Ancaman ''Crypto Winter'', Harga Bitcoin Diprediksi Turun ke 40.000 Dollar AS
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini.(UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN)
13:52
16 Februari 2026

Ancaman ''Crypto Winter'', Harga Bitcoin Diprediksi Turun ke 40.000 Dollar AS

Bitcoin (BTC) kembali memasuki fase volatilitas tinggi setelah reli besar yang mendorong harganya melampaui 120.000 dollar AS pada 2025.

Dalam beberapa bulan terakhir, aset kripto terbesar di dunia itu mengalami penurunan tajam dan memicu peringatan baru dari sejumlah analis tentang potensi berlanjutnya tren bearish atau yang dikenal sebagai crypto winter.

Dikutip dari Business Insider, Senin (16/2/2026), chief strategist Zacks Investment Research John Blank memperkirakan harga bitcoin berpotensi turun hingga ke level 40.000 dollar AS dalam enam hingga delapan bulan ke depan.

Baca juga: Menkeu AS Prediksi Regulasi Kripto Segera Terbit, Pengaruh ke Harga Bitcoin?

Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level 70.000 dollar AS pada Jumat (6/2/2026), setelah sebelumnya sempat jatuh tajam ke 61.000 dollar ASWIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin (BTC) kembali menguat ke level 70.000 dollar AS pada Jumat (6/2/2026), setelah sebelumnya sempat jatuh tajam ke 61.000 dollar AS

Prediksi ini seiring melemahnya permintaan, menurunnya likuiditas pasar, dan potensi tekanan jual dari pemegang institusional besar. 

Perkiraan tersebut mencerminkan kemungkinan koreksi yang signifikan dari level puncak bitcoin sebelumnya, sekaligus menegaskan volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto, bahkan ketika aset digital ini semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global.

Bitcoin masuk bear market setelah penurunan tajam

Bitcoin secara resmi memasuki bear market setelah mengalami penurunan tajam dari level tertinggi sekitar 126.000 dollar AS.

Pada awal Februari 2026, harga bitcoin telah turun hampir 37 persen dari puncaknya, menandai fase koreksi besar setelah reli panjang. 

Baca juga: Pasar Kripto Memerah, Bitcoin Turun ke Level 68.802 Dollar AS

Blank menjelaskan, estimasi penurunan harga BTC hingga 40.000 dollar AS didasarkan pada pola pergerakan harga bitcoin sebelumnya dan siklus pasar yang berulang.

“Jadi, dari harga puncak 125.000 dollar AS menjadi 76.000 dollar AS, kita bisa mencapai 40.000 dollar AS,” kata Blank, merujuk pada kemungkinan lanjutan tren bearish yang mengikuti penurunan dari puncak harga sebelumnya. 

Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.  UNSPLASH/KANCHANARA Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.

Ia menambahkan, risiko penurunan ini berkaitan erat dengan karakteristik historis siklus pasar bitcoin, yang sering mengalami periode koreksi panjang setelah fase kenaikan signifikan.

Penurunan ini juga terjadi dalam konteks perubahan sentimen investor yang lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Ketika investor beralih ke pendekatan risk-off, aset seperti bitcoin cenderung mengalami tekanan jual yang lebih besar.

Baca juga: Elon Musk Gaungkan Lagi Dogecoin ke Bulan saat Harga Bitcoin Tertekan

Siklus crypto winter bisa bertahan lebih dari setahun

Salah satu faktor utama yang mendasari prediksi penurunan harga bitcoin adalah karakteristik historis dari crypto winter, yaitu periode panjang ketika harga aset kripto mengalami penurunan atau stagnasi signifikan.

Blank mengatakan, secara historis, periode crypto winter biasanya berlangsung antara 12 hingga 18 bulan.

“Secara umum, bitcoin winter berlangsung selama 12 hingga 18 bulan,” ujar Blank.

Dengan mempertimbangkan durasi tersebut, ia menilai bahwa fase bearish saat ini kemungkinan masih berada pada tahap awal, sehingga tekanan penurunan harga dapat berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Harga Bitcoin Rebound ke 69.786 Dollar AS, Naik 1,25 Persen

Data historis juga menunjukkan bahwa bitcoin telah mengalami beberapa siklus penurunan besar sejak diluncurkan.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, harga bitcoin turun secara signifikan sebelum akhirnya pulih kembali dalam siklus berikutnya.

