Bitcoin Terkoreksi Hampir 50 Persen, Likuidasi Tembus USD 4,85 Miliar dan Risiko Derivatif Kian Disorot
Ilustrasi Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
15:18
16 Februari 2026

Bitcoin Terkoreksi Hampir 50 Persen, Likuidasi Tembus USD 4,85 Miliar dan Risiko Derivatif Kian Disorot

Pasar kripto kembali memasuki fase tekanan setelah Bitcoin (BTC) terkoreksi tajam dari rekor harga tertingginya pada Oktober 2025 di kisaran USD 126.210. Per 16 Februari 2026, harga BTC bertahan di sekitar USD 68.000, turun hampir 50 persen dari puncaknya.

Penurunan ini bukan sekadar koreksi biasa. Data dari platform analitik derivatif Coinglass mencatat, saat harga BTC sempat menyentuh level USD 60.000 pada 6 Februari 2026, pasar kripto dihantam gelombang likuidasi mencapai USD 4,85 miliar dalam waktu singkat. Angka tersebut menjadi salah satu likuidasi terbesar sejak awal tahun ini.

Tekanan harga juga berdampak pada sentimen investor. Indeks Fear & Greed kripto sempat turun ke level 6, mencerminkan kondisi 'extreme fear' atau ketakutan ekstrem di pasar. Dalam situasi seperti ini, volatilitas meningkat dan pergerakan harga cenderung lebih agresif, terutama di pasar derivatif.

Di tengah fluktuasi tajam, perdagangan derivatif kripto kembali menjadi perhatian. Produk ini memungkinkan trader mengambil posisi long (beli) saat optimistis harga naik, maupun short (jual) ketika memperkirakan harga turun. Namun, fleksibilitas tersebut datang dengan risiko yang tidak kecil.

Penggunaan leverage, misalnya, dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus mempercepat kerugian. Saat harga bergerak berlawanan dengan posisi trader, likuidasi bisa terjadi dalam hitungan menit, terutama ketika volatilitas meningkat.

Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, menekankan bahwa manajemen risiko menjadi faktor kunci dalam perdagangan derivatif.

“Trading derivatif crypto tidak hanya soal mengejar potensi keuntungan, tapi juga tentang bagaimana seorang trader perlu mengontrol dan mengantisipasi risiko. Sepanjang 2025 kami terus menghadirkan fitur inovatif untuk mendukung manajemen risiko trading derivatif,” ujarnya, Senin (16/2).

Menurutnya, edukasi dan disiplin pengelolaan risiko harus berjalan seiring dengan penggunaan fitur teknis di platform.

Pentingnya Pengelolaan Risiko
Sejumlah platform perdagangan di Indonesia termasuk Pintu kini menyoroti pentingnya fitur manajemen risiko seperti pengaturan batas rugi (stop loss), target ambil untung (take profit), proteksi slippage saat volatilitas tinggi, hingga penambahan margin cadangan untuk menahan potensi likuidasi.

Langkah tersebut dinilai relevan mengingat besarnya tekanan pasar belakangan ini. Likuidasi massal yang terjadi menunjukkan bahwa banyak posisi leverage tidak mampu bertahan ketika harga bergerak ekstrem.

Produk derivatif kripto sendiri tergolong instrumen high risk high return.

Tanpa perhitungan matang dan strategi yang disiplin, potensi kerugian dapat melampaui modal awal, terutama jika menggunakan leverage tinggi.

Selain faktor teknikal, pelaku pasar juga perlu mencermati dinamika makroekonomi global, arus likuiditas, serta sentimen investor institusional yang kerap memengaruhi arah pergerakan harga kripto.

Di Indonesia sendiri, aktivitas perdagangan aset kripto kini berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengawasan ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan konsumen sekaligus meningkatkan tata kelola industri kripto domestik.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, fase koreksi Bitcoin saat ini menjadi pengingat bahwa pasar kripto tetap sarat risiko. Bagi trader derivatif, momentum seperti ini bisa membuka peluang, namun juga menuntut disiplin, strategi yang terukur, serta pemahaman mendalam terhadap profil risiko masing-masing.

 

Editor: Mohamad Nur Asikin

Tag:  #bitcoin #terkoreksi #hampir #persen #likuidasi #tembus #miliar #risiko #derivatif #kian #disorot

KOMENTAR