Biaya Hidup Naik Saat Ramadan, Siasat Atur Keuangan Biar Nggak Boncos
- Kenaikan biaya hidup sekitar 20 persen selama Ramadan disebabkan meningkatnya harga pangan dan biaya sosial Lebaran.
- Financial planner menyarankan pemisahan anggaran rutin bulanan dan anggaran khusus Ramadan untuk mengontrol pengeluaran.
- Strategi penting mencakup tidak tergoda belanja dini menggunakan paylater dan menyisihkan sebagian dana Tunjangan Hari Raya (THR).
Memasuki bulan ramadan seluruh kebutuhan pasti meningkat. Mulai dari konsumsi hingga belanja yang tidak terkontrol selama bulan suci bagi umat Islam ini.
Padahal, pada momen yang dinanti ini harusnya semua umat muslim menahan segala nafsu baik makan maupun belanja.
Imbasnya, pengeluaran akan membengkak, bahkan bisa membuat boncos tabungan. Maka dari itu, perlu siasat agar kebutuhan di ramadan terpenuhi, tapi keuangan bisa terkontrol.
Banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk menyusun strategi keuangan agar isi dompet tidak terkuras banyak. Masyarakat bisa memulai dengan susun pos-pos pengeluaran wajib selama ramadan.
Apa Saja Beban Biaya yang Naik
Financial Planner, Aidil Akbar, mengatakan pada momen ramadan ini ada kenaikan biaya hidup sebesar 20 persen. Kenaikan ini imbas dari harga-harga pangan juga meningkat.
"Selanjutnya, biaya buka bersama, ini biaya yang nggak kalah boros. Saya lihat buka bersama ini kan sebagai ajang silahturahmi," katanya.
Kemudian, Aidil melanjutkan, biaya belanja lebaran juga satu beban pos selama ramadan. Menurutnya, beban pos satu merupakan salah satu biaya sosial mulai dari pakaian baru hingga kue-kue hadapi hari raya Lebaran
"Lalu, Biaya Oleh-oleh Lebaran, biasanya untuk anak-anak, keponakan seperti salam tempel. Ini perlu disesuaikan, jangan dipukul rata Rp 50 Ribu atau Rp 100 Ribuan. Dan bisa ajarkan mereka untuk bisa menabung," bebernya.
Terakhir, pengeluaranya yang pasti dikeluarkan yaitu Mudik. Pulang ke kampung halaman merupakan tradisi masyarakat untuk berlebaran. Sehingga, pastinya masyarakat menyisihkan dananya untuk bela-belain berlebaran di rumah masa kecilnya, bersama keluarga tercinta.
PerbesarKenaikan biaya hidup sekitar 20 persen selama Ramadan disebabkan meningkatnya harga pangan dan biaya sosial Lebaran. [Suara.com/Aldie]Siasat Kelola Keuangan
Agar semua kebutuhan wajib itu terpenuhi, masyarakat pentingnya menyusun anggaran rutin bulanan dan anggaran saat ramadan. Financial Planner, Mike Rini, mengingatkan siasat Pertama yaitu memang pemisahan anggaran rutin bulanan dan ramadan itu sangat vital.
Sebab, kesalahan paling umum adalah mencampur kedua sumber dana tersebut.
"Karena secara hitung-hitungan pengeluaran hari raya itu, karena sifatnya juga besar, Nah itu akan sulit kita sumber dana ini dari gaji, nah makanya kita menggunakan dana Tunjangan Hari Raya (THR) itu. Nah kalau dari pengalaman saya, biasanya saya pisahkan nih. Untuk pengeluaran rutin bulanan, ya saya menggunakan, ya udah seperti biasanya aja berjalan kayak biasanya," kata Mike.
Kedua, Mike juga mewanti-wanti agar masyarakat tidak tergoda berbelanja lebih dulu hanya karena merasa akan menerima THR. Apalagi, kebiasaan menggunakan paylater untuk jajan atau buka bersama dengan asumsi nanti akan dilunasi dari THR.
Ketiga, Ia merekomendasikan agar THR tidak dihabiskan. Sebenarnya, sah-sah saja THR itu digunakan sepenuhnya, karena memang untuk hari raya. akan tetapi alangkah baiknya bila THR ini disisihkan untuk menabung.
"Terakhir, anggaran mudik sama kalau kita melakukan perjalanan. Tapi, besar kecilnya anggaran akan tergantung jarak, lama tinggal, serta jumlah anggota keluarga yang ikut," pungkasnya.
Tag: #biaya #hidup #naik #saat #ramadan #siasat #atur #keuangan #biar #nggak #boncos