Menurut analis Ned Davis Research, dalam skenario crypto winter penuh, bitcoin bahkan berpotensi turun hingga 31.000 dollar AS. Mereka mencatat bahwa bitcoin telah turun sekitar 44 persen dari puncaknya dan berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut jika tekanan pasar berlanjut. 

Dalam analisis tersebut, para peneliti juga mencatat secara historis bitcoin mengalami rata-rata penurunan sekitar 84 persen dari puncaknya selama crypto winter, dengan durasi rata-rata sekitar 225 hari.

Ilustrasi bitcoin.UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.

Baca juga: Pasar Kripto Bergejolak, Harga Bitcoin Terkoreksi ke 66.000 Dollar AS

Namun, mereka juga mencatat bahwa siklus penurunan terbaru cenderung lebih moderat dibandingkan masa lalu, sebagian karena meningkatnya partisipasi investor institusional.

Risiko tekanan  jual dari pemegang bitcoin korporasi

Faktor lain yang dapat mempercepat penurunan harga bitcoin adalah potensi tekanan jual dari pemegang bitcoin korporasi besar.

Strategy, perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor, merupakan pemegang bitcoin korporasi terbesar di dunia, dengan kepemilikan sekitar 713.502 bitcoin atau sekitar 3 persen dari total suplai bitcoin global. 

Perusahaan tersebut sebelumnya menyatakan bahwa penjualan bitcoin dapat dilakukan sebagai opsi terakhir jika kondisi keuangan memaksa.

Baca juga: Pasar Kripto Memerah, Harga Bitcoin Turun 2,5 Persen dalam Sehari

CEO Strategy Phong Le mengatakan perusahaan dapat menjual sebagian bitcoin sebagai upaya terakhir jika rasio tertentu yang mencerminkan nilai perusahaan dibandingkan kepemilikan bitcoin turun di bawah ambang batas tertentu.

Blank mengungkapkan, risiko likuidasi oleh pemegang besar seperti Strategy dapat mempercepat penurunan harga bitcoin.

“Kapan penjualan paksa dan likuidasi akan terjadi hingga nilai aset kita mencapai 40.000 dollar AS?” kata Blank.

Karena kepemilikan bitcoin oleh institusi besar sangat signifikan, keputusan jual dalam jumlah besar dapat mempengaruhi harga secara drastis.

Baca juga: Harga Bitcoin Turun ke 69.037 Dollar AS, Pasar Kripto Masih Gelisah

Likuiditas pasar melemah, mempercepat volatilitas

Likuiditas merupakan faktor penting dalam menentukan stabilitas harga aset. Dalam kondisi likuiditas rendah, harga dapat bergerak lebih tajam karena jumlah pembeli dan penjual terbatas.

Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.Unsplash/michael fortsch Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.

Blank menjelaskan, bitcoin merupakan pasar yang relatif inelastis, artinya suplai tidak berubah meskipun harga berfluktuasi.

“Hipotesis pasar keuangan yang sangat tidak elastis ini adalah kripto,” kata Blank. 

Ia menjelaskan, harga bitcoin sangat bergantung pada permintaan baru. Ketika permintaan melemah, harga dapat turun lebih cepat dibandingkan aset lain.

Baca juga: Bitcoin Menguat Terbatas, Kembali di Level 70.000 Dollar AS

Data dari perusahaan analitik kripto Kaiko menunjukkan, market depth bitcoin, yakni indikator kemampuan pasar menyerap transaksi besar, turun sekitar 30 persen dibandingkan level sebelum puncak harga pada Oktober 2025.

Penurunan likuiditas ini memperbesar potensi volatilitas harga, karena transaksi besar dapat menyebabkan perubahan harga yang lebih drastis.

Perubahan struktur investor dan dominasi spekulasi

Selain faktor teknis dan likuiditas, perubahan struktur investor juga mempengaruhi pergerakan harga bitcoin.

Chief economic advisor Allianz Mohamed El-Erian mengatakan volatilitas bitcoin sebagian disebabkan oleh dominasi investor jangka pendek dibandingkan investor jangka panjang.

Baca juga: Insiden Salah Transfer Bitcoin di Bithumb, Regulator Korsel Turun Tangan

“Saya pikir tema fundamental untuk bitcoin adalah adopsi institusional yang lambat dan berkelanjutan,” tutur El-Erian. 

Ia menambahkan, pasar bitcoin saat ini masih didominasi oleh investor spekulatif yang cenderung masuk dan keluar pasar dengan cepat, sehingga meningkatkan volatilitas.

