Sinyal Kelangkaan Hard Disk Mulai Terlihat, Siap-siap Harga Naik
Ilustrasi HDD portabel Western Digital yang punya kapasitas 6 TB.(Western Digital)
18:06
16 Februari 2026

Sinyal Kelangkaan Hard Disk Mulai Terlihat, Siap-siap Harga Naik

- Investasi terhadap insfrastruktur penunjang kecerdasan buatan atau AI, mulai memicu kelangkaan komponen lain di industri teknologi. Setelah DRAM dan NAND, kini giliran perangkat penyimpanan hard disk drive atau HDD yang terancam langka.

Produsen media penyimpanan (storage) PC Western Digital (WD) mengungkap, produksi HDD mereka untuk tahun 2026 hampir seluruhnya sudah habis terjual.

Hal ini disampaikan langsung oleh CEO Western Digital, Irving Tan, dalam paparan kinerja kuartal kedua 2026 perusahaan.

“Pada dasarnya (stok HDD) kami sudah hampir sold out (ludes) untuk tahun kalender 2026. Kami memiliki purchase order tetap dari tujuh pelanggan terbesar kami,” kata Irving Tan dalam earnings call terbaru.

Tak hanya itu, Western Digital juga sudah menandatangani perjanjian jangka panjang atau long term agreement untuk 2027 dan bahkan 2028 dengan beberapa pelanggan besar. Kontrak tersebut mencakup volume penyimpanan dalam skala exabyte serta kesepakatan harga.

Baca juga: Pasokan RAM Langka, Pasar PC Global Justru Tumbuh di Akhir 2025

Enterprise caplok pasar konsumen

Gambar HDD (kiri) dan SSD (kanan)Whatsabyte Gambar HDD (kiri) dan SSD (kanan)

Lonjakan permintaan HDD datang dari sektor cloud dan pusat data berskala besar.

Berdasarkan data perusahaan, sekitar 89 persen pendapatan Western Digital kini berasal dari segmen cloud dan enterprise. Sementara kontribusi pasar konsumen hanya tersisa sekitar 5 persen.

Artinya, mayoritas kapasitas produksi kini dialokasikan untuk hyperscaler dan penyedia layanan cloud yang tengah membangun infrastruktur AI dalam skala masif.

Lompatan AI bukan hanya bertumpu pada kekuatan komputasi GPU seperti yang diproduksi Nvidia, tetapi juga pada ketersediaan penyimpanan data yang murah dan efisien.

Pasalnya, AI membutuhkan data dalam jumlah sangat besar, mulai dari data pelatihan, log inferensi, cadangan sistem, hingga data hasil scraping web.

Hard disk drive tetap menjadi pilihan utama untuk penyimpanan cold dan warm data (data yang jarang diakses atau sesekali diakses tapi harus disimpan) karena lebih murah dari sisi biaya per terabyte, bila dibandingkan dengan SSD yang unggul dari sisi kecepatan.

Tanpa lapisan penyimpanan berbiaya efisien, pengembangan AI dalam skala besar akan sulit dilakukan.

Pasokan ketat, harga HDD berpotensi naik

Ilustrasi hard disk drive (HDD)HP Ilustrasi hard disk drive (HDD)

Industri HDD saat ini hanya didominasi tiga pemain besar secara global, yakni Seagate Technology, Western Digital (WD), and Toshiba. 

Menurut laporan Igors Lab, kapasitas produksi tidak bisa ditingkatkan secara instan karena membutuhkan investasi besar dan waktu panjang.

Di sisi lain, pembangunan pusat data AI terus dipercepat, terutama di Amerika Serikat dan kawasan lain. Kombinasi ini menciptakan tekanan pasokan yang tak terhindarkan.

Secara teori ekonomi, ketika kapasitas terikat kontrak jangka panjang dan permintaan terus naik, harga media penyimpanan berbasis piringan magnetik yang berputar ini cenderung terdorong naik alias makin mahal.

Pembeli yang tidak memiliki kontrak jangka panjang kemungkinan harus membeli dengan harga pasar atau spot price yang lebih tinggi, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari WCCF Tech.

Baca juga: Hard Disk 1 GB Pertama di Dunia Beratnya 29 Kg, Mirip Mesin Mobil

Situasi ini bisa berdampak tidak langsung ke pasar konsumen. Jika kapasitas lebih banyak diserap enterprise, ketersediaan HDD untuk PC, server kecil, hingga kebutuhan pengguna rumahan bisa menyusut dan harganya ikut terkerek.

Skenario dampaknya, konsumen yang membeli produk jadi seperti PC prebuilt, laptop gaming, atau perangkat penyimpanan jaringan, bisa merasakan harga yang lebih mahal atau kapasitas storage yang dipangkas agar harga tetap kompetitif. 

Sementara bagi penggemar "rakit PC" dan kreator konten yang membutuhkan kapasitas besar, kenaikan harga HDD akan langsung memengaruhi total biaya pembuatan.

Jika konsumen beralih ke SSD sebagai alternatif, tekanan permintaan juga berpotensi mendorong harga SSD naik, sehingga efeknya bisa merembet ke seluruh ekosistem penyimpanan.

Fenomena ini memperpanjang dampak AI terhadap rantai pasok global. Sebelumnya, lonjakan permintaan AI juga menyebabkan tekanan pada pasokan GPU, DRAM, dan NAND.

Sebelumnya, lembaga riset pasar International Data Corporation (IDC) memprediksi, penyebab utama prediksi pasar PC global lesu pada 2026 adalah gara-gara krisis pasokan memori, terutama DRAM dan NAND.

Keduanya kini disebut semakin langka dan mahal karena produsen chip memori mengalihkan fokus produksi ke kebutuhan pusat data AI.

DRAM (Dynamic Random Access Memory) adalah memori kerja sementara yang dipakai perangkat saat sedang menyala. Inilah yang biasa dikenal sebagai RAM.

Sementara NAND adalah memori penyimpanan permanen. NAND dipakai untuk menyimpan sistem operasi, aplikasi, foto, video, dan file lainnya.

Di HP dan laptop, NAND inilah yang kita kenal sebagai storage atau penyimpanan internal, misalnya 128 GB, 256 GB, atau 1 TB. SSD di laptop dan PC juga menggunakan NAND sebagai basis penyimpanannya.

Baca juga: Mengenal SSD dan HDD, Mana yang Lebih Cepat dan Efisien?

IDC menjelaskan bahwa produsen besar seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron kini lebih memprioritaskan memori kelas enterprise untuk pusat data AI, seperti high-bandwidth memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas tinggi.

Sebaliknya, produksi memori konvensional yang biasa dipakai di laptop, PC rumahan, dan perangkat konsumen lain justru ditekan. Dampaknya, pasokan RAM dan SSD untuk PC menyusut, sedangkan harga terus merangkak naik karena permintaan masih terus ada.

IDC menyebut situasi ini sebagai "mimpi buruk" bagi konsumen yang ingin merakit perangkat PC mereka sendiri di tahun ini.

Tag:  #sinyal #kelangkaan #hard #disk #mulai #terlihat #siap #siap #harga #naik

KOMENTAR