Meta Bangkitkan Teknologi Pengenalan Wajah di Kacamata Pintar, Picu Ulang Perdebatan Privasi di AS
CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg saat mempresentasikan pengembangan kacamata pintar Meta. (Foto: The New York Times)
18:39
16 Februari 2026

Meta Bangkitkan Teknologi Pengenalan Wajah di Kacamata Pintar, Picu Ulang Perdebatan Privasi di AS

 

— Meta Platforms berencana menghadirkan kembali teknologi pengenalan wajah melalui kacamata pintarnya, setelah pada 2021 menghentikan sistem serupa untuk penandaan foto di Facebook karena pertimbangan privasi dan hukum. Rencana tersebut kembali mengangkat perdebatan lama di Amerika Serikat mengenai batas etika pemanfaatan kecerdasan buatan dan perlindungan data pribadi di ruang publik.

Pada 2021, Facebook menutup sistem penandaan otomatis berbasis pengenalan wajah dengan alasan ingin mencari “keseimbangan yang tepat” atas teknologi yang menimbulkan persoalan hukum dan privasi. Kini, di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg, perusahaan tersebut justru menyiapkan kebangkitan fitur serupa dalam bentuk berbeda.

Melansir The New York Times, Senin (16/2/2026), Meta mengembangkan fitur internal bernama Name Tag untuk kacamata pintar yang diproduksi bersama EssilorLuxottica, pemilik Ray-Ban dan Oakley. Fitur itu memungkinkan pengguna mengenali identitas seseorang dan memperoleh informasi melalui asisten kecerdasan buatan (AI) Meta. 

Dalam memo internal divisi Reality Labs yang dikutip The New York Times, manajemen Meta menilai waktu peluncuran fitur itu bertepatan dengan situasi politik Amerika Serikat yang sedang memanas. Dalam dokumen itu tertulis, “Kami akan meluncurkan produk ini dalam lingkungan politik yang dinamis, ketika banyak kelompok masyarakat sipil yang biasanya menyerang kami akan memusatkan sumber daya mereka pada isu lain.”

Pernyataan tersebut merujuk pada kalkulasi bahwa perhatian publik dan organisasi pengawas diperkirakan terpecah oleh dinamika politik nasional, sehingga tekanan terhadap peluncuran fitur pengenalan wajah dinilai tidak sebesar pada periode sebelumnya.

Namun demikian, dokumen internal yang sama mengakui adanya “risiko keselamatan dan privasi.” Meta sempat mempertimbangkan peluncuran terbatas bagi peserta konferensi tunanetra, meski rencana itu belum terealisasi. Dalam pernyataannya, Meta menegaskan, “Kami membangun produk yang membantu jutaan orang terhubung dan memberdayakan kehidupan mereka. Kami masih mempertimbangkan berbagai opsi dan akan mengambil pendekatan yang hati-hati sebelum meluncurkannya.”

Di sisi lain, kekhawatiran datang dari pegiat kebebasan sipil. Nathan Freed Wessler dari American Civil Liberties Union mengatakan, “Teknologi pengenalan wajah di jalan-jalan Amerika menimbulkan ancaman serius terhadap anonimitas praktis yang kita andalkan. Teknologi ini sangat rentan disalahgunakan.”

Lebih lanjut, Meta menyatakan fitur tersebut tidak akan berfungsi sebagai alat pencarian identitas universal. Opsi yang dipertimbangkan antara lain hanya mengenali orang yang terhubung dengan pengguna di platform Meta atau yang memiliki akun publik seperti Instagram. Perusahaan juga mempertahankan lampu LED kecil pada bingkai kacamata sebagai penanda saat perangkat merekam.

Selain itu, Meta tengah mengembangkan versi lanjutan dengan kode internal super sensing, yang memungkinkan kamera dan sensor aktif lebih lama untuk membantu pengguna, misalnya mengingatkan tugas saat bertemu rekan kerja. Dalam rekaman rapat internal, Andie Millan dari divisi Reality Labs menyebut perubahan proses tinjauan risiko privasi dapat “mendorong batas” kesepakatan dengan Federal Trade Commission, seraya menambahkan, “Mark ingin sedikit mendorong batas itu.”

Meski demikian, rekam jejak Meta dalam isu privasi sebelumnya juga menjadi sorotan. Pada 2019, perusahaan membayar denda USD 5 miliar kepada FTC—sekitar Rp 84,15 triliun dengan kurs Rp 16.830 per dolar AS—atas pelanggaran privasi pengguna. Meta juga menyelesaikan gugatan di Illinois dan Texas senilai sekitar USD 2 miliar terkait pengumpulan data wajah tanpa persetujuan.

Sementara itu, aspek aksesibilitas turut dikedepankan. Mike Buckley, CEO Be My Eyes, mengatakan dia telah berdiskusi “selama setahun” dengan Meta mengenai kacamata pengenal wajah bagi penyandang gangguan penglihatan. “Ini sangat penting dan kuat bagi kelompok yang membutuhkannya,” ujarnya. Mark Riccobono dari National Federation of the Blind juga menyatakan dukungan terhadap potensi pemanfaatannya.

 

Dengan penjualan lebih dari tujuh juta unit tahun lalu, Meta melihat peluang komersial yang signifikan. Namun, rencana menghadirkan kembali pengenalan wajah di perangkat sehari-hari mempertegas dilema lama industri teknologi: antara inovasi yang semakin canggih dan perlindungan hak privasi publik.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #meta #bangkitkan #teknologi #pengenalan #wajah #kacamata #pintar #picu #ulang #perdebatan #privasi

KOMENTAR