Akses Kredit Masih Terbatas, Kolaborasi Bank dan Pindar Jadi Solusi
— Akses pembiayaan formal masih menjadi tantangan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) alias pinjaman online (pinjol) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas akses kredit, terutama bagi segmen masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani sistem keuangan formal.
Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper berjudul Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar, yang mengkaji kesenjangan akses kredit formal sekaligus peluang sinergi antara perbankan dan industri fintech lending.
Baca juga: Pekerja Muda Diimbau Gunakan Pindar dengan Produktif dan Bertanggung Jawab
Ilustrasi pinjaman online, pinjol, pinjaman daring.
White paper tersebut disusun melalui forum presentasi temuan studi dan diskusi panel yang melibatkan regulator, institusi perbankan, asosiasi industri, ekonom, sektor asuransi, serta ekosistem Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA).
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, mengatakan stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama segmen underbanked.
“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja," kata Firlie.
Menurut dia, kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan dan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat.
Baca juga: Kasus Dana Syariah Indonesia, Pengamat Ingatkan Risiko Fraud Pindar
Peran bank sebagai sumber pendanaan pindar meningkat
Ilustrasi fintech peer to peer lending. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan batas atas pembiayaan produktif oleh penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending meningkat menjadi Rp 5 miliar.
White paper tersebut juga menyoroti tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar meningkat signifikan, dari Rp 4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp 46,1 triliun pada 2024.
Firlie menyebut perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan pentingnya kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang.
“Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang,” tutur Firlie.
Baca juga: YLKI Sebut Konsumen Sektor Keuangan Paling Banyak buat Aduan, Penagihan Pindar Mendominasi
Dari sisi regulator, Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, Jasmi, menyatakan OJK menyambut baik inisiatif yang mendorong kolaborasi perbankan dan industri pindar secara inklusif dan bertanggung jawab.
Menurut dia, sinergi tersebut perlu tetap mengedepankan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan, serta perlindungan konsumen.
Sinergi lintas lembaga keuangan ini diharapkan dapat memperluas akses alternatif pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kredit formal.
Direktur Ekonomi Syariah dan Badan Usaha Milik Negara Kementerian PPN/Bappenas, Rosy Wediawaty, juga menyampaikan perluasan akses pembiayaan memiliki peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga: Akademisi: Penetapan Batas Suku Bunga Pindar Arahan Regulator
Ia menilai optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk melalui kolaborasi antara lembaga keuangan konvensional dan inovatif, dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
"Terutama bagi sektor produktif dan pelaku usaha yang masih mengalami keterbatasan akses kredit formal," sebut dia.
Ilustrasi kredit, kredit perbankan. Bank optimistis kredit dan likuiditas tetap tumbuh hingga akhir tahun.
Tantangan inklusi keuangan masih besar
CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, mengatakan peningkatan rasio kredit merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.
Namun, tantangan akses kredit di Indonesia masih besar, terutama karena banyak masyarakat belum sepenuhnya terintegrasi ke sistem keuangan formal.
Baca juga: Pindar Dorong Akses Permodalan UMKM dan Penguatan Literasi Keuangan
Data Bank Dunia menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih berstatus underbanked.
Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025, yang berarti masih terdapat sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia yang belum sepenuhnya terlayani layanan keuangan formal.
Selain itu, rasio kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia juga masih relatif rendah.
Data Bank Dunia menunjukkan rasio tersebut berada di kisaran 36,4 persen pada periode 2024–2025, jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di kawasan yang mencapai 74,46 persen, maupun negara berpendapatan menengah bawah sebesar 62,72 persen.
Baca juga: Menilik Manfaat Penetapan Batas Bunga Pindar untuk Konsumen
Menurut Manggala, kesenjangan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk ketatnya persyaratan kredit formal dan luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terlayani lembaga keuangan konvensional.
“Jadi ini bukan semata persoalan kemampuan ekonomi, melainkan keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional yang belum sepenuhnya dirancang untuk membaca profil mereka," ujar dia.
Manggala menyatakan, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, namun belum sepenuhnya tergarap.
Ia mengibaratkan, pipanya sudah terpasang dan konektivitas sudah tersedia, namun pembiayaan formal belum sepenuhnya mengalir.
Baca juga: Asosiasi Pindar Bantah Tuduhan Kesepakatan Penetapan Bunga Pinjaman
Ilustrasi pinjaman online, pinjol.
