Cerita Dokter Bedah Toraks Menangani Anak Tetralogy of Fallot, Tubuh Bayi Membiru Saat Menangis
Ilustrasi bayi(FREEPIK)
15:06
3 Februari 2026

Cerita Dokter Bedah Toraks Menangani Anak Tetralogy of Fallot, Tubuh Bayi Membiru Saat Menangis

- Tangisan bayi itu seharusnya menjadi tanda lapar atau minta digendong. Namun bagi orangtua seorang anak berusia 1 tahun 4 bulan ini, setiap tangisan justru memunculkan rasa cemas. 

Perlahan, warna kulit sang anak berubah menjadi kebiruan, di wajah, bibir, hingga ujung jari. 

Bukan sekali dua kali, kondisi itu terus berulang, terutama saat ia menangis atau kelelahan, hingga akhirnya terungkap bahwa sang bayi mengidap Tetralogy of Fallot (TOF), kelainan jantung bawaan yang berbahaya.

Baca juga: Bayi Menangis tetapi Berkemih 2-3 Kali Bukan Berarti Kurang ASI

Kisah bayi dengan Tetralogy of Fallot jantung biru

Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular, Dr. dr. Budi Rahmat, SpBTKV, Subsp.JPK(K) dari BraveHeart (Center of Excellent) RS Brawijaya Saharjo, menceritakan, bayi tersebut datang dengan gejala yang cukup khas.

“Kondisinya terlihat jelas. Saat menangis atau kelelahan, tubuh anak langsung tampak biru,” ujar Budi, disadur dari siaran pers resmi Brawijaya Hospital, Selasa (3/2/2026).

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter memastikan bahwa bayi tersebut mengalami Tetralogy of Fallot, salah satu kelainan jantung bawaan yang termasuk dalam kategori jantung biru. 

Diagnosis itu sekaligus menjawab keresahan orangtua yang selama ini bingung dengan kondisi sang anak.

Gejala yang sering dianggap sepele

Menurut Budi, TOF memang kerap tidak langsung dikenali sejak bayi lahir. Pada sebagian anak, gejala baru muncul saat aktivitas meningkat, seperti ketika menangis, menyusu, atau bermain.

“Anak yang capek bermain biasa tidak akan biru. Tapi kalau capek lalu tubuhnya berubah biru, itu harus dicurigai sebagai kelainan jantung,” tegasnya.

Mengacu pada penjelasan medis dari Cleveland Clinic, Tetralogy of Fallot terjadi karena empat kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir. 

Kelainan tersebut menyebabkan darah yang seharusnya kaya oksigen justru bercampur dengan darah kotor dan dialirkan ke seluruh tubuh. 

Akibatnya, organ tubuh kekurangan oksigen dan memunculkan gejala kebiruan atau sianosis.

Selain perubahan warna kulit, anak dengan TOF juga dapat mengalami napas cepat, mudah lelah, berat badan sulit naik, hingga penurunan nafsu makan. 

Dalam kondisi tertentu, bayi bahkan bisa mengalami tet spell, yaitu penurunan kadar oksigen secara tiba-tiba yang membuat tubuh sangat lemas hingga kehilangan kesadaran.

Baca juga: Membiarkan Bayi Menangis hingga Tertidur, Bolehkah?

Banyak bayi terlahir dengan masalah jantung

Di balik kisah satu anak dengan TOF, terdapat persoalan yang jauh lebih besar. Menurut Budi, kelainan jantung bawaan masih menjadi masalah serius di Indonesia. 

Setiap tahunnya, diperkirakan sekitar 50 ribu bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan, dan sebagian di antaranya berada dalam kondisi yang mengancam nyawa sejak awal kehidupan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 12.500 bayi masuk kategori kritis dan membutuhkan penanganan medis dalam bulan pertama setelah lahir. Kondisi ini membuat waktu menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan anak.

“Bayangkan, 12.500 anak per tahun itu harus ditangani dalam satu bulan,” tuturnya.

Sayangnya, kapasitas layanan kesehatan untuk menangani kelainan jantung bawaan di Indonesia masih belum sebanding dengan jumlah kasus yang ada. 

Secara nasional, kemampuan penanganan baru mencapai sekitar 3.000 pasien per tahun, dan angka tersebut mencakup seluruh jenis kelainan jantung bawaan, bukan hanya kasus berat seperti TOF.

“Ini menjadi tantangan besar karena masih banyak anak yang belum tertangani secara optimal,” kata Budi.

Operasi koreksi total demi keselamatan anak

Melihat kondisi pasien yang berisiko, tim medis memutuskan untuk segera melakukan operasi koreksi total. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.

Jika terlambat ditangani, TOF bisa mengganggu tumbuh kembang anak, merusak organ vital, bahkan mengancam nyawa.

Operasi koreksi total bertujuan menutup lubang di sekat jantung dan melebarkan jalur aliran darah ke paru-paru. 

Baca juga: Selain Lapar, Apa yang Menyebabkan Bayi Menangis di Malam Hari?

Tindakan ini dilakukan dengan bantuan mesin jantung paru (heart-lung machine) yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru selama operasi berlangsung.

Menurut Cleveland Clinic, dengan kemajuan teknologi medis saat ini, operasi TOF memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. 

“Dengan teknologi saat ini, angka keberhasilan operasi sangat tinggi. Tingkat kegagalan di dunia sekitar 1,5 - 2 persen, dan kita di Indonesia terus menuju ke angka tersebut saat ini di kisaran 3%,” tambah Budi.

Sebagian besar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan kualitas hidup yang jauh lebih baik setelah menjalani prosedur ini, meski tetap memerlukan pemantauan jangka panjang.

Tag:  #cerita #dokter #bedah #toraks #menangani #anak #tetralogy #fallot #tubuh #bayi #membiru #saat #menangis

KOMENTAR