Kisah Satgas MTF Indonesia, 12 Hari di Bawah Lintasan Rudal Israel-Iran
Komandan Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda (KONGA) XXVIII-P, Letnan Kolonel Laut (P) Anugerah Annurullah di Geladak KRI Sultan Iskandar Muda, Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/2/2026).(KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI)
21:10
1 Februari 2026

Kisah Satgas MTF Indonesia, 12 Hari di Bawah Lintasan Rudal Israel-Iran

- Selama lebih dari satu tahun penugasan, Laut Mediterania kerap menyuguhkan wajah yang tenang bagi Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda (KONGA) XXVIII-P.

Gelombang menggulung wajar, patroli berjalan rutin, dan radar Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 menyapu lalu lintas laut seperti hari-hari biasa.

Baca juga: KSAL: KRI Sultan Iskandar Muda Jadi Satu-satunya Kapal Berhelikopter di Misi UNIFIL

Laut tampak damai, seolah jauh dari hiruk-pikuk konflik daratan Timur Tengah. Namun, ketenangan itu runtuh dalam sekejap.

Dalam rentang 12 hari, prajurit Satgas MTF Indonesia menghadapi periode paling menegangkan sepanjang masa tugas mereka di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Letnan Kolonel Laut (P) Anugerah Annurullah, Komandan Satgas MTF Indonesia ke-28, masih mengingat jelas masa-masa itu.

Ingatan tersebut kembali hadir saat ia berdiri di geladak KRI Sultan Iskandar Muda yang bersandar di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/2/2026), setelah menyelesaikan tugas.

Perang 12 hari Israel vs Iran

Pada pertengahan Juni 2025, konflik terbuka antara Israel dan Iran meletus. Meski pertempuran tidak terjadi langsung di wilayah Lebanon, dampaknya terasa hingga ke perairan yang dijaga pasukan perdamaian PBB, termasuk unsur Indonesia.

Baca juga: KRI Sultan Iskandar Muda Tiba di Tanah Air Usai 14 Bulan Misi di Lebanon

“Situasi di perairan Lebanon relatif aman atau eskalasinya tidak terlalu tinggi. Namun, kita sempat mengalami suatu eskalasi yang tinggi pada saat terjadi perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni kemarin,” kata Anugerah.

Pada periode itu, Iran meluncurkan sejumlah rudal jelajah dengan lintasan tidak langsung. Misil berpemandu tersebut terbang rendah, memutar melewati wilayah Suriah, Lebanon, dan Laut Mediterania sebelum mengarah ke Israel.

Di saat bersamaan, sistem pertahanan udara Israel melakukan intersepsi di udara. Tanpa pernah direncanakan, KRI Sultan Iskandar Muda berada tepat di bawah lintasan serangan.

“Ketika itu kami sedang melaksanakan tugas patroli di sekitar perbatasan laut dan kita menjadi tepat berada di bawah line of fire atau bisa dikatakan bahwa serangan lintasan rudal itu tepat berada di atas kepala kita,” ungkap Anugerah.

Baca juga: Perdana, KRI Prabu Siliwangi-321 Uji Tembak Meriam Raksasa 127 Mm

Situasi tersebut menjadi eskalasi tertinggi yang dialami Satgas MTF Indonesia selama masa tugas. Meski hanya berlangsung singkat, ketegangannya terasa nyata dan membekas. Tekanan psikologis tak terelakkan.

Saat pertama kali menyadari kapal berada di bawah lintasan serangan, perasaan prajurit bercampur aduk. Ada khawatir, was-was, bahkan takut.

Namun, bersamaan dengan itu, tumbuh pula kesiapan dan naluri profesional sebagai prajurit.

“Kita tidak memungkiri bahwa pada saat pertama kita mendeteksi kejadian itu dan tepat berada di atas kepala kita, itu perasaan berkecamuk,” ujar Anugerah.

“Yang pertama ada rasa khawatir, ada rasa was-was, ada rasa takut juga, kita juga manusia itu hal yang wajar. Tapi di satu sisi kita excited. Karena selama ini kita dilatih untuk ini,” tegas dia lagi.

Baca juga: 6 KRI, 4 Helikopter, dan Prajurit Kopaska Dikerahkan untuk Banjir Sumatera

Prosedur yang selama ini hanya menjadi latihan langsung dijalankan. KRI Sultan Iskandar Muda bermanuver untuk menjaga keamanan unsur kapal dan melindungi seluruh prajurit di dalamnya.

Setiap perkembangan situasi dilaporkan secara berkelanjutan kepada markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Selama 12 hari tersebut, kemampuan tempur kapal dimaksimalkan.

KRI Sultan Iskandar Muda memiliki kapabilitas peperangan anti-permukaan dan anti-udara, termasuk menghadapi ancaman pesawat, drone, hingga rudal.

Radar udara beroperasi tanpa henti, memantau setiap pergerakan di ruang udara Lebanon dan sekitarnya.

“Kita melaksanakan air surveillance, radar udara kita terus menerus (bekerja) untuk memantau situasi udara, di mana pesawatnya Israel bermanuver, di mana datangnya rudal-rudal tersebut,” jelas dia.

Baca juga: Mengenal KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, Tempat Prabowo Saksikan Sailing Pass

Di luar masa eskalasi tersebut, tugas Satgas MTF lebih banyak diwarnai patroli rutin dan pengawasan ketat. Hampir setiap hari, pelanggaran wilayah udara oleh Israel terdeteksi, baik oleh pesawat maupun drone.

Setiap pelanggaran dicatat dan dilaporkan secara konsisten ke UNIFIL, bersama unsur MTF dari negara lain seperti Jerman, Bangladesh, Turki, dan Yunani.

Selama 14 bulan penugasan, Anugerah menegaskan bahwa situasi di laut sangat dipengaruhi kondisi di darat, terutama konflik di Lebanon Selatan.

Baca juga: Indonesia Tak Lagi Kirim Pasukan MTF ke Misi PBB di Lebanon, Ini Alasannya

Tugas pasukan perdamaian di laut adalah memastikan perairan tidak digunakan untuk memperluas konflik, termasuk mencegah masuknya senjata ilegal yang dapat memperburuk stabilitas keamanan di daratan Lebanon.

Bagi Satgas MTF KONGA XXVIII-P, 14 bulan penugasan adalah perjalanan panjang menjaga perdamaian.

Namun, di antara ratusan hari patroli, ada 12 hari yang menjadi pengingat bahwa di laut yang tampak tenang sekalipun, prajurit perdamaian bisa berdiri tepat di bawah bayang-bayang perang.

Tag:  #kisah #satgas #indonesia #hari #bawah #lintasan #rudal #israel #iran

KOMENTAR