Zelensky Merasa Ditekan Trump untuk Damai dengan Rusia, Bahas Konsesi Terus
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berharap perundingan damai dengan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat (AS) dapat kembali digelar pekan ini.
Harapan itu ia sampaikan di tengah peringatan bahwa Kyiv terlalu sering diminta membuat konsesi, sedangkan jaminan keamanan yang jelas belum diberikan kepada negaranya.
Pernyataan tersebut disampaikan Zelensky dalam Konferensi Keamanan Munich tahunan pada Sabtu (14/2/2026), saat Presiden AS Donald Trump berupaya menengahi kesepakatan untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945 tersebut.
Baca juga: Tolak Ukraina Gabung Uni Eropa, PM Negara NATO Ini Sebut Kyiv Musuh
Ketiga pihak dijadwalkan kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026).
Dalam pidatonya, Zelensky berharap pembicaraan trilateral di Jenewa berlangsung serius, substantif, dan bermanfaat bagi semua pihak.
“Tapi jujur saja, terkadang rasanya kedua pihak membicarakan hal-hal yang sama sekali berbeda,” kata Zelensky, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (15/2/2026).
Ia menilai Washington terlalu sering kembali membahas isu konsesi, dan pembahasan itu lebih banyak diarahkan kepada Ukraina dibandingkan Rusia.
“AS sering kembali membahas topik konsesi, dan terlalu sering konsesi itu hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia,” ujarnya.
Zelensky juga menyoroti minimnya keterlibatan negara-negara Eropa dalam proses negosiasi.
Menurut dia, peluang mengakhiri perang akan lebih besar apabila Eropa memiliki kursi di meja perundingan, meskipun gagasan itu ditentang Moskwa.
“Eropa praktis tidak hadir di meja perundingan. Menurut saya, itu adalah kesalahan besar. Ukraina terus kembali pada satu poin sederhana,” katanya.
“Perdamaian hanya dapat dibangun di atas jaminan keamanan yang jelas. Di mana tidak ada sistem keamanan yang jelas, perang akan selalu kembali,” lanjut Zelensky.
Isu kontroversial
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) berjabat tangan dalam konferensi pers tentang negosiasi damai perang Rusia-Ukraina di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, Kota Anchorage, Negara Bagian Alaska, AS, 15 Agustus 2025.Salah satu isu paling kontroversial dalam negosiasi adalah tuntutan Rusia agar pasukan Ukraina ditarik sepenuhnya dari wilayah Donetsk di Ukraina timur yang masih dikuasai Kyiv.
Ukraina menolak penarikan sepihak tersebut, dan menuntut jaminan keamanan dari Barat guna mencegah Rusia kembali melancarkan invasi apabila gencatan senjata tercapai.
Kepada wartawan, Zelensky mengungkapkan bahwa AS mengusulkan jaminan keamanan selama 15 tahun setelah perang berakhir.
Akan tetapi, Ukraina menginginkan kesepakatan yang berlaku selama 20 tahun atau lebih.
Menurut Zelensky, Presiden Rusia Vladimir Putin menentang pengerahan pasukan asing di Ukraina karena hal itu dinilai dapat menghalangi agresi Rusia di masa mendatang.
Ia juga menegaskan bahwa Rusia harus menerima misi pemantauan gencatan senjata serta pertukaran tawanan perang.
Zelensky memperkirakan, Rusia saat ini menahan sekitar 7.000 tentara Ukraina, sementara Kyiv menahan lebih dari 4.000 personel Rusia.
Ia mengaku merasakan sedikit tekanan dari Trump yang mendesaknya agar tidak melewatkan “kesempatan” untuk berdamai dan segera bertindak.
Baca juga: Atlet Ukraina Didiskualifikasi Olimpiade gara-gara Helm, Publik Marah Besar
Kombinasi foto Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri), Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah), dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan).Di sisi lain, Zelensky menyerukan langkah yang lebih besar dari sekutu Ukraina untuk menekan Rusia agar bersedia berdamai.
Langkah tersebut, menurut dia, dapat berupa sanksi yang lebih keras maupun peningkatan pasokan senjata.
Zelensky menilai Trump memiliki kekuasaan untuk memaksa Putin menyatakan gencatan senjata.
Bagi Ukraina, gencatan senjata diperlukan sebagai dasar untuk menggelar referendum mengenai kesepakatan damai apa pun, yang akan dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan nasional.
Zelensky juga mengaku terkejut atas keputusan Rusia mengubah susunan delegasi dalam perundingan Jenewa.
Menurut dia, perubahan tersebut mengindikasikan bahwa Moskwa ingin menunda tercapainya kesepakatan.
Kremlin menyatakan bahwa delegasi Rusia akan dipimpin penasihat Putin, Vladimir Medinsky, menggantikan kepala intelijen militer Igor Kostyukov yang memimpin negosiasi di Abu Dhabi sebelumnya.
Sejumlah pejabat Ukraina mengkritik penanganan Medinsky dalam pembicaraan terdahulu. dan menuduhnya lebih banyak memberikan pelajaran sejarah kepada tim Ukraina ketimbang terlibat dalam negosiasi yang konstruktif.
Baca juga: Penembak Jenderal Rusia Ditangkap di Dubai, Bukan Orang Ukraina
Sumber: Kompas.com/Ahmad Naufal Dzulfaroh
Tag: #zelensky #merasa #ditekan #trump #untuk #damai #dengan #rusia #bahas #konsesi #terus