Tourist investors yang disebut El-Erian merujuk pada investor jangka pendek yang membeli bitcoin saat harga naik dan menjualnya ketika pasar mulai bergejolak.

Fenomena ini menciptakan siklus volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan aset tradisional.

Baca juga: Ditopang Performa Wall Street, Harga Bitcoin Tembus Rp 1,18 Miliar

Ilustrasi Bitcoin.DOK. Shutterstock. Ilustrasi Bitcoin.

Profit taking dan perubahan persepsi terhadap bitcoin

Analis kripto Anthony Pompliano juga mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi pada penurunan harga bitcoin, termasuk aksi ambil untung oleh investor setelah harga mencapai level tinggi.

Investor cenderung menjual bitcoin ketika harga melewati ambang tertentu, terutama setelah reli besar yang membawa harga di atas 100.000 dollar AS. 

Selain itu, meningkatnya kompleksitas instrumen keuangan berbasis bitcoin, termasuk derivatif dan perdagangan leverage, juga meningkatkan volatilitas.

Pompliano mengatakan, meningkatnya finansialisasi bitcoin menciptakan lebih banyak peluang untuk spekulasi, yang pada gilirannya meningkatkan fluktuasi harga.

Baca juga: JPMorgan: Bitcoin Lebih Menarik dari Emas dalam Jangka Panjang

Selain itu, persepsi bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi juga berubah seiring dengan perubahan kondisi ekonomi global.

Menurut Pompliano, ekspektasi inflasi yang lebih rendah mengurangi daya tarik bitcoin sebagai "emas digital", terutama ketika bank sentral masih mendukung emas sebagai aset cadangan.

Faktor institusional dan prospek pasar kripto

Meskipun menghadapi tekanan bearish, pasar kripto tetap menarik perhatian investor institusional.

Beberapa analis mencatat, adopsi institusional dapat membantu mengurangi volatilitas dalam jangka panjang, meskipun belum sepenuhnya menghilangkan siklus penurunan. 

Baca juga: Harga Bitcoin Rebound ke Level 70.000 Dollar AS Setelah Turun Tajam

Selain itu, sejumlah investor tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang bitcoin, meskipun mengakui volatilitas jangka pendek tetap tinggi.

Dalam sebuah konferensi investor bitcoin di New York, beberapa investor mengatakan siklus bearish merupakan bagian normal dari perkembangan pasar kripto.

“Setiap delapan belas bulan sekali kita mengalami hal seperti ini,” jelas Chris Klein, COO Bitcoin IRA, merujuk pada siklus pasar kripto yang berulang. 

Ilustrasi aset kripto Bitcoin.Unsplash/kanchanara Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

Investor lain bahkan memperkirakan bahwa harga bitcoin dapat turun lebih jauh sebelum mengalami pemulihan.

Baca juga: Harga Bitcoin Ambruk ke Level Terendah 16 Bulan, Euforia Politik Kehilangan Daya Dorong

Investor real estate Grant Cardone memperkirakan harga bitcoin berpotensi turun hingga sekitar 38.000 dollar AS sebelum mengalami kenaikan signifikan di masa depan. 

Bitcoin dan tantangan menuju stabilitas

Volatilitas bitcoin menunjukkan bahwa meskipun adopsi meningkat, pasar kripto masih menghadapi tantangan struktural, termasuk likuiditas, dominasi spekulasi, dan sensitivitas terhadap perubahan sentimen investor.

Penurunan harga bitcoin dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan kompleksitas faktor yang mempengaruhi pasar, mulai dari dinamika investor institusional hingga karakteristik teknis pasar kripto itu sendiri.

Seiring berkembangnya ekosistem kripto, faktor-faktor seperti adopsi institusional, regulasi, dan perkembangan teknologi akan terus mempengaruhi arah harga bitcoin dalam jangka panjang.

Baca juga: Bitcoin Tembus 60.000 Dollar AS, INDODAX: Tekanan Risk-Off Global

Namun, dalam jangka pendek, sejumlah analis memperkirakan bahwa volatilitas akan tetap menjadi karakter utama pasar kripto, dengan kemungkinan koreksi lanjutan sebelum fase stabilisasi berikutnya.

Tag:  #ancaman #crypto #winter #harga #bitcoin #diprediksi #turun #40000 #dollar

KOMENTAR