Instal Strava Saja Tak Cukup Bagi Saya yang Rutin Lari, Tetap Butuh Smartwatch
Ilustrasi fitur Strava Year in Sport di aplikasi Strava.(KOMPAS.com/Bill Clinten)
19:09
1 Februari 2026

Instal Strava Saja Tak Cukup Bagi Saya yang Rutin Lari, Tetap Butuh Smartwatch

- Lari merupakan kegiatan olahraga ringan yang bisa dilakukan dengan mudah kapan saja tanpa peralatan.

Untuk menemani lari, sebagian orang, termasuk saya, menggunakan aplikasi Strava yang bisa dipasang di ponsel. 

Strava merupakan aplikasi yang bisa merekam sekaligus mencatat beberapa detail utama terkait performa dan kegiatan lari kita. 

Beberapa detail yang bisa diketahui meliputi kecepatan berlari (pace), jarak berlari (distance), hingga waktu (duration) lari kita. 

Baca juga: Strava Rilis Instant Workouts, Mirip Fitur di Garmin

Meski terbilang cukup lengkap, memasang Strava saja ternyata tak cukup untuk mendukung dan memantau kegiatan lari seseorang, terutama saya yang ingin lebih rutin berlari dengan target latihan tertentu.

Strava cocok untuk pelari pemula

Bagi sebagian pelari, terutama mereka yang ingin memulai lari, Strava merupakan pilihan bagus untuk merekam aktivitas lari mereka. 

Sebab, aplikasi ini bisa mencatat tiga metrik utama dalam berlari, yaitu pace, distance, dan duration, seperti disebutkan di atas tadi. 

Selain itu, fitur perekam lari di Strava juga mudah digunakan. Pengguna cukup mengeklik tombol "Record" dan aplikasi akan melibatkan sinyal GPS untuk pencatatan lokasi akurat.

Ketika berlari, pengguna bisa melihat performa larinya secara langsung, lengkap dengan tampilan peta untuk memantau jalur dan rute lari mereka.

Secara umum, berdasarkan pengalaman saya, Strava saja sudah bisa memberikan informasi penting yang dibutuhkan bagi pelari. 

Baca juga: Strava Year in Sport 2025 Sudah Bisa di Indonesia, Begini Cara Bikinnya

Bisa catat pace, jarak, dll, tapi…

Tampilan hasil lari Strava tanpa menggunakan smartwatch (kiri) dan hasil sinkron dari smartwatch di Strava (kanan). Bisa dilihat, gambar di sebelah kanan menampilkan informasi detak jantung karena sudah terhubung dengan smartwatch.KOMPAS.com/Bill Clinten Tampilan hasil lari Strava tanpa menggunakan smartwatch (kiri) dan hasil sinkron dari smartwatch di Strava (kanan). Bisa dilihat, gambar di sebelah kanan menampilkan informasi detak jantung karena sudah terhubung dengan smartwatch.

Meski Strava mampu mencatat metrik dasar lari seperti pace, jarak, dan durasi, aplikasi ini tetap memiliki keterbatasan jika digunakan hanya mengandalkan ponsel.

Salah satu kekurangannya adalah akurasi data GPS yang bisa berubah-ubah. Menurut blog lari RunWeekly, kekuatan sinyal GPS di HP memang bergantung pada posisi ponsel saat dibawa berlari.

Ponsel yang disimpan di saku atau tas pinggang, misalnya, berpotensi kehilangan sinyal satelit, sehingga jarak dan pace yang tercatat bisa meleset.

Selain itu, Strava di ponsel tidak bisa mengukur kondisi tubuh secara langsung, seperti detak jantung (heart rate) real-time, zona latihan, atau tingkat kelelahan tubuh.

Alhasil, angka-angka yang ditampilkan Strava kerap membuat saya terpancing berlari lebih cepat, tanpa benar-benar tahu apakah intensitas tersebut sesuai dengan kemampuan tubuh saya atau tidak.

Di titik inilah saya mulai merasa bahwa lari bukan sekadar soal mencatat, melihat, atau mengejar angka yang tampil di layar Strava, tetapi juga memahami kondisi fisik selama latihan.

Baca juga: Strava Rilis Fitur For a Cause, Pengguna Bisa Olahraga Sambil Kampanye Sosial

Keunggulan smartwatch

Untuk mengatasi keterbatasan Strava, saya menggunakan arloji pintar (smartwatch) sebagai pendamping lari.

