatannya sebagai presiden, Trump melancarkan perang dagang dengan Beijing, mengenakan tarif pada barang-barang Tiongkok senilai sekitar $380 miliar, menurut analisis oleh Tax Foundation.

Analis senior di Economist Intelligence Unit, Chim Lee menyebut perkembangan keseluruhan di bawah kedua presidensi tidak terlalu buruk.

Namun dampak yang ditimbulkannya akan sedikit lebih tidak stabil di bawah Trump.

"Terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan pada bulan November, reindustrialisasi, dan peningkatan sektor manufaktur AS adalah prioritas. Mereka berdua mempertimbangkan langkah-langkah proteksionis," kata Lee kepada Al Jazeera.

Perbedaan utamanya, imbuh Lee, adalah Harris akan lebih konsultatif, sementara Trump akan lebih tidak stabil.

Jajak pendapat

Di Taiwan, jajak pendapat menunjukkan preferensi publik terhadap kemenangan Harris, selain sejumlah besar ambivalensi.

Dalam survei yang dilakukan oleh stasiun TVBS Taiwan pada bulan Juli dan Agustus, 46 persen responden menyatakan preferensi untuk kemenangan Harris, dibandingkan dengan 15 persen yang mendukung Trump. Khususnya, 39 persen mengatakan mereka belum menentukan pilihan.

Selama masa kampanye, Trump menuduh Taiwan telah 'mencuri' industri chip dari AS beberapa dekade lalu.

Trump juga menyerukan tarif sebesar 60 persen pada semua barang China, sebuah langkah yang akan meneruskan biaya kepada banyak pemasok Taiwan yang berbisnis dengan China.

Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal yang diterbitkan pada hari Sabtu (26/10/2024), politisi Republik tersebut mengatakan bahwa ia tidak perlu menggunakan kekuatan militer untuk mematahkan blokade terhadap Taiwan karena Presiden Tiongkok Xi Jinping "menghormati saya dan ia tahu saya gila".

Ia juga mengatakan akan mengenakan tarif yang lebih tinggi sebesar 150-200 persen terhadap barang-barang China jika Beijing benar-benar melakukan invasi.

(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

Editor: Sri Juliati

Tag:  #bagi #industri #semikonduktor #taiwan #trump #harris #sama #sama #bawa #risiko

KOMENTAR