Child Grooming Mengintai Anak di Dunia Digital, Perhatian Berlebihan Bisa Jadi Perangkap
Ilustrasi anak bermain gadget. Psikiater mengingatkan bahwa perhatian intens di ruang digital dapat menjadi awal child grooming yang sering tidak disadari oleh anak maupun orangtua.(Freepik)
12:06
19 Januari 2026

Child Grooming Mengintai Anak di Dunia Digital, Perhatian Berlebihan Bisa Jadi Perangkap

Child grooming semakin rentan terjadi di ruang digital, ketika perhatian berlebihan di media sosial, gim online, atau pesan pribadi disalahartikan sebagai kepedulian.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa relasi daring yang terasa aman dan privat justru kerap menjadi pintu masuk manipulasi psikologis terhadap anak.

Fenomena ini juga menjadi refleksi dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang menyoroti bagaimana luka masa kecil dapat tumbuh dari relasi yang tampak aman.

Mengapa dunia digital rentan terhadap grooming

Interaksi digital memungkinkan pelaku membangun kedekatan tanpa batas ruang dan waktu. Pelaku dapat hadir setiap saat melalui pesan pribadi, komentar, atau panggilan daring.

Menurut Lahargo, intensitas komunikasi inilah yang sering disalahartikan anak sebagai bentuk perhatian dan kepedulian.

Padahal, kedekatan yang dibangun secara tertutup justru menjadi celah manipulasi.

Pola awal grooming di ruang digital

Child grooming di dunia digital umumnya dimulai dari hal-hal yang tampak sepele.

Pelaku memberikan pujian berlebihan, perhatian intens, atau hadiah virtual yang membuat anak merasa istimewa. Anak kemudian diajak berbagi cerita personal dan membangun rahasia berdua.

“Di dunia digital, perhatian berlebihan bukan selalu cinta, bisa jadi perangkap,” kata Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

Rahasia ini membuat anak semakin terikat dan enggan bercerita kepada orang dewasa di sekitarnya.

Ketika percakapan mulai bergeser

Ilustrasi anak main ponsel. Psikiater mengingatkan bahwa perhatian intens di ruang digital dapat menjadi awal child grooming yang sering tidak disadari oleh anak maupun orangtua.iStockPhoto/Orbon Alija Ilustrasi anak main ponsel. Psikiater mengingatkan bahwa perhatian intens di ruang digital dapat menjadi awal child grooming yang sering tidak disadari oleh anak maