BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjadikan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) sebagai pilar strategis dalam transformasi ekonomi nasional. Foto ist.
12:04
16 Februari 2026

BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global

Baca 10 detik
  • BI luncurkan Blueprint Eksyar 2030 sebagai pilar transformasi ekonomi nasional.
  • Kontribusi Halal Value Chain terhadap PDB 2025 naik jadi 27%.
  • Aset perbankan syariah cetak rekor tertinggi tembus Rp1.067,73 triliun.

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjadikan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) sebagai pilar strategis dalam transformasi ekonomi nasional. Langkah ini diambil guna memperkuat ketahanan jangka panjang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global.

Melalui Blueprint Eksyar 2030, Bank Indonesia mengarahkan kebijakan untuk mempercepat integrasi Halal Value Chain (HVC) dengan sistem pembiayaan syariah yang lebih inovatif dan produktif.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengungkapkan, sektor eksyar terbukti memiliki daya tahan yang solid. Saat ekonomi nasional tumbuh 5,11 persen (yoy) pada 2025, sektor HVC justru melonjak lebih tinggi sebesar 6,2 persen (yoy).

"Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Destry dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Kinerja apik ini ditopang oleh sektor makanan-minuman halal, pariwisata ramah muslim, hingga modest fashion. Alhasil, kontribusi HVC terhadap PDB nasional meningkat signifikan dari 25,45 persen pada 2024 menjadi 27 persen pada 2025.

Di sisi perbankan, pembiayaan syariah tumbuh 9,66 persen (yoy) pada akhir 2025. Pertumbuhan ini disokong oleh instrumen Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah yang mencapai Rp35 triliun. Tak hanya itu, program Bulan Pembiayaan Syariah mencatat realisasi Rp939 miliar, jauh melampaui target awal sebesar Rp589 miliar.

Senada dengan BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat sejarah baru. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut aset perbankan syariah berhasil menembus angka tertinggi sepanjang masa (all time high).

"Total aset mencapai Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92 persen (yoy). Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik mencapai Rp705,22 triliun, sementara DPK tumbuh 10,14 persen menjadi Rp892,99 triliun," jelas Dian.

Meski optimis tren positif akan berlanjut di tahun 2026, OJK tetap mengingatkan pentingnya mewaspadai risiko geopolitik. "Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain," tandasnya.

Editor: Mohammad Fadil Djailani

Tag:  #ekonomi #syariah #jadi #pilar #strategis #hadapi #ketidakpastian #global

KOMENTAR