Saat AI Melaju, Sekolah Jadi Titik Awal Pembelajaran
Ilustrasi kecerdasan buatan di era digital.(Shutterstock)
16:52
16 Februari 2026

Saat AI Melaju, Sekolah Jadi Titik Awal Pembelajaran

– Di tengah laju adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian cepat, sekolah mulai diposisikan sebagai titik awal menyiapkan talenta digital masa depan.

Upaya itu salah satunya dilakukan melalui pelibatan 400 siswi sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dalam program Amazon Girls’ Tech Day di Karawang dan Bekasi, 7 Februari 2026.

Kegiatan yang memasuki tahun keempat ini digelar Amazon bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI). Untuk pertama kalinya di Indonesia, cakupan peserta diperluas hingga jenjang SD, seiring kebutuhan pengenalan teknologi sejak dini.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut pemerintah menargetkan pembangunan 9 juta talenta digital pada 2030 dan akan meningkatkan target menjadi 12 juta pada tahun yang sama.

“Di Kementerian Komunikasi dan Digital, target kami pada tahun 2030 adalah membangun 9 juta talenta digital. Angka tersebut masih belum cukup, dan kami akan meningkatkan target menjadi 12 juta pada 2030. Saya percaya kita perlu mendorong perempuan muda, seperti mereka yang hadir di Girls’ Tech Day, untuk menjadi bagian dari talenta digital masa depan kita,” ujar Meutya, melalui keterangan pers, dikutip Senin (16/2/2026).

Ia menambahkan, teknologi merupakan sumber pemberdayaan yang kuat, bukan hanya bagi perempuan muda, tetapi juga bagi keluarga dan komunitasnya.

Baca juga: Ekonomi Digital ASEAN Berpotensi Rp 16.828 T, Thailand Catat Adopsi AI Tertinggi

Adopsi AI Tumbuh, Kesenjangan Masih Lebar

Sebanyak 400 siswi SD hingga SMA mengikuti pelatihan AI dan coding di Karawang dan Bekasi.DOK. AWS Sebanyak 400 siswi SD hingga SMA mengikuti pelatihan AI dan coding di Karawang dan Bekasi.Program ini berlangsung di tengah percepatan adopsi AI oleh pelaku usaha. Berdasarkan laporan AWS dan Strand Partners, lebih dari 18 juta pelaku usaha di Indonesia atau 28 persen telah mengadopsi AI, dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 47 persen pada 2025.

Namun, sebanyak 57 persen bisnis di Indonesia masih menghadapi tantangan kesenjangan keterampilan digital. Kondisi ini menandakan kebutuhan penguatan kompetensi sejak usia sekolah.

Indonesia Regional Manager of Data Center Operations Amazon Web Services (AWS), Winu Adiarto, mengatakan perluasan program hingga jenjang SD menjadi bagian dari adaptasi terhadap perkembangan AI.

“Indonesia tengah mempersiapkan diri dalam proses adopsi AI, dan kami mengadaptasi program tahun ini untuk meliputi AI dan teknologi serupa lainnya, sembari memperluas cakupan ke siswi SD. Tujuan kami adalah untuk memicu minat dan membangun rasa percaya diri dalam hal teknologi sejak dini,” kata Winu.

Para peserta mengikuti lokakarya berbasis proyek, mulai dari pengenalan AI dan coding dasar hingga pengembangan gim serta robotika untuk pemula.

Baca juga: Singapura Siapkan Insentif AI dalam APBN 2026, Bidik Produktivitas Bisnis

Dorong Partisipasi Perempuan di Teknologi

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menilai intervensi sejak sekolah dasar penting untuk menjawab kesenjangan gender di sektor teknologi.

“Selama ini, bidang AI, gaming, dan teknologi canggih kerap dipersepsikan sebagai ranah laki-laki. Karena itu, kami ingin mematahkan stereotip tersebut dengan memberikan pengalaman nyata dan relevan bagi siswi dari SD hingga SMA,” ujarnya.

Cecilia Astrid Maharani, VP Data & AI di Mekari, menyebut partisipasi perempuan di sektor teknologi masih terbatas.

“Saat ini kurang dari 5 persen perempuan menjadikan teknologi sebagai pilihan karier utama mereka. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk terlibat di dunia teknologi karena keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi yang bermakna,” katanya.

Baca juga: AI Jadi Host Live Shopping E-Commerce: Transformasi atau Krisis Pekerjaan?

Riris Marpaung, CEO dan Founder GameChanger Studio sekaligus Co-Founder Indonesia Women in Game, menambahkan sektor gim semakin berkembang dan diakui di pasar global.

“Dunia gaming kini tidak hanya dipandang sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai keterampilan pribadi seperti komunikasi, empati, dan kepemimpinan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PKBM Baitul Hasanah Cikarang, Abdullah Mukhlis, menilai kegiatan tersebut membuka akses pembelajaran teknologi bagi siswi yang memiliki keterbatasan fasilitas.

“Girls’ Tech Day memberikan pengalaman belajar yang sangat bermakna dan kaya bagi anak-anak kami, terutama dalam membangun kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan bekerja dalam tim,” katanya.

Secara global, Amazon menargetkan dapat menjangkau lebih dari satu juta anak perempuan dan perempuan muda hingga 2030 melalui program serupa.

Tag:  #saat #melaju #sekolah #jadi #titik #awal #pembelajaran

KOMENTAR