Perusahaan Rusia Uji Coba Bio-Drone Pakai Merpati Hidup, Terbangnya Bisa Diatur
- Perusahaan neuroteknologi asal Rusia, Neiry, mengumumkan uji coba nyata terhadap proyek bio-drone yang melibatkan burung merpati hidup sebagai sistem pemandu.
Sebagaimana dilaporkan Jerusalem Post, Kamis (5/2/2026), proyek ini menanamkan antarmuka saraf atau neural interface ke dalam tubuh merpati untuk mengarahkan pergerakannya sesuai rute yang telah ditentukan.
Uji coba dilakukan tim Neiry di kantor Moskwa dan Dubai, dengan pengujian penerbangan berlangsung di Rusia serta sejumlah negara tetangga.
Baca juga: AS Mulai Menembak, Drone Iran Jatuh di Laut Arab
Teknologi ini dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan drone mekanis konvensional, khususnya terkait jangkauan, kapasitas beban, dan daya tahan baterai.
Cara kerja merpati “cyborg”
Menurut keterangan Neiry, burung merpati dipasangi alat pengendali berukuran kecil, panel surya di bagian punggung sebagai sumber daya, serta kamera yang berfungsi mirip dengan kamera pengawas.
Sistem tersebut memberikan semacam “dorongan” ke otak burung untuk mengikuti rute tertentu. Kamera yang dipasang diklaim mampu menyaring data identitas secara langsung, sehingga tetap mematuhi peraturan privasi yang berlaku di tiap wilayah.
Di laman resminya, Neiry menyatakan visi mereka sebagai bagian dari proyek transhumanisme:
“Viva Homo Perfectus: Advancing the next stage of human evolution with neurotechnology” atau “Mendorong tahap evolusi manusia selanjutnya dengan neuroteknologi.”
Istilah Homo Perfectus sendiri merujuk pada upaya peningkatan kapabilitas manusia melalui bantuan teknologi, melampaui keterbatasan biologis.
Sebelum menggunakan merpati, Neiry juga sempat melakukan uji coba dengan menanamkan elektroda ke tubuh sapi. Tujuannya untuk menstabilkan produksi susu dengan mengatur nafsu makan, tingkat stres, dan aktivitas ternak.
Prosedur tersebut dilakukan dalam unit bedah saraf seluler dan memakan waktu sekitar 30 menit.
Baca juga: Indonesia Tolak Beli Drone AS Saat Negosiasi Tarif, Kenapa?
Potensi penyalahgunaan
Drone serangan udara bernama Punisher buatan perusahaan Ukraina, UA Dynamics, yang dapat dipakai ulang. Uji coba dilakukan di Kyiv saat perang Rusia-Ukraina masih berkecamuk pada 11 Agustus 2023.Meski pihak Neiry menyebut bahwa teknologi ini ditujukan untuk sektor logistik, pertanian, utilitas, dan tanggap darurat, sejumlah pakar memperingatkan potensi penyalahgunaan, khususnya dalam konteks militer.
James Giordano, penasihat sains Pentagon dan profesor emeritus neurologi di Universitas Georgetown, menyampaikan kekhawatirannya kepada Bloomberg.
Ia mengatakan bahwa secara teori, bio-drone dapat difungsikan sebagai alat pemapar penyakit.
“Bio-drone tersebut dapat dengan mudah digunakan untuk mentransmisikan penyakit ke wilayah musuh,” ujarnya.
Adapun investigasi media independen anti-perang T-Invariant mengungkapkan bahwa Neiry didukung oleh investor yang memiliki keterkaitan dengan Kremlin.
Salah satu pendukung utama Neiry adalah National Technology Initiative (NTI), sebuah organisasi non-pemerintah yang dibentuk melalui dekrit mantan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev atas instruksi Presiden Vladimir Putin.
Laporan menyebutkan bahwa pada 2021, NTI telah mengucurkan dana investasi sebesar 360 juta rubel ke perusahaan tersebut.
Selain itu, Neiry juga dikaitkan dengan dukungan finansial dari sumber-sumber lain yang pro-pemerintah, termasuk perusahaan Interros milik taipan Rusia, Vladimir Potanin.
Namun, pihak Neiry membantah memiliki hubungan operasional dengan Pemerintah Rusia.
Baca juga: Perang Dingin Senjata AI, Drone China Bisa Berburu Seperti Elang
Sumber: Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru
Tag: #perusahaan #rusia #coba #drone #pakai #merpati #hidup #terbangnya #bisa #diatur