Pakar Kesehatan dan Akademisi Kritisi Tata Kelola Lingkungan yang Buruk Pengaruhi Kesehatan
Menjalani gaya hidup sehat. (Freepik/Freepik)
12:10
16 Februari 2026

Pakar Kesehatan dan Akademisi Kritisi Tata Kelola Lingkungan yang Buruk Pengaruhi Kesehatan

Sejumlah pakar kesehatan dan akademisi mengkritisi buruknya tata kelola lingkungan yang dinilai berdampak langsung pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat di Indonesia.

Pakar kesehatan Hermawan Saputra menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat modern yang semakin tidak aktif atau sedentary lifestyle yang menurutnya berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit.

"Gaya hidup kaum rebahan atau sedentary lifestyle ini menjadi 'ibu' dari segala penyakit modern seperti hipertensi dan diabetes. Namun, masalah ini makin rumit ketika lingkungan kita juga sakit akibat perubahan iklim," ujarnya dalam Webinar Nasional IDE Lestari 2026 bertema “Pendidikan Inklusif dan Reformasi Tata Kelola Lingkungan untuk Peningkatan Taraf Kesehatan Bangsa”, Minggu (15/2).

Ia juga menegaskan bahwa perubahan lingkungan berdampak luas, mulai dari meningkatnya suhu bumi hingga potensi migrasi vektor penyakit dan ancaman terhadap ketahanan pangan.

"Lingkungan hidup yang baik dan sehat adalah hak asasi setiap orang, sama pentingnya dengan hak mendapatkan pelayanan kesehatan. Negara wajib memastikan hak ini terpenuhi," tegas Hermawan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lakpesdam PBNU Asrul Raman mengkritisi kebijakan lingkungan yang dinilai tidak konsisten dan cenderung mengabaikan aspek keberlanjutan.

"Kebijakan lingkungan kita seringkali paradoks. Kita bicara green economy, tapi eksploitasi nikel untuk baterai kendaraan listrik justru merusak ekosistem di daerah tambang," ungkap Asrul.

Ia juga menyoroti sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai memicu konflik agraria dan mengesampingkan kepentingan masyarakat lokal.

"Kualitas demokrasi yang menurun berpengaruh pada kebijakan yang tidak inklusif. Negara seringkali tidak hadir membela kelompok rentan di daerah terpencil, seperti kasus di Ngada dan Lembata, di mana kemiskinan struktural menghambat akses pendidikan dan kesehatan," tambahnya.

Dari sisi lingkungan, perwakilan Walhi Nasional Tubagus Soleh Ahmadi menyebut Indonesia telah mengalami kondisi yang ia sebut sebagai kebangkrutan ekologis sejak 2010.

"Bencana ekologis bukan sekadar kejadian alam, tapi produk dari sistem politik dan ekonomi yang ekstraktif. Beban kerusakan lingkungan didistribusikan secara tidak adil; keuntungan dinikmati segelintir elite, sementara dampak penyakit dan bencana dirasakan masyarakat luas," kata Tubagus.

Forum tersebut juga menekankan pentingnya pendidikan inklusif, tidak hanya melalui jalur formal, tetapi juga edukasi lingkungan kepada masyarakat luas. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil dinilai menjadi kunci dalam mencegah krisis kesehatan sekaligus memulihkan keseimbangan ekologis di Indonesia.

Editor: Bintang Pradewo

Tag:  #pakar #kesehatan #akademisi #kritisi #tata #kelola #lingkungan #yang #buruk #pengaruhi #kesehatan

KOMENTAR