“Brain Rot” Ramai di Media Sosial, Pakar Ungkap Dampaknya bagi Otak
Ilustrasi kebiasaan bermain hp setelah bangun tidur. Istilah brain rot yang sering dipakai warganet ternyata merujuk pada masalah nyata dalam cara otak merespons konten digital.(Freepik/tirachardz)
18:06
1 Februari 2026

“Brain Rot” Ramai di Media Sosial, Pakar Ungkap Dampaknya bagi Otak

Istilah brain rot semakin sering muncul di media sosial untuk menggambarkan kondisi ketika otak terasa “tumpul” akibat terlalu lama mengonsumsi konten digital.

Fenomena ini merujuk pada kebiasaan menggulir video pendek tanpa henti, yang alih-alih menyegarkan pikiran justru memicu kecemasan dan menurunkan fokus.

Meski bukan istilah medis, para pakar menilai brain rot mencerminkan masalah nyata dalam cara otak merespons konten online.

Ahli saraf dan psikolog menegaskan, kebiasaan ini berpotensi memengaruhi perhatian, daya belajar, hingga kesehatan mental, terutama pada anak dan remaja.

Baca juga: 5 Jenis Makanan untuk Menjaga Kesehatan Otak, Termasuk Ikan Berlemak

Fenomena brain rot

CNN melaporkan, brain rot awalnya digunakan sebagai istilah slang untuk menyebut konten ringan yang absurd atau tidak masuk akal.

Namun, istilah ini berkembang menjadi keluhan kolektif tentang efek media sosial yang dianggap membuat penggunanya lebih cemas, sulit fokus, dan kehilangan kemampuan berpikir mendalam.

Konten kreator asal Berlin, Tiziana Bucec, menjadi salah satu figur yang mengangkat isu ini lewat seri video yang mengajak audiens lebih sadar dalam menggunakan media sosial.

“Saya lelah merasa media sosial membuat kita lebih cemas dan kurang sadar,” ujar Bucec dalam pernyataannya.

Baca juga: 7 Nutrisi Terbaik untuk Kesehatan Otak Kita

Penjelasan ilmiah di balik brain rot

Ilustrasi main HP. Istilah brain rot yang sering dipakai warganet ternyata merujuk pada masalah nyata dalam cara otak merespons konten digital.Pexels/Miriam Alonso Ilustrasi main HP. Istilah brain rot yang sering dipakai warganet ternyata merujuk pada masalah nyata dalam cara otak merespons konten digital.

Profesor Neurologi Weill Cornell Medicine, Dr. Costantino Iadecola, menegaskan brain rot bukan istilah ilmiah, tetapi mekanismenya dapat dijelaskan lewat ilmu saraf.

Ia menyebut pola menggulir tanpa sadar memiliki kemiripan dengan mekanisme kecanduan, seperti pada alkohol atau judi.

“Pada remaja dengan kecanduan internet, ditemukan gangguan sinyal di area otak yang mengatur perhatian dan memori kerja,” kata Iadecola kepada CNN.

Ia menambahkan, konsumsi konten berkualitas rendah dalam waktu lama berpotensi berdampak buruk pada fungsi kognitif.

Baca juga: Brain Rot, Istilah Kekinian akibat Kecanduan Konten Receh di Medsos

Mengapa konten pendek jadi pemicu

Menurut Dr. Nidhi Gupta, dokter anak dan penulis buku Calm the Noise, pemicu utama brain rot adalah konten digital berkualitas rendah.

Video pendek dirancang untuk memberikan lonjakan dopamin yang cepat, sehingga pengguna terdorong terus kembali dan sulit berhenti.

“Rentang perhatian kita terbatas, dan ketika terlalu banyak konten berebut perhatian, ada hal penting yang terlewat, seperti kesehatan, relasi, atau tidur,” ujar Gupta.

Ia menilai kebiasaan ini membuat otak terbiasa pada rangsangan instan dan kesulitan menikmati aktivitas yang menuntut fokus lebih lama.

Bukan hanya masalah anak

Iadecola mengakui anak-anak paling berisiko karena masa perkembangan otak membutuhkan pengalaman sosial dan emosional yang beragam.

Anak yang terlalu lama terpaku pada layar berpotensi kehilangan kesempatan belajar membaca ekspresi wajah, emosi, dan interaksi sosial. Namun, Gupta menegaskan masalah ini bukan hanya milik anak-anak.

“Kecanduan layar bukan lagi masalah anak, ini masalah manusia,” katanya.

Baca juga: Apakah Konten Receh Merusak Otak? Ini Kata Ahli Tentang Brain Rot

Pandangan psikolog soal brain rot

Psikolog klinis asal Ohio, Dr. Lisa Damour, menilai penggunaan istilah brain rot oleh remaja justru menunjukkan kesadaran diri.

Ia mengingatkan setiap generasi memiliki bentuk hiburan “ringan” yang kerap dipandang negatif oleh generasi sebelumnya.

“Selama anak-anak tetap memenuhi tanggung jawab dan berfungsi dengan baik, mereka tetap berhak menikmati hiburan tanpa beban,” kata Damour.

Menurutnya, kuncinya adalah keseimbangan, bukan larangan total.

Baca juga: 9 Kebiasaan Pagi yang Membantu Menjaga Kesehatan Otak

Cara mengurangi dampak brain rot

Profesor Informatika University of California, Irvine, Dr. Gloria Mark, menyarankan pembatasan penggunaan media sosial secara realistis.

“Jika seseorang mudah terjebak berjam-jam di media sosial, batasan sangat diperlukan,” ujarnya.

Gupta menambahkan perubahan lingkungan lebih efektif daripada sekadar mengandalkan niat.

“Menghapus aplikasi dan mengakses media sosial lewat browser bisa membantu, karena tidak dirancang se-adiktif aplikasi,” katanya.

Membatasi waktu layar

Fenomena brain rot mencerminkan kegelisahan modern terhadap banjir konten digital yang terus menuntut perhatian.

Meski bukan istilah medis, para ahli sepakat kebiasaan ini perlu disikapi dengan kesadaran dan pengaturan yang lebih sehat.

Mengelola waktu layar dinilai bukan tentang memusuhi teknologi, tetapi memastikan otak tetap punya ruang untuk berpikir, belajar, dan beristirahat.

Baca juga: Merawat Kesehatan Otak untuk Ketahanan Mental

Tag:  #brain #ramai #media #sosial #pakar #ungkap #dampaknya #bagi #otak

KOMENTAR