Harga Emas Naik Turun, Waspadai Risiko FOMO bagi Investor
Lonjakan harga emas dunia dalam beberapa tahun terakhir menarik perhatian investor di seluruh dunia, dari bank sentral hingga investor ritel.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, inflasi, dan ketegangan geopolitik, logam mulia ini kembali dipandang sebagai aset aman (safe haven).
Namun, di balik reli harga tersebut, muncul fenomena yang kian menonjol: fear of missing out (FOMO), atau ketakutan ketinggalan momentum keuntungan.
Baca juga: Harga Emas Dunia Melemah 0,8 Persen di Tengah Aksi Ambil Untung
Ilustrasi emas batangan. Harga emas dunia mencatat pergerakan ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah analis mengaitkan volatilitas tersebut dengan aktivitas spekulatif di China.
Fenomena ini tidak hanya mendorong permintaan emas, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru terkait volatilitas, spekulasi berlebihan, hingga potensi koreksi tajam.
Euforia investor dapat menjadi faktor risiko tersendiri dalam investasi emas, terutama bagi investor ritel yang masuk pasar pada fase puncak harga.
Reli harga emas dan lonjakan minat investor
Reli harga emas yang dramatis dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pemicu utama munculnya fenomena FOMO.
Harga emas bahkan mencapai rekor baru dan mencatat kenaikan terbesar dalam beberapa dekade.
Baca juga: Harga Emas Hartadinata 16 Februari 2026 Turun, Kini Rp 2,89 Juta Per Gram
Reuters melaporkan, harga emas melonjak signifikan dan bahkan berada di jalur kenaikan tahunan terbesar sejak 1979, didorong oleh ketegangan geopolitik, ketidakpastian tarif perdagangan, serta gelombang pembelian yang dipicu FOMO.
Lonjakan ini juga diperkuat oleh aliran dana investasi yang besar. Data World Gold Council menunjukkan arus masuk ke exchange-traded funds (ETF) berbasis emas mencapai 64 miliar dollar AS sepanjang tahun tertentu, termasuk rekor bulanan 17,3 miliar dollar AS pada September 2025 saja.
Para analis mencatat, FOMO menjadi salah satu faktor yang mempercepat reli harga emas.
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
Fenomena ini tidak terbatas pada investor institusi. Permintaan investasi dari investor ritel juga meningkat pesat dan menjadi faktor penting dalam mendorong kenaikan harga.
Baca juga: Harga Emas Antam di Pegadaian 16 Februari 2026, Cek Rinciannya
Menurut laporan Reuters, permintaan investasi, termasuk dari sektor ritel, telah menjadi faktor krusial dalam mendorong harga emas lebih tinggi, terutama ketika permintaan dari sektor lain seperti perhiasan dan bank sentral mulai melambat.
Lonjakan harga ini membuat emas semakin menarik sebagai aset investasi, tetapi juga meningkatkan risiko perilaku investasi yang didorong emosi, bukan analisis fundamental.
FOMO dan perubahan karakter reli harga emas
Fenomena FOMO tidak hanya meningkatkan permintaan, tetapi juga mengubah karakter pasar emas itu sendiri. Reli emas yang sebelumnya didorong oleh faktor fundamental seperti pembelian bank sentral kini semakin dipengaruhi oleh investor spekulatif.
John Reade, senior market strategist di World Gold Council, mengatakan bahwa sifat reli emas telah berubah.
Baca juga: Prospek Saham ANTM di Tengah Lonjakan Permintaan Emas
“Sifat reli telah berubah, sekarang didorong oleh investor Barat daripada pembeli pasar negara berkembang yang lebih loyal,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini berarti menciptakan ketidakpastian dan volatilitas yang lebih tinggi.
Masuknya investor spekulatif dan ritel dalam jumlah besar membuat pergerakan harga emas menjadi lebih sensitif terhadap sentimen pasar jangka pendek.
Ketika investor membeli emas karena takut ketinggalan momentum, bukan karena nilai intrinsik atau strategi jangka panjang, fluktuasi harga menjadi lebih ekstrem.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 16 Februari 2026, Cek Rincian Galeri 24 dan UBS
Fenomena ini juga tercermin dalam indikator teknikal. Pada satu titik, indeks kekuatan relatif (Relative Strength Index/RSI), yang mengukur apakah suatu aset overbought atau oversold, menunjukkan emas berada pada level overbought.
Ilustrasi emas, emas batangan, logam mulia. Pemerintah menetapkan pembelian emas oleh bullion bank dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,25 persen mulai 1 Agustus 2025.
Kondisi ini mengindikasikan harga telah naik terlalu cepat dan berpotensi mengalami koreksi.
