10 Tradisi Tahun Baru Imlek dan Maknanya yang Sarat Filosofi Keberuntungan
Tahun Baru Imlek 2026 (pexels/RDNE Stock project)
10:33
16 Februari 2026

10 Tradisi Tahun Baru Imlek dan Maknanya yang Sarat Filosofi Keberuntungan

 

 

 

- Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah, angpao, barongsai, hingga meja makan yang penuh hidangan simbolis. Namun di balik kemeriahannya, tradisi Imlek menyimpan makna mendalam tentang harapan, keluarga, dan keberuntungan.

Di Indonesia, Imlek sendiri telah menjadi bagian dari keberagaman budaya nasional sejak kembali dirayakan secara terbuka pada masa Presiden Abdurrahman Wahid. Setiap detail perayaan, bahkan hal kecil seperti cara menyantap ikan, memiliki filosofi tersendiri.

Berikut 10 tradisi Tahun Baru Imlek beserta makna yang mungkin belum banyak diketahui.

1. Bersih-Bersih Rumah untuk 'Menyapu' Kesialan

Menjelang Imlek, rumah biasanya dibersihkan secara menyeluruh. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan simbol membuang kesialan dan energi negatif dari tahun sebelumnya.

Rumah yang bersih dipercaya membuka jalan bagi datangnya keberuntungan. Namun ada aturan tak tertulis: saat hari pertama Imlek tiba, orang dianjurkan tidak menyapu atau membuang sampah ke luar rumah.

Konon, tindakan itu bisa ikut 'menyapu' rezeki yang baru datang. Secara psikologis, tradisi ini menciptakan efek awal baru, memulai tahun dengan suasana yang lebih tertata dan optimistis.

2. Warna Merah yang Dipercaya Mengusir Energi Negatif

Merah adalah warna dominan saat Imlek. Lampion, pakaian, dekorasi pintu, hingga amplop angpao hampir selalu menggunakan warna ini. Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan, kekuatan, dan kemakmuran.

Kepercayaan ini berakar dari legenda monster Nian yang konon takut pada warna merah dan suara keras. Hingga kini, warna merah tetap menjadi simbol perlindungan dan keberuntungan dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

3. Hidangan 12 Sajian dan Simbol 12 Shio

Makan bersama keluarga menjadi inti perayaan Imlek. Di sejumlah tradisi, tersaji hingga 12 jenis makanan yang melambangkan 12 shio dalam kalender Tionghoa.

Beberapa makanan memiliki makna khusus:
Mi panjang sebagai simbol umur panjang
Kue keranjang (nian gao) sebagai simbol peningkatan rezeki, kue lapis melambangkan rezeki berlapis-lapis, permen manis sebagai doa kehidupan yang manis dan banyak lagi hidangan bermakna filosofis lainnya.

4. Pantangan Makan Bubur di Hari Pertama

Di balik banyaknya hidangan simbolis, ada pula pantangan makanan saat Imlek. Salah satunya adalah tidak dianjurkan makan bubur pada hari pertama tahun baru.

Bubur dianggap melambangkan kesederhanaan ekstrem atau kemiskinan. Karena Imlek identik dengan doa kemakmuran, makanan ini biasanya dihindari.

Tradisi ini menunjukkan bagaimana simbolisme makanan sangat kuat dalam budaya Tionghoa.

5. Larangan Membalik Ikan saat Disantap

Ikan hampir selalu hadir di meja makan Imlek. Dalam bahasa Mandarin, kata 'ikan' (yu) memiliki bunyi yang mirip dengan kata 'kelimpahan'.

Namun, ada kebiasaan unik: ikan tidak boleh dibalik saat disantap. Biasanya, satu sisi dimakan terlebih dahulu, sementara sisi lainnya dibiarkan utuh hingga keesokan hari.

Membalik ikan dipercaya dapat 'membalikkan' keberuntungan. Karena itu, tradisi ini masih dipertahankan di banyak keluarga hingga sekarang.

6. Tradisi Silaturahmi dan Kunjungan Keluarga

Imlek juga menjadi momentum mempererat hubungan keluarga. Anak-anak hingga orang tua saling mengunjungi untuk mengucapkan selamat tahun baru.

Kunjungan biasanya dimulai dari keluarga inti, lalu berlanjut ke kerabat yang lebih jauh pada hari berikutnya. Momen ini menjadi ruang untuk saling memaafkan dan memperkuat ikatan kekeluargaan.

Nilai harmoni keluarga dalam budaya Tionghoa dipercaya menjadi fondasi utama keberuntungan.

7. Berbagi Angpao sebagai Simbol Doa Rezeki

Angpao menjadi tradisi yang paling dinanti, terutama oleh anak-anak dan remaja. Amplop merah berisi uang ini diberikan oleh orang yang telah menikah kepada anggota keluarga yang belum menikah.

Warna merah pada angpao melambangkan keberuntungan dan perlindungan. Nominalnya pun sering dipilih dengan cermat, terutama yang mengandung angka delapan, karena angka tersebut dipercaya membawa kemakmuran.

Lebih dari sekadar uang, angpao adalah simbol berbagi berkah dan doa di awal tahun.

8. Sembahyang dan Penghormatan kepada Leluhur

Bagi umat Buddha dan Konghucu, Imlek juga diisi dengan ritual sembahyang. Persembahan berupa buah, teh, kue, dan hidangan lain disiapkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Di Jakarta, salah satu lokasi yang ramai dikunjungi saat Imlek adalah Vihara Dharma Bhakti. Klenteng-klenteng di berbagai kota juga dipadati umat yang berdoa memohon kesehatan dan kemakmuran.

Tradisi ini menegaskan pentingnya nilai bakti dan penghormatan terhadap akar keluarga.

9. Atraksi Barongsai yang Penuh Energi

Pertunjukan Barongsai selalu menjadi daya tarik utama perayaan Imlek. Dua orang memainkan kostum menyerupai singa dengan gerakan akrobatik yang energik.

Selain sebagai hiburan, barongsai dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir roh jahat. Tradisi ini berakar dari legenda tentang makhluk buas yang berhasil ditakuti dengan kostum singa dan suara tabuhan keras.

Kini, barongsai menjadi simbol kemeriahan dan identitas budaya Tionghoa yang tetap lestari.

10. Petasan dan Kembang Api untuk Mengusir Nasib Buruk

Perayaan Imlek terasa kurang lengkap tanpa suara petasan dan kembang api. Suara gaduhnya dipercaya mampu mengusir energi negatif dari tahun sebelumnya.

Petasan biasanya berbentuk gulungan panjang berwarna merah, kembali menegaskan simbol keberuntungan. Meski penggunaannya kini diatur demi keamanan, makna simboliknya tetap melekat kuat dalam tradisi.

Tradisi yang Terus Hidup di Tengah Modernitas

Tradisi Tahun Baru Imlek bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah rangkaian simbol tentang harapan, keberuntungan, keluarga, dan rasa syukur.

Dari membersihkan rumah hingga berbagi angpao, dari hidangan simbolis hingga atraksi barongsai, semuanya memiliki pesan yang sama: memulai tahun dengan optimisme dan niat baik.

Itulah sebabnya Imlek terus relevan dari generasi ke generasi, bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya kebersamaan dan harapan baru.

 

Editor: Kuswandi

Tag:  #tradisi #tahun #baru #imlek #maknanya #yang #sarat #filosofi #keberuntungan

KOMENTAR