Bagi Pejabat Iran, Menerima Tuntutan AS Lebih Bahaya daripada Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) saat KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025, dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kanan) di Teheran pada 24 Agustus 2025.(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)
10:36
26 Februari 2026

Bagi Pejabat Iran, Menerima Tuntutan AS Lebih Bahaya daripada Perang

- Hingga saat ini, Iran tetap bergeming dan menolak menyerah pada tuntutan Presiden Donald Trump, meski wilayahnya kini tengah dikepung oleh armada militer AS.

Sikap ini sempat memicu kebingungan di kalangan pejabat AS, termasuk Donald Trump sendiri. 

Bagi para pemimpin Iran, memberikan konsesi atau kompromi justru dipandang sebagai ancaman yang lebih besar ketimbang risiko perang.

Sejumlah pakar menilai adanya kesenjangan persepsi yang berbahaya antara Iran dan AS. 

Baca juga: Hizbullah Tak Akan Ikut Campur jika AS Serang Iran, tapi...

Hal inilah yang menyebabkan upaya negosiasi mengenai kemampuan nuklir dan militer Iran kian rapuh, sehingga konflik regional baru tampak sulit untuk dihindari.

“Menghindari perang memang merupakan prioritas utama, tetapi bukan dengan segala cara,” kata Sasan Karimi, seorang ilmuwan politik di Universitas Teheran yang menjabat sebagai wakil presiden bidang strategi di pemerintahan Iran sebelumnya, dikutip dari New York Times, Senin (23/2/2026). 

“Terkadang, sebuah negara politik, terutama negara ideologis, mungkin mempertimbangkan posisinya dalam sejarah sama pentingnya, atau bahkan lebih penting, daripada kelangsungan hidupnya sendiri,” lanjutnya.

Baca juga: Butuh Informasi soal Teheran, CIA Minta Warga Iran Bantu AS

Garis merah yang belum disepakati

Para negosiator AS dan Iran sedang berjuang untuk mengatasi kebuntuan terkait garis merah masing-masing.

Pemerintahan Trump bersikeras agar Iran menghentikan total pengayaan nuklir guna memastikan tidak ada pengembangan senjata nuklir.

Selain itu, AS menuntut pembatasan jangkauan rudal balistik serta penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok milisi di kawasan Timur Tengah.

Sebaliknya, bagi Iran, pengayaan nuklir adalah hak kedaulatan yang dijunjung tinggi oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

Iran juga memandang kepemilikan rudal sebagai instrumen vital untuk pertahanan diri. 

Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Jenewa hari ini, Kamis (26/2/2026) untuk melakukan pembicaraan yang dianggap sebagai upaya terakhir menemukan kesepakatan, sebelum Presiden Trump memerintahkan serangan. 

Baca juga: Dilema Warga Iran, Bebas dari Rezim atau Jatuh ke Perang Saudara?

Persepsi kelemahan dan strategi perlawanan

Drone Iran yang baru, Shahed 136-B, saat dipamerkan dalam parade militer tahunan yang memeringati perang melawan Saddam Hussein dari Irak, di Teheran pada 21 September 2024.AFP/ATTA KENARE Drone Iran yang baru, Shahed 136-B, saat dipamerkan dalam parade militer tahunan yang memeringati perang melawan Saddam Hussein dari Irak, di Teheran pada 21 September 2024.

Direktur Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez menyebut bahwa Teheran percaya tunduk pada syarat AS hanya akan menunjukkan titik lemah mereka.

“Bagi Iran, tunduk pada persyaratan AS lebih berbahaya daripada menderita serangan AS lainnya. Mereka tidak percaya bahwa setelah menyerah, AS akan mengurangi tekanan,” kata Vaez.

Ayatollah Khamenei berulang kali menegaskan pandangannya bahwa tujuan akhir Washington bukanlah soal nuklir, melainkan penggulingan sistem pemerintahan Republik Islam Iran secara keseluruhan.

Menghadapi potensi konfrontasi, Teheran kemungkinan akan mencoba menyerap serangan terbatas dan membalas secara terukur ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, sebagaimana yang terjadi pada Juni lalu.

Baca juga: Trump Siapkan 2 Tahap Serang Iran, Khamenei Bukan Target Pertama

Namun, jika Trump memilih eskalasi besar-besaran, pasukan AS dan Israel harus bergerak cepat melumpuhkan kemampuan militer Iran dalam hitungan hari guna mencegah balasan yang lebih ganas.

Para analis juga memprediksi Iran bisa saja meniru taktik milisi Houthi dengan menciptakan konfrontasi jangka panjang yang melelahkan.

Langkah strategis seperti gangguan terhadap jalur pengapalan minyak di Selat Hormuz diperkirakan dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, sebuah risiko besar bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu mendatang.

Meski AS dan Israel mampu memberikan pukulan telak, Teheran dilaporkan telah menyiapkan sistem kepemimpinan berlapis untuk memastikan pemerintahan tetap berjalan, bahkan jika para pemimpin puncaknya tidak selamat dalam konflik.

“Menganggap bahwa setiap perang akan membuat Iran lebih fleksibel hanyalah sebuah khayalan,” pungkas Vaez.

Tag:  #bagi #pejabat #iran #menerima #tuntutan #lebih #bahaya #daripada #perang

KOMENTAR