Volatilitas dan risiko koreksi tajam
Salah satu bahaya utama FOMO dalam investasi emas adalah peningkatan volatilitas. Reli yang didorong oleh spekulasi dan sentimen emosional cenderung tidak stabil dan dapat berbalik arah secara tiba-tiba.
Reuters melaporkan, harga emas dan perak sempat jatuh tajam setelah mencapai rekor tertinggi, karena investor mulai mengambil keuntungan.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 16 Februari 2026 Turun Jadi Rp 2,94 Per Gram
Bahkan, penurunan tersebut dipicu oleh aliran dana kecil yang sebelumnya didorong oleh FOMO, yang kemudian menyebabkan pergerakan harga yang tidak proporsional.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, menyebut lonjakan harga sebelumnya sebagai reli yang sangat spekulatif.
"Logam mulia siap untuk koreksi mengingat sifat spekulatif dan tidak terkendali dari lonjakan terbaru," tuturnya.
Volatilitas ini juga terlihat dalam pergerakan harga yang ekstrem dalam waktu singkat. Dalam satu kasus, harga emas mengalami penurunan harian terbesar dalam lebih dari empat dekade setelah mencapai rekor tertinggi.
Baca juga: Harga Emas Diproyeksikan Fluktuatif Pekan Ini, Sentimen Global Jadi Penentu
Pergerakan tajam seperti ini menunjukkan bahwa reli yang didorong oleh FOMO dapat menciptakan kondisi pasar yang tidak stabil, di mana investor yang masuk pada harga tinggi berisiko mengalami kerugian besar jika terjadi koreksi.
Risiko bubble dan peringatan dari lembaga internasional
Kekhawatiran terkait FOMO dan spekulasi berlebihan juga disampaikan oleh lembaga internasional.
Dikutip dari Financial Times, Bank for International Settlements (BIS), yang sering disebut sebagai bank sentral bagi bank sentral, memperingatkan bahwa lonjakan harga emas menunjukkan tanda-tanda perilaku seperti gelembung (bubble).
Ilustrasi emas batangan.
BIS mencatat, harga emas telah naik sekitar 60 persen dalam satu tahun tertentu, didorong oleh partisipasi investor ritel, euforia pasar, dan eksposur media yang tinggi.
Baca juga: Demi War Emas Antam, Pengunjung Serbu Pameran Jewellery Fair di JCC Senayan
Lembaga tersebut menyatakan, kondisi ini meningkatkan risiko ketidakstabilan pasar dan potensi koreksi tajam.
BIS juga menekankan, dominasi investor ritel dalam arus masuk dana meningkatkan risiko panic selling, atau penjualan karena panik, ketika sentimen pasar berubah.
Situasi ini dapat mempercepat penurunan harga dan memperbesar kerugian bagi investor yang masuk pada fase akhir reli.
Selain itu, reli emas yang didorong oleh antusiasme luas juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan kenaikan harga.
Baca juga: Harga Emas Dunia Bangkit ke 5.000 Dollar AS, Ini Pemicunya
Reuters mencatat, ketika hampir semua investor bersikap bullish terhadap emas, kondisi tersebut sering dikaitkan dengan perilaku yang menyerupai gelembung.
Perilaku investor dan dinamika pasar yang semakin spekulatif
Fenomena FOMO juga memengaruhi perilaku investor dan struktur pasar emas. Ketika investor membeli emas karena takut kehilangan momentum, keputusan investasi menjadi lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar daripada analisis ekonomi.
Reuters mencatat, lonjakan harga emas dalam beberapa periode dipicu oleh momentum trading dan aliran dana besar dari investor ritel, yang memperkuat tren kenaikan harga.
Fenomena ini menciptakan efek lingkaran umpan balik (feedback loop), di mana kenaikan harga menarik lebih banyak investor, yang kemudian mendorong harga lebih tinggi lagi.
Baca juga: Pergerakan Harga Emas dan Perak Melambat, Tren Bullish Dinilai Belum Berakhir
Namun, siklus ini dapat berbalik arah ketika investor mulai mengambil keuntungan atau ketika sentimen berubah.
Alice Fox, analis di Macquarie memperingatkan harga emas kemungkinan akan tetap tinggi tetapi juga sangat volatil karena arus dana yang terus masuk ke pasar yang relatif kecil dan semakin padat.
Ilustrasi emas batangan
Volatilitas ini dapat memperbesar risiko bagi investor individu, terutama mereka yang tidak memiliki strategi jangka panjang atau pemahaman mendalam tentang dinamika pasar.
Faktor makroekonomi dan peran sentimen
Selain faktor spekulatif, reli emas juga dipengaruhi oleh faktor makroekonomi seperti inflasi, kebijakan moneter, dan ketidakpastian geopolitik.
