Jauh di Pedalaman, Fasilitas Nuklir Rahasia China Terus Berdenyut, Bikin AS Resah
- Sebuah citra satelit terbaru mengungkap adanya peningkatan pesat pada fasilitas nuklir China yang terletak di lembah-lembah rimbun kawasan pegunungan.
Lokasi ini diduga menjadi pusat rancangan kekuatan nuklir China dalam menghadapi era baru persaingan global.
Salah satu titik yang menjadi sorotan adalah Lembah Zitong di Provinsi Sichuan. Di sana, para insinyur dilaporkan telah membangun bunker dan benteng baru.
Dikutip dari The New York Times, Minggu (15/2/2026), kompleks baru ini dipenuhi dengan pipa-pipa, menunjukkan bahwa fasilitas tersebut menangani bahan-bahan yang sangat berbahaya.
Lembah lain yang juga diidentifikasi adalah Pingtong, sebuah fasilitas berpagar ganda yang diyakini para ahli sebagai tempat produksi inti hulu ledak nuklir berisi plutonium.
Baca juga: China Bebaskan Visa untuk Inggris-Kanada, Taktik Kucilkan AS?
Fasilitas nuklir telah direnovasi
Struktur utama di Pingtong yang didominasi oleh cerobong ventilasi setinggi 100 meter, telah direnovasi dalam beberapa tahun terakhir.
Renovasi tersebut mencakup pemasangan sistem ventilasi dan penyebar panas baru, dengan konstruksi tambahan yang masih berlangsung di sekitarnya.
Konstruksi lebih lanjut sedang berlangsung di sebelahnya.
Di atas pintu masuk fasilitas Pingtong, sebuah slogan khas dari pemimpin China, Xi Jinping terpampang dalam huruf yang sangat besar sehingga terlihat dari kejauhan.
“Tetap setia pada tujuan pendirian dan selalu ingat misi kita.” bunyi slogan itu.
Provinsi Sichuan memang dikenal sebagai rumah bagi sejumlah lokasi rahasia terkait nuklir yang terus berkembang.
Peningkatan persenjataan ini dinilai memperumit upaya kontrol senjata global, terutama setelah berakhirnya perjanjian nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia.
Baca juga: Perancis Mundur dan Rusia Sibuk, China Rajai Pasar Senjata di Afrika Barat
Perjanjian nuklir perlu libatkan China
Ilustrasi senjata nuklir
Washington berpendapat bahwa perjanjian pengganti apa pun juga harus mengikat China, tetapi Beijing tidak menunjukkan minat.
“Perubahan yang kita lihat di lapangan di lokasi-lokasi ini sejalan dengan tujuan China yang lebih luas untuk menjadi negara adidaya global. Senjata nuklir merupakan bagian integral dari itu,” kata Renny Babiarz, seorang ahli intelijen geospasial yang telah menganalisis citra satelit dan bukti visual lainnya dari lokasi-lokasi tersebut.
Babiarz mengibaratkan lokasi-lokasi nuklir di China sebagai kepingan mozaik yang menunjukkan pola pertumbuhan pesat.
“Ada evolusi di semua lokasi ini, tetapi secara umum, perubahan itu semakin cepat mulai dari tahun 2019,” jelas dia.
Ekspansi nuklir China telah menjadi sumber ketegangan yang meningkat dengan AS.
Wakil menteri luar negeri untuk pengendalian senjata dan keamanan internasional AS, Thomas G DiNanno bulan ini secara terbuka menuduh China secara diam-diam melakukan uji coba bahan peledak nuklir yang melanggar moratorium global.
Beijing telah membantah klaim tersebut dan para ahli telah memperdebatkan seberapa kuat bukti untuk pernyataan DiNanno.
Baca juga: Bisnis Elektronik China Diduga Jadi Mesin Cuci Uang Geng Kriminal Brasil
Persediaan nuklir China lebih kecil dari AS
China memiliki lebih dari 600 hulu ledak nuklir pada akhir tahun 2024 dan diperkirakan akan memiliki 1.000 pada 2030.
Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Matthew Shar menuturkan, persediaan nuklir China jauh lebih kecil daripada ribuan yang dimiliki AS dan Rusia. Namun, pertumbuhannya tetap mengkhawatirkan.
“Saya pikir tanpa dialog yang nyata tentang topik-topik ini, yang saat ini kurang, sangat sulit untuk mengatakan ke mana arahnya, dan bagi saya, itu berbahaya,” katanya.
"Karena sekarang kita dipaksa untuk bereaksi dan merencanakan berdasarkan interpretasi terburuk dari tren yang mengkhawatirkan,” tambahnya.
Lokasi-lokasi di Sichuan tersebut dibangun enam dekade lalu sebagai bagian dari "Front Ketiga" Mao Zedong, sebuah proyek untuk melindungi laboratorium dan pabrik produksi senjata nuklir China dari serangan AS atau Uni Soviet.
Baca juga: Jepang Bebaskan Kapten Kapal China Usai Dapat Jaminan Beijing
Ilmuwan bekerja diam-diam
Puluhan ribu ilmuwan, insinyur, dan pekerja bekerja secara diam-diam untuk mengukir di pedalaman pegunungan. apa yang kemudian disebut oleh Danny B. Stillman, seorang ilmuwan nuklir Amerika yang mengunjungi daerah tersebut, dalam sebuah buku yang ditulis bersama, sebagai "kekaisaran nuklir pedalaman."
Seorang ilmuwan nuklir AS yang pernah mengunjungi lokasi itu, Danny B Stillman menjelaskan, banyak fasilitas nuklir "Front Ketiga" ditutup atau menyusut seiring meredanya ketegangan China dengan AS dan Rusia.
Para ilmuwan sering kali pindah ke laboratorium senjata baru di kota Mianyang terdekat.
Lokasi seperti Pingtong dan Zitong terus beroperasi, tetapi perubahan di tahun-tahun berikutnya terjadi secara bertahap.
Baca juga: Rakyat Eropa Ternyata Lebih Takut Diserang AS daripada China
Kebut renovasi fasilitas nuklir
China mulai dengan cepat membangun atau meningkatkan banyak fasilitas senjata nuklir dan pembangunan di lokasi-lokasi di Sichuan juga dipercepat.
Pembangunan tersebut mencakup laboratorium pengapian laser yang luas di Mianyang dan dapat digunakan untuk mempelajari hulu ledak nuklir tanpa meledakkan senjata sebenarnya.
Menurut Babiarz, desain kompleks Pingtong menunjukkan bahwa fasilitas tersebut digunakan untuk membuat inti hulu ledak nuklir.
Ia mencatat, arsitekturnya mirip dengan fasilitas pembuatan inti hulu ledak di negara lain, termasuk Laboratorium Nasional Los Alamos di AS.
Di Zitong, bunker dan benteng baru tersebut kemungkinan digunakan untuk menguji bahan peledak tinggi.
Baca juga: Atlet China Tak Bergerak Usai Kecelakaan Fatal di Olimpiade Milan 2026
Hal ini merujuk pada senyawa kimia yang meledak untuk menciptakan kondisi bagi reaksi berantai dalam bahan nuklir.
“Anda memiliki lapisan bahan peledak tinggi dan gelombang kejut pada saat yang sama meledak ke tengah. Ini membutuhkan uji ledakan untuk menyempurnakannya,” kata seorang fisikawan yang meneliti program nuklir China di Kennedy School of Government Universitas Harvard, Hui Zhang.
Kompleks ini mencakup area berbentuk oval dengan luas sekitar 10 lapangan basket.
Tujuan pasti dari peningkatan ini masih menjadi bahan perdebatan. Zhang mengatakan, citra satelit saja hanya memberikan informasi yang terbatas.
“Kita tidak tahu berapa banyak hulu ledak yang telah diproduksi, tetapi kita hanya melihat perluasan pabrik,” tuturnya.
Salah satu kekhawatiran utama bagi Washington adalah bagaimana persenjataan yang lebih besar dan modern ini dapat mengubah perilaku China dalam krisis, khususnya terkait Taiwan.
Tag: #jauh #pedalaman #fasilitas #nuklir #rahasia #china #terus #berdenyut #bikin #resah