2.842 Warga Gaza ''Menguap'' Akibat Senjata Suhu Tinggi Israel
Seorang pria berjalan di tengah reruntuhan bangunan yang hancur diserang Israel di permukiman Zahra, Nuseirat, tengah Jalur Gaza, pada 6 Februari 2026.(AFP/EYAD BABA)
13:30
16 Februari 2026

2.842 Warga Gaza ''Menguap'' Akibat Senjata Suhu Tinggi Israel

- Sebuah investigasi yang dirilis oleh Al Jazeera mengungkapkan fakta mengejutkan terkait dampak serangan militer Israel di Jalur Gaza. 

Laporan bertajuk The Rest of the Story yang disiarkan pada Senin (9/2/2026) itu menyebutkan bahwa ribuan warga Palestina hilang tanpa jejak atau "menguap" akibat penggunaan senjata suhu tinggi.

Sejak invasi skala besar dimulai Israel pada Oktober 2023, sedikitnya 2.842 warga dilaporkan hilang secara misterius di lokasi ledakan. 

Fenomena ini diduga kuat terjadi akibat penggunaan senjata termobarik yang mampu melenyapkan jaringan tubuh manusia dalam waktu sekejap.

Baca juga: Uni Eropa Tuding Dewan Perdamaian Gaza Hanya Jadi Alat Kepentingan Pribadi Trump

Tubuh menguap seketika

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza Munir al-Bursh memberikan penjelasan biologis di balik kematian ribuan nyawa tanpa jenazah tersebut. 

Dia menitikberatkan pada komposisi tubuh manusia yang sebagian besar terdiri dari air.

"Tubuh manusia terdiri dari sekitar 80 persen air. Titik didih air adalah 100 derajat celsius. Ketika tubuh terpapar energi yang melebihi 3.000 derajat disertai tekanan besar dan oksidasi, cairan akan mendidih seketika," ujar Al-Bursh dalam investigasi tersebut.

Dia menambahkan bahwa dalam kondisi ekstrem tersebut, proses kimiawi tidak dapat dihindarkan. 

"Jaringan tubuh menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, itu tidak terelakkan," lanjutnya.

Baca juga: Hamas Ungkap Syarat bagi Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian di Gaza

Pakar militer Rusia, Vasily Fatigarov, menjelaskan bahwa efek mengerikan ini dihasilkan oleh senjata jenis bom vakum atau aerosol. 

Senjata ini bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian meledak menjadi bola api raksasa.

Menurut Fatigarov, campuran kimia dalam senjata tersebut sengaja dimodifikasi untuk memperlama waktu pembakaran. 

"Bubuk aluminium, magnesium, dan titanium ditambahkan ke dalam campuran kimia tersebut," katanya. Penambahan material ini membuat suhu ledakan melonjak hingga mencapai 2.500 hingga 3.000 derajat celsius.

Investigasi tersebut mengidentifikasi beberapa amunisi buatan Amerika Serikat (AS) yang digunakan dalam serangan seperti MK-84, BLU-109 penghancur bunker, dan GBU-39.

Baca juga: Hamas Buka Suara Soal Rencana Indonesia Kirim 8.000 Pasukan ke Gaza

Fatigarov menyoroti penggunaan GBU-39 dalam serangan di sekolah al-Tabin. 

Bom ini dirancang unik untuk menghancurkan isi bangunan tanpa merusak struktur luarnya. 

"Senjata ini membunuh melalui gelombang tekanan yang merobek paru-paru dan gelombang termal yang membakar jaringan lunak," jelas Fatigarov.

Ketua Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Basal menjelaskan, angka 2.842 orang yang "menguap" didasarkan pada pendataan lapangan yang ketat menggunakan metode eliminasi.

"Jika sebuah keluarga memberi tahu kami ada lima orang di dalam, dan kami hanya menemukan tiga jenazah utuh, kami baru mengklasifikasikan dua sisanya sebagai 'menguap' setelah pencarian menyeluruh tidak membuahkan hasil kecuali jejak biologis," ungkap Basal.

Jejak biologis yang dimaksud sering kali hanya berupa sisa cipratan darah atau potongan kecil kulit kepala yang tertinggal di lokasi.

Baca juga: Indonesia Siap Kerahkan 8.000 Tentara ke Gaza, Jadi Negara Pertama yang Kirim Pasukan

Trauma keluarga korban

Warga Palestina berupaya mengambil jasad korban yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan akibat serangan Israel di Gaza, 29 Oktober 2025.AFP/OMAR AL QATTAA Warga Palestina berupaya mengambil jasad korban yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan akibat serangan Israel di Gaza, 29 Oktober 2025.

Ketiadaan jasad untuk dikuburkan secara layak menjadi luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. 

Yasmin Mahani, salah satu orang tua korban, menceritakan kepedihannya saat mencari putranya, Saad, di reruntuhan sekolah al-Tabin.

"Saya masuk ke dalam masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah. Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jasad untuk dikuburkan. Itu adalah bagian yang paling sulit," kenang Yasmin.

Nasib serupa dialami Rafiq Badran yang kehilangan empat anaknya dalam serangan di kamp pengungsi Bureij. 

"Empat anak saya menguap begitu saja. Saya mencari mereka jutaan kali. Tidak ada satu keping pun yang tersisa. Ke mana mereka pergi?" ujarnya pedih.

Baca juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan 21 Orang, Termasuk 6 Anak-anak

Sorotan hukum internasional

Penggunaan senjata yang tidak dapat membedakan warga sipil dan kombatan ini memicu kritik keras dari pakar hukum. 

Diana Buttu, pengacara dan dosen di Georgetown University, Qatar, menegaskan bahwa tanggung jawab ini bukan hanya ada pada Israel, melainkan juga negara pemasok senjata.

"Ini adalah genosida global, bukan hanya Israel. Kita melihat aliran senjata terus-menerus dari AS dan Eropa. Mereka tahu senjata-senjata ini tidak membedakan antara milisi dan anak-anak, namun mereka tetap mengirimnya," tegas Buttu.

Senada dengan Buttu, Profesor hukum internasional Tariq Shandab menilai sistem keadilan internasional telah gagal.

Padahal, Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan perintah dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah merilis surat perintah penangkapan terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu.

Baca juga: Israel Masih Serang Gaza Usai Gabung Dewan Perdamaian, 32 Orang Tewas

Tag:  #2842 #warga #gaza #menguap #akibat #senjata #suhu #tinggi #israel

KOMENTAR