Strategi Bisnis Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global dan Disrupsi Teknologi pada 2026
Ilustrasi bisnis.(PIXABAY/RONALD CARRENO)
18:08
16 Februari 2026

Strategi Bisnis Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global dan Disrupsi Teknologi pada 2026

Pelaku usaha di Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kompleks pada 2026, mulai dari dinamika geopolitik global, volatilitas suku bunga dan komoditas, hingga percepatan transformasi teknologi.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk menyesuaikan strategi bisnis agar mampu bertahan sekaligus menangkap peluang pertumbuhan.

Berbagai tantangan tersebut menjadi fokus pembahasan dalam forum Business & Legal Outlook 2026 di Jakarta, pekan lalu.

Baca juga: Singapura Siapkan Insentif AI dalam APBN 2026, Bidik Produktivitas Bisnis

Ilustrasi bisnis yang mengadopsi AI dan cloud. Freepik Ilustrasi bisnis yang mengadopsi AI dan cloud.

Managing Partner Delapan Capital, Eureka Bastian, mengatakan bahwa awal 2026 ditandai tekanan global yang berasal dari berbagai faktor eksternal, termasuk dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global.

“Dalam situasi seperti ini, pelaku usaha membutuhkan lebih dari sekadar optimisme, dibutuhkan strategi yang terukur dan perspektif lintas sektor,” ujarnya.

Ia menjelaskan, volatilitas suku bunga, harga komoditas, serta isu terkait MSCI yang memengaruhi arus modal ke pasar modal Indonesia turut menjadi faktor yang memengaruhi perencanaan bisnis dan investasi.

Menurut Eureka, kemampuan memahami risiko dan peluang secara menyeluruh menjadi kunci agar pelaku usaha dapat mengambil keputusan strategis dengan lebih percaya diri.

Baca juga: Deloitte: Adopsi AI Meluas, tapi Transformasi Bisnis Masih Terbatas

Diversifikasi strategi untuk bertahan

Deputi Bidang Pengawasan Koperasi Kementerian Koperasi (Kemenkop), Herbert Siagian, menilai pelaku usaha tidak dapat mengandalkan satu pendekatan strategi saja dalam menghadapi kondisi ekonomi yang dinamis.

“Kita harus bisa melakukan beberapa gaya untuk bisa bertahan di kondisi saat ini,” terang Herbert.

Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.PIXABAY/TUNG NGUYEN Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.

Ia juga menyoroti potensi koperasi sebagai salah satu model bisnis yang diproyeksikan kembali memainkan peran penting dalam perekonomian nasional.

“Di tahun 2026 dan seterusnya, akan muncul pemain lama, yaitu koperasi. Koperasi akan mempunyai strategi baru yang akan berpotensi menjadi game changer di perekonomian Indonesia dengan dukungan penuh dari pemerintah saat ini,” kata dia.

Baca juga: Pemimpin Bisnis Internet 50 Negara Kumpul di Jakarta, Bahas Masa Depan Ekosistem Digital

Pernyataan tersebut mencerminkan pentingnya diversifikasi model bisnis dan struktur organisasi sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan ekonomi.

Strategi inklusif dan kolaborasi sebagai penggerak pertumbuhan

Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, mengatakan strategi bisnis di sektor sumber daya alam, khususnya yang melibatkan badan usaha milik negara (BUMN), perlu mengedepankan kolaborasi dan inklusivitas.

“Untuk bisa menjadi engine of growth yang terbaik bagi negara, maka BUMN tidak bisa bekerja sendiri,” ujarnya.

Menurut Dany, pendekatan inklusif diperlukan untuk memastikan bahwa strategi pertumbuhan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Baca juga: Disrupsi AI Bikin Arah Bisnis 2026 Bukan Lagi soal Cepat, tapi Relevan

“BUMN harus inklusif dan harus membuat strategi inklusifitas yang bagus,” katanya.

Strategi inklusif ini mencakup kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta dan mitra industri, guna memperkuat daya saing dan memperluas dampak ekonomi.

Komisaris Jasamarga Related Business sekaligus Ketua Bidang XII Investasi dan Kerja Sama Antar Daerah BPD HIPMI Jaya, Samira Alatas, juga menyoroti pentingnya strategi adaptif dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Ia membahas bagaimana pelaku usaha perlu menavigasi ketidakpastian dengan pendekatan yang fleksibel, termasuk menyesuaikan strategi investasi dan ekspansi bisnis sesuai perkembangan global.

Ilustrasi bisnis. FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi bisnis.

Baca juga: Era Kecerdasan Buatan Bergeser ke Agentic AI, Eksekusi Strategi Bisnis Bisa Dilakukan Tanpa Instruksi Manusia

Tata kelola dan kepastian regulasi sebagai fondasi strategi

Selain faktor pasar, aspek tata kelola dan regulasi menjadi bagian penting dalam perumusan strategi bisnis jangka panjang. Founder dan CEO Radian Syam & Syam Law Firm, Radian Syam, mengatakan pemerintah menunjukkan komitmen dalam memperkuat sistem tata kelola.

“Hari ini kita dapat melihat komitmen pemerintah dalam membangun sistem tata kelola (governance) yang kuat,” ujarnya.

Menurutnya, tata kelola yang baik menjadi faktor penting dalam menciptakan stabilitas dan kepastian bagi dunia usaha.

