Gen Z Habiskan Waktu Lebih Lama di Sekolah, tapi Kalah Cerdas dari Milenial
- Selama ini, setiap generasi baru selalu dianggap lebih cerdas dari pendahulunya.
Namun, tren positif tersebut tampaknya terhenti pada Generasi Z (Gen Z).
Sejumlah ahli saraf di Amerika Serikat memberikan peringatan serius bahwa Gen Z menjadi generasi pertama yang memiliki tingkat kecerdasan dan perkembangan kognitif lebih rendah dibandingkan generasi milenial.
Fenomena ini menempatkan milenial sebagai kelompok terakhir yang mencatatkan pertumbuhan kecerdasan lebih tinggi dari generasi sesudahnya.
Baca juga: Jeritan Gen Z Iran: Susah Cari Kerja, Hidup di Antara Perang dan Sanksi
Dampak teknologi pendidikan (EdTech)
Ahli saraf asal Amerika Serikat, Jared Cooney Horvath, mengungkapkan bahwa penurunan kognitif ini bukan tanpa alasan.
Berbicara di hadapan Komite Senat AS, ia menunjuk penggunaan teknologi pendidikan atau Education Technology (EdTech) sebagai pemicu utama.
Menurut Horvath, Gen Z mengalami penurunan pada hampir seluruh aspek kognitif inti, mulai dari rentang perhatian, daya ingat, kemampuan literasi dan numerasi, hingga pemecahan masalah.
"Jika Anda melihat datanya, begitu negara-negara mengadopsi teknologi digital secara luas di sekolah, kinerja akan menurun secara signifikan," ujar Horvath sebagaimana dikutip dari Wion.
Data menunjukkan bahwa kemerosotan tajam kemampuan kognitif ini mulai terjadi sekitar tahun 2010.
Hal ini dianggap ironis karena secara statistik, Gen Z menghabiskan waktu di sekolah lebih lama dibandingkan generasi terdahulu.
Baca juga: Ahli Saraf Sebut Gen Z Kalah Cerdas dari Milenial, Pembelajaran Digital Disorot
Jebakan video pendek dan jawaban instan AI
ilustrasi AI
Horvath menjelaskan, otak manusia secara biologis tidak dirancang untuk menyerap informasi melalui potongan video pendek atau ringkasan teks digital yang instan.
Ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI) dan konten visual singkat dinilai telah merusak proses berpikir kritis yang seharusnya diasah melalui studi mendalam.
"Lebih dari setengah waktu seorang remaja terjaga, setengahnya dihabiskan untuk menatap layar," tegas Horvath.
Ia menekankan, penguasaan ide-ide kompleks hanya bisa dicapai melalui interaksi tatap muka dan membaca buku fisik secara mendalam.
Sebab, evolusi manusia menurutnya menuntut proses belajar melalui interaksi sosial nyata dengan guru dan teman sebaya, bukan sekadar membolak-balik layar untuk membaca poin-poin ringkasan.
Baca juga: Catat Sejarah, Mengapa Gen Z di Bulgaria Turun ke Jalan hingga Gulingkan Pemerintah?
Masalah global
Kendati demikian, masalah ini ternyata tidak hanya menghantui AS.
Tren serupa ditemukan di setidaknya 80 negara yang mulai mengintegrasikan teknologi digital secara masif di ruang kelas.
Horvath menuturkan, menambah kecanggihan teknologi atau mencari metode edukasi digital yang lebih baik tidak akan menyelesaikan masalah.
Sebab, akar persoalannya terletak pada teknologi itu sendiri yang dianggap tidak sejalan dengan cara alami otak manusia tumbuh dan menyimpan informasi.
Tren selama enam dekade terakhir justru menunjukkan pola yang mengkhawatirkan, yakni semakin dominan teknologi masuk ke ruang kelas, kualitas pembelajaran cenderung mengalami penurunan.
Tag: #habiskan #waktu #lebih #lama #sekolah #tapi #kalah #cerdas #dari #milenial