"Dengan demikian tantangan utamanya terletak pada aspek kepercayaan, data, dan dokumentasi. Di sinilah pindar memiliki fleksibilitas operasional dan kecepatan untuk merangkul mereka,” ungkap Manggala.
Pindar menjadi kanal pembiayaan dengan pertumbuhan tercepat
Studi dalam white paper juga menunjukkan adanya pergeseran kanal pembiayaan di Indonesia seiring meningkatnya penetrasi internet yang telah mencapai sekitar 75 persen.
Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit utama dengan nilai pinjaman terbesar, pindar menjadi kanal pembiayaan dengan pertumbuhan tercepat, mencatat pertumbuhan tahunan sekitar 34 persen pada periode 2019–2024.
Pertumbuhan ini didorong kemampuan pindar membuka akses pembiayaan bagi segmen yang sebelumnya sulit dijangkau perbankan.
Baca juga: Jangan Salah Kaprah, Ini Perbedaan Pinjol dan Pindar
Selain itu, pindar memanfaatkan inovasi digital, termasuk underwriting berbasis teknologi, penggunaan data alternatif untuk credit scoring, serta proses pengajuan yang lebih cepat dan fleksibel.
Seiring perkembangan industri, tingkat kepercayaan institusi keuangan terhadap pindar juga meningkat.
Studi menemukan bank secara bertahap menjadi penyedia likuiditas utama bagi industri pindar, dengan porsi pendanaan dari perbankan meningkat dari 15 persen atau sekitar Rp 1,5 triliun pada Januari 2021 menjadi 71 persen atau Rp 46,6 triliun pada Januari 2025.
Selain itu, studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) menunjukkan lebih dari 50 persen peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan setelah menggunakan layanan tersebut.
Baca juga: OJK: Aturan Batas Bunga Harian Tidak Hambat Industri Pindar
Lebih dari 35 persen peminjam juga mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan pinjaman di platform pindar.
Temuan serupa juga tercermin dalam survei Mandala Consulting, yang menunjukkan hampir 50 persen responden mengajukan pinjaman bank setelah melunasi kewajiban pinjaman dari pindar.
Ilustrasi bank digital
Sejumlah bank digital kemudian memanfaatkan peluang tersebut dengan menawarkan produk lanjutan seperti kartu kredit dan pinjaman kepada peminjam yang telah memiliki rekam jejak pembayaran yang baik.
Tata kelola dan kepatuhan jadi faktor kunci keberhasilan kolaborasi
Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, mengatakan percepatan peran pindar dalam ekosistem pembiayaan perlu diimbangi dengan kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang sesuai standar perbankan.
Baca juga: OJK Bentuk Direktorat Pengawasan Bank Digital, Efektif 2026
“Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Sebenarnya saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik dan dapat menjadi acuan bagi industri," ucap Nucky.
Dia mengungkapkan, temuan riset AFTECH bersama Mandala Consulting juga menunjukkan bahwa beberapa bank internasional di Indonesia aktif bekerja sama dengan pindar.
"Artinya, pindar di Indonesia sudah memiliki tata kelola dan kapabilitas yang dipercaya oleh perbankan, bahkan di level internasional,” tutur Nucky.
Ia menambahkan, kemitraan antara bank dan pindar memiliki potensi besar dalam memperluas akses pembiayaan masyarakat, terutama karena model ini dapat membantu menjembatani kesenjangan akses kredit.
Baca juga: Survei: Pengguna Prioritaskan Keamanan dan Biaya Efisien di Bank Digital
Mengacu pada riset Dana Moneter Internasional (IMF), penyaluran kredit baik untuk kebutuhan konsumtif maupun produktif dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat konsumsi, dan memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Tentunya, kolaborasi bank dan pindar tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kredit. Namun, hal ini membuka ruang pembiayaan baru yang selama ini belum tergarap," papar Nucky.
Dia menyebut, pindar dapat berperan sebagai sandbox bagi peminjam yang baik, dan menjadi ruang awal membangun rekam jejak kredit sebelum masuk ke sistem perbankan.
"Jika tata kelolanya terus diperkuat, sinergi ini dapat menjadi salah satu batu loncatan penting menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh,” kata Nucky.
Tag: #akses #kredit #masih #terbatas #kolaborasi #bank #pindar #jadi #solusi