Baca juga: Harga Emas Bergejolak, Menkeu AS Sebut China Motor Spekulasi
Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat melonjak jika investor swasta meningkatkan alokasi ke logam mulia ini, terutama sebagai respons terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Namun, faktor yang sama juga dapat memperkuat volatilitas. Ketika kondisi ekonomi berubah, investor dapat dengan cepat mengalihkan dana ke aset lain, menyebabkan penurunan harga emas.
Selain itu, reli emas yang dipicu oleh sentimen global seperti konflik geopolitik atau kebijakan tarif dapat bersifat sementara.
Reuters mencatat, ketegangan perdagangan dan inflasi telah mendorong permintaan emas sebagai aset aman, tetapi perubahan kondisi ekonomi dapat mengubah arah pasar.
Baca juga: Harga Emas Dunia Terkoreksi usai Data Tenaga Kerja AS Solid
FOMO dan perubahan struktur partisipasi investor
Salah satu ciri utama fenomena FOMO adalah meningkatnya partisipasi investor ritel dalam pasar emas.
Investor individu, yang sering kali memiliki horizon investasi lebih pendek dan toleransi risiko lebih rendah, cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
Financial Times menggambarkan reli emas sebagai fenomena “gold-plated FOMO,” di mana arus masuk dana yang besar ke ETF emas dan meningkatnya alokasi portofolio ke emas mencerminkan perubahan perilaku investor.
Fenomena serupa juga terlihat pada logam mulia lain seperti perak, di mana minat investor ritel yang didorong FOMO meningkatkan volatilitas dan spekulasi.
Ilustrasi emas, emas batangan. Harga emas Antam mencapai rekor tertinggi sepanjang masa hari ini, Jumat (11/4/2025).
Baca juga: Harga Emas Dunia Diproyeksi 6.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Global
Ketika investor masuk pasar secara bersamaan karena alasan emosional, pasar menjadi lebih rentan terhadap perubahan sentimen secara tiba-tiba.
Ketika reli berbalik arah
Salah satu risiko terbesar dari FOMO adalah kemungkinan investor membeli pada harga tertinggi dan mengalami kerugian ketika pasar berbalik arah.
Reuters mencatat, setelah reli yang kuat, harga emas dapat mengalami penurunan tajam ketika investor mulai mengambil keuntungan atau ketika faktor fundamental berubah.
Bahkan, investor yang sebelumnya mendorong reli dapat menjadi faktor utama dalam penurunan harga melalui aksi jual massal.
Baca juga: Investor Baru Wajib Tahu, Ini Cara Aman Membeli Emas Batangan
Situasi ini menunjukkan, reli yang didorong oleh FOMO cenderung lebih rentan terhadap koreksi dibandingkan reli yang didasarkan pada faktor fundamental yang kuat.
Selain itu, ketika pasar menjadi sangat padat oleh investor spekulatif, likuiditas dapat menurun, memperbesar dampak setiap transaksi terhadap harga. Hal ini dapat mempercepat pergerakan harga, baik naik maupun turun.
Antara safe haven dan risiko spekulatif
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset safe haven yang melindungi nilai kekayaan selama periode ketidakpastian ekonomi.
Namun, fenomena FOMO menunjukkan, bahkan aset yang dianggap aman pun dapat menjadi rentan terhadap perilaku spekulatif.
Baca juga: Emas Bukan Cuma Antam, Ini 6 Jenis Emas Batangan di Indonesia
Reli harga emas yang didorong oleh FOMO menciptakan dinamika baru, di mana pergerakan harga tidak hanya ditentukan oleh faktor fundamental seperti inflasi atau kebijakan moneter, tetapi juga oleh psikologi investor.
Ilustrasi emas, emas batangan.
Dengan meningkatnya partisipasi investor ritel, arus dana spekulatif, dan eksposur media yang tinggi, pasar emas menjadi semakin kompleks dan dinamis.
Fenomena ini menunjukkan, keputusan investasi yang didorong oleh emosi, seperti ketakutan ketinggalan momentum, dapat memperbesar risiko, terutama dalam pasar yang sudah berada pada level harga tinggi.
Seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global, peran emas sebagai aset investasi kemungkinan tetap penting.
Baca juga: Harga Emas di Pakistan Bergejolak, Pembeli Beralih ke Perak
Namun, fenomena FOMO menunjukkan bahwa reli harga emas tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental semata, melainkan juga dinamika psikologis investor yang dapat memperbesar volatilitas dan risiko pasar.
Tag: #harga #emas #naik #turun #waspadai #risiko #fomo #bagi #investor