Perubahan regulasi dan kebijakan juga memengaruhi keputusan korporasi, termasuk dalam hal restrukturisasi bisnis, investasi, dan ekspansi ke sektor baru.

Baca juga: Bankir di Persimpangan: Antara Risiko Bisnis dan Ancaman Kriminalisasi

Diskusi dalam forum tersebut juga menyoroti bagaimana pelaku usaha perlu memahami lanskap regulasi secara lebih mendalam agar dapat memitigasi risiko hukum sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari kebijakan baru.

Transformasi sektor keuangan dan strategi investasi

Perubahan lanskap ekonomi global turut memengaruhi sektor jasa keuangan dan strategi investasi korporasi. Co-Founder Simpan Asset Management Nicholas Hilman dan Partner FNKN Law Firm Ramos Romatua Sidjabat membahas strategi investasi dan restrukturisasi sebagai bagian dari respons terhadap dinamika pasar.

Pembahasan tersebut menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam pengelolaan aset, serta kesiapan menghadapi perubahan regulasi dan kondisi pasar yang fluktuatif.

Strategi restrukturisasi, termasuk penyesuaian portofolio dan model bisnis, menjadi salah satu pendekatan yang digunakan perusahaan untuk menjaga stabilitas keuangan dan meningkatkan daya tahan terhadap tekanan ekonomi.

Baca juga: Jaga Daya Saing Global, Bisnis Harus Transformasi ke Industri Rendah Karbon

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Alibaba Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pemanfaatan teknologi dan kesiapan organisasi

Percepatan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga menjadi faktor penting yang memengaruhi strategi bisnis.

Managing Partner Legal Next Attorneys at Law, Joddy Mulyasetya, mengatakan perkembangan teknologi menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi dunia usaha.

“Perkembangan teknologi, khususnya AI, tidak hanya membuka peluang baru, tetapi juga menuntut kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang lebih matang dari pelaku usaha,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan efisiensi operasional, tetapi juga memerlukan kesiapan dalam aspek tata kelola, kepatuhan, serta manajemen risiko.

Baca juga: Alih Daya Jadi Strategi Bisnis, Jawab Tantangan SDM Modern dengan Pendekatan Terukur

Partner Assegaf Hamzah & Partners, Ari Juliano Gema, menambahkan teknologi AI perlu diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran manusia.

Menurutnya, praktisi hukum dan pelaku usaha perlu menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi dan keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan.

Hal ini menunjukkan, strategi transformasi digital perlu disertai dengan kesiapan organisasi, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia dan sistem tata kelola.

Strategi pembiayaan dan transisi menuju ekonomi berkelanjutan

Perubahan strategi bisnis juga terlihat dalam sektor sumber daya alam dan energi, khususnya dalam konteks transisi menuju ekonomi berkelanjutan.

Baca juga: Strategi Elon Musk dan Pergeseran Persaingan Bisnis Global

Dept Head ESG Strategy, Product and Portfolio Management Yosita Nur Wirdayanti menjelaskan, perusahaan mulai mengadopsi berbagai instrumen pembiayaan hijau, termasuk green financing, blended finance, serta pengembangan pasar karbon.

Instrumen tersebut digunakan sebagai bagian dari strategi permodalan untuk mendukung proyek yang berorientasi pada keberlanjutan.

Ilustrasi bisnis, digitalisasi bisnis.SHUTTERSTOCK/LOOKERSTUDIO Ilustrasi bisnis, digitalisasi bisnis.

Dari sisi regulasi, Partner dan Head of ESG and Climate Change Practice Group ARMA Law, Rudi Bachtiar, menekankan pentingnya kerangka hukum yang jelas dalam mendukung investasi di sektor energi dan pertambangan.

Ia menyoroti kepastian perizinan dan penguatan tata kelola sebagai faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang stabil.

Baca juga: Ironi Menilai Strategi Bisnis dengan Timbangan Rongsok

Strategi adaptif di tengah ketidakpastian

Perubahan kondisi global, perkembangan teknologi, serta dinamika regulasi mendorong pelaku usaha untuk mengadopsi strategi yang lebih adaptif dan terukur.

Direktur Operasional ET-Asia, Deasy Widiantie, mengatakan perubahan global yang cepat membuat dunia usaha perlu memahami arah perkembangan sebelum menentukan langkah strategis.

“Di tengah perubahan global yang berlangsung begitu cepat, dunia usaha Indonesia perlu memiliki ruang untuk berhenti sejenak, membaca arah, dan menyusun langkah dengan lebih tenang dan terukur,” ujarnya.

Pembahasan lintas sektor tersebut mencerminkan berbagai pendekatan strategi yang digunakan pelaku usaha, mulai dari diversifikasi model bisnis, penguatan tata kelola, transformasi digital, hingga penyesuaian strategi investasi dan pembiayaan.

Baca juga: Menyoal Pemanfaatan Akal Imitasi untuk Inovasi Bisnis

Dengan berbagai tantangan yang muncul pada 2026, strategi bisnis yang adaptif, terukur, dan responsif terhadap perubahan menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing perusahaan.

Tag:  #strategi #bisnis #jadi #kunci #hadapi #tekanan #global #disrupsi #teknologi #pada #2026

KOMENTAR