Berlomba Layani 5G Saat Kurang Spektrum
JANJI pemerintah, Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi), akan melepaskan berbagai spektrum frekuensi tinggi – milimeter band – untuk layanan seluler generasi kelima, 5G ,tahun lalu, tidak terwujud.
Tahun ini pun masih tanda tanya karena keraguan pemerintah saat harus menetapkan besaran tarif bagi spektrum frekuensi tinggi tadi.
Akibatnya Indonesia tertinggal rata-rata lima tahun dibanding operator global lainnya dalam penggelaran layanan 5G.
Masalahnya, pemerintah terbiasa menjual mahal spektrum frekuensi yang mereka rilis, seperti saat terakhir Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) beberapa waktu lalu menebus 10 MHz di spektrum 2100 Mhz sebesar Rp 600 miliar.
Itu pun masih ditambah kewajiban operator membayar biaya awal (upfront fee) tahun pertama sebesar dua kali harga jual tadi.
Berapa harus ditebus jika pemerintah merilis 700 MHz selebar 90 MHz dan 2600 Mhz selebar 160 MHz plus upfront fee?
Semua operator, Telkomsel, IOH dan XL Smart punya inovasi agar industri selulernya tidak ketinggalan.
Selama ini mereka memanfaatkan sebagian spektrum frekuensi yang digunakan oleh layanan generasi keempat, 4G LTE, dengan cara DSS (dynamic spectrum sharing – membagikan spektrum secara dinamis).
Diambil sedikit dari frekuensi – paling banyak di spektrum 1800 MHz –dan sedikit juga dari frekuensi 2100 MHz, diklaim sebagai layanan 5G.
Namun, yang terasa adalah layanan 5G rasa 4G, karena boro-boro bisa dapat kapasitas sampai 100 megabit per detik, stabil paling hanya di 50-an megabit per detik (Mbps).
Telkomsel mengeklaim bisa memberi layanan Hyper 5G di 56 kota dengan dukungan 3.000 BTS 5G hasil DSS, yang hingga awal 2026 jumlahnya diperkirakan menjadi 5.000 BTS.
Mereka memiliki 17 juta pelanggan 5G pada tengah tahun 2025, dan lebih dari 20 juta pelanggan 5G pada awal 2026, dari 159,5 juta pelanggannya.
Spektrum tunggal
Dilaporkan, kecepatan layanan Hyper 5G Telkomsel mencapai 500 Mbps untuk unduh dan 100 Mbps unggah, dengan kelompok pelanggan yang ada di pusat-pusat 56 kota, di sekitaran bandara, dan kota-kota kecil sekitarnya.
Sementara Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mengklaim sudah memberi layanan 5G di beberapa kota utamanya, antara lain Jakarta, Solo, Karawang, Bandung, Bandarlampung, Makassar, Surabaya, Balikpapan dan secakupan Bali.
Mereka fokus di area padat manusia, pusat kegiatan ekonomi dan merambat ke kota lapis kedua dengan dukungan 6.872 BTS 5G – naik dari 107 BTS di tahun 2024 – yang memanfaatkan spektrum tunggal 1800 MHz.
Keseluruhan IOH memiliki 214.000 BTS, sejumlah 196.403 BTS 4G ditambah ribuan BTS 2G, dengan jumlah pelanggan 94,7 juta. Jumlahnya sempat turun jadi 91,9 juta saat mereka melakukan pembersihan terhadap kartu SIM yang tidak aktif atau tidak produktif.
XL Smart pekan lalu mengklaim sudah meratakan, menyelimuti (blanket) layanan 5G Ultra+ di 33 kota yang dalam waktu dekat akan menjadi 88 kota.
Beda dengan dua operator seluler lain, XL Smart tidak menggunakan teknologi DSS, tidak mengambil sedikit pun spektrum frekuensi 4G LTE yang pada saat sama juga dijejali pelanggan mudik.
Kebijakan ini akan diterapkan sebelum mereka memiliki spektrum frekuensi andalan untuk layanan 5G, spektrum 2600 MHz dan 3500 MHz dan yang lebih tinggi lagi di milimeter band.
XL Smart memisahkan spektrum frekuensi selebar 40 MHz direntang 2300 MHz yang berteknologi TDD (time division duplexing – penggunaan frekuensi yang sama untuk unggah dan unduh).
Jangkauan layanan spektrum menengah (middle band) ini sempit, hanya radius sekitar 500 meter, dibanding cakupan frekuensi rendah (low band) di 2100 MHz hingga 700 MHz yang radiusnya bisa sampai lima kilometer.
Kelebihan spektrum frekuensi 2300 MHz ini – juga nantinya 2600 MHz dan 3500 Mhz – membuat keberadaan BTS mereka lebih banyak dibanding BTS frekuensi rendah pada wilayah cakupan yang sama.
Efeknya, jumlah pelanggan yang bisa mereka layani lebih banyak lima puluh kali sampai seratus kali pelanggan yang dilayani BTS low band.
Dengan upaya melakukan integrasi BTS-BTS yang berdekatan sebagai efek merger antara XL Axiata dan Smart Telecom, jumlah BTS mereka berpeluang menjadi 225.000 unit lebih.
Mestinya bisa mendapat tambahan pelanggan baru, apa lagi ada kewajiban membangun 8.000 BTS baru di kawasan 3T (tertinggal, terluar dan terdepan).