Bahaya Screen Time pada Anak, Dokter Usul Larang Media Sosial hingga 18 Tahun
Ilustrasi anak main gadget. Menurut Dr Rangan Chatterjee, lonjakan penggunaan layar dapat memicu gangguan mental dan tidur pada remaja.(Freepik/Freepik)
18:06
16 Februari 2026

Bahaya Screen Time pada Anak, Dokter Usul Larang Media Sosial hingga 18 Tahun

Penggunaan layar yang berlebihan pada anak dan remaja dinilai sebagai masalah kesehatan masyarakat paling mendesak saat ini oleh Dr Rangan Chatterjee, dokter dan podcaster kesehatan.

Menurutnya, kebiasaan menatap layar terlalu lama berdampak langsung pada kesehatan mental, kualitas tidur, hingga rasa percaya diri anak.

Chatterjee bahkan mendukung pelarangan media sosial hingga usia 18 tahun dan meminta tugas sekolah berbasis layar dihentikan.

Baca juga: Dokter Anak: Screen Time Paling Berisiko pada Anak di Bawah Dua Tahun

Pengalaman menangani remaja

Saat masih praktik sebagai dokter umum, Chatterjee pernah menangani remaja 16 tahun yang mencoba menyakiti diri sendiri.

Dokter rumah sakit sebelumnya menyarankan pemberian antidepresan, tetapi Chatterjee memilih mencari tahu penyebab lain.

Ia menemukan remaja tersebut menggunakan gawai dalam waktu lama, terutama pada malam hari.

Chatterjee kemudian menyarankan agar perangkat dimatikan satu jam sebelum tidur dan perlahan memperpanjang waktu tanpa layar selama beberapa minggu.

Dalam dua bulan, kondisi remaja tersebut membaik dan tidak lagi membutuhkan konsultasi rutin.

Beberapa bulan kemudian, ibunya menyampaikan bahwa putranya lebih aktif bergaul dan mencoba kegiatan baru.

Penggunaan layar secara luas dalam kehidupan anak-anak adalah masalah kesehatan masyarakat paling mendesak di zaman kita,” kata Chatterjee, seperti dikutip dari The Guardian (16/2/2026).

Baca juga: Batasan Screen Time Sesuai Usia Anak Menurut IDAI

Dampak pada kesehatan mental dan fisik

Ilustrasi anak menonton youtube di handphone. Menurut Dr Rangan Chatterjee, lonjakan penggunaan layar dapat memicu gangguan mental dan tidur pada remaja.freepik.com Ilustrasi anak menonton youtube di handphone. Menurut Dr Rangan Chatterjee, lonjakan penggunaan layar dapat memicu gangguan mental dan tidur pada remaja.

Chatterjee menilai dampak screen time sudah terlihat jelas selama lebih dari satu dekade. Ia menyebut dampaknya antara lain kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga masalah postur tubuh seperti nyeri leher dan bahu.

Ia juga mengutip penelitian yang menunjukkan setiap tambahan satu jam screen time meningkatkan risiko rabun jauh sebesar 21 persen pada anak.

Pada anak yang sudah mengalami rabun jauh, tambahan satu jam dapat meningkatkan risiko perburukan hingga 54 persen.

Selain itu, paparan konten yang tidak sesuai usia juga menjadi kekhawatirannya. Dalam wawancara tersebut disebutkan bahwa 10 persen anak usia sembilan tahun dan 27 persen anak usia 11 tahun telah melihat konten pornografi.

Baca juga: Screen Time Jadi Penyebab Anak Terlambat Bicara

Pembatasan usia media sosial

Chatterjee menilai anak belum memiliki kematangan otak untuk mengendalikan penggunaan media sosial.

Bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan belum berkembang sepenuhnya hingga usia sekitar 25 tahun.

Ia juga menilai perusahaan teknologi sulit diharapkan mengatur diri sendiri karena model bisnis mereka bergantung pada lamanya pengguna berada di perangkat.

Sebagai orangtua dari dua remaja, Chatterjee tetap mengizinkan anaknya memiliki ponsel, tetapi hampir semua aplikasi dan peramban internet dinonaktifkan. Ia memastikan layar dimatikan setidaknya satu jam sebelum tidur.

Baca juga: Tanda Balita Kebanyakan Screen Time

Tidak menyalahkan orangtua

Chatterjee menegaskan ia tidak menyalahkan orangtua. Ia memahami bahwa tekanan hidup membuat layar sering menjadi solusi praktis untuk menenangkan anak. Namun, ia menilai perlindungan yang lebih kuat tetap diperlukan untuk generasi muda.

Menurutnya, banyak masalah kesehatan modern seperti kecemasan, depresi, obesitas, dan gangguan tidur berkaitan dengan gaya hidup. Ia percaya pendekatan pencegahan perlu diperkuat.

Pentingnya hadir secara nyata

Chatterjee mengingatkan bahwa terlalu sering terdistraksi layar membuat seseorang sulit benar-benar hadir dalam kehidupan nyata.

“Kita harus bisa hadir sepenuhnya, karena dari situlah hubungan dan kebahagiaan berasal,” ujarnya.

Ia menilai perangkat digital melatih otak untuk terus terdistraksi. Menurutnya, menjaga kualitas hubungan dan waktu bersama keluarga menjadi kunci kesehatan jangka panjang di era digital.

Baca juga: Pedoman Screen Time pada Anak Balita dari WHO

Tag:  #bahaya #screen #time #pada #anak #dokter #usul #larang #media #sosial #hingga #tahun

KOMENTAR