Jam tangan pintar olahraga umumnya dibekali sensor dan GPS khusus yang dirancang untuk aktivitas fisik.

Salah satu contoh smartwatch yang relevan untuk pelari adalah Garmin Instinct Crossover AMOLED yang saat ini sedang saya pakai.

Arloji pintar ini menggabungkan desain analog dengan layar AMOLED 1,2 inci (390 x 390 piksel) yang bisa menampilkan gambar tajam dan terang, namun tetap mengusung fitur olahraga yang cukup lengkap.

Smartwatch Garmin Instinct Crossover AMOLED ketika dipakai.KOMPAS.com/Bill Clinten Smartwatch Garmin Instinct Crossover AMOLED ketika dipakai.

Nah, dengan smartwatch, saya bisa memantau detak jantung secara real-time, melihat zona latihan, hingga mengetahui apakah lari yang dilakukan tergolong ringan (easy run) atau justru terlalu berat.

Baca juga: Strava: Boomer Latihan Paling Jauh, Gen Z Paling Aktif Jelang Jakarta Running Festival 2025

Ketika detak jantung saya terlalu tinggi (misalnya 190 detak per menit/bpm untuk umur 30-an tahun), contohnya, saya bisa berhenti lari sejenak supaya detak jantung turun secara perlahan.

Sebab, berlari ketika detak jantung tinggi, menurut blog kesehatan Healthline, berbahaya bagi pelari tersebut. 

Beberapa smartwatch juga menyediakan data tambahan seperti cadence (langkah per menit), estimasi VO2 max yang biasanya menilai kebugaran tubuh kita dan pengaruhnya terhadap performa lari, hingga saran pemulihan.

Keunggulan lainnya adalah daya tahan baterai. Smartwatch olahraga umumnya mampu merekam aktivitas GPS selama belasan jam, jauh lebih awet dibanding ponsel yang baterainya cepat terkuras saat GPS dan aplikasi aktif bersamaan.

Adapun Garmin Instinct Crossover AMOLED milik saya punya baterai yang tahan hingga dua minggu dalam satu kali pengisian. 

Data smartwatch bisa sinkron ke Strava

Meski menggunakan smartwatch, saya tetap memanfaatkan Strava sebagai pusat pencatatan aktivitas lari. Sebab, sebagian besar smartwatch bisa menyinkronkan data secara otomatis ke Strava.

Dengan begitu, semua aktivitas lari tetap tercatat di satu platform, lengkap dengan peta rute, statistik mingguan, hingga fitur sosial seperti komentar dan “kudos” atau like dari sesama pelari.

Bedanya, data yang masuk ke Strava menjadi lebih lengkap dan akurat karena bersumber dari sensor smartwatch, bukan hanya perkiraan dari ponsel.

Ketika hasil lari dari smartwatch disinkronkan dengan Strava, maka pengguna nantinya akan bisa melihat detak jantung per menit, hingga metrik performa lari dan jarak yang lebih akurat.

Baca juga: Kesan Awal Pakai Smartwatch Garmin Instinct Crossover AMOLED, Jam Tangguh yang Ringan

Jadi, apa butuh smartwatch atau cukup Strava saja?

Cara membuat Strava Year in Sport di aplikasi Strava.KOMPAS.com/Bill Clinten Cara membuat Strava Year in Sport di aplikasi Strava.

Lantas, apakah kita hanya butuh Strava saja atau perlu smartwatch untuk lari? Jawabannya tergantung kebutuhan masing-masing pelari.

Bagi pelari pemula atau mereka yang hanya ingin berlari santai sesekali, Strava di ponsel sudah lebih dari cukup untuk mencatat aktivitas dasar.

Namun, bagi pelari yang ingin berlari lebih rutin, mengikuti program latihan, atau menargetkan peningkatan performa tertentu, smartwatch bisa menjadi pendukung yang sangat membantu.

Bagi saya pribadi, kombinasi smartwatch dan Strava membuat lari terasa lebih terarah.

Kini, saya tidak lagi sekadar mengejar angka di layar, tetapi juga belajar memahami kondisi tubuh di setiap sesi latihan.

Pada akhirnya, yang terpenting bukan aplikasinya atau perangkatnya, melainkan konsistensi dan kemampuan mendengarkan tubuh sendiri saat berlari.

Tag:  #instal #strava #saja #cukup #bagi #saya #yang #rutin #lari #tetap #butuh #smartwatch

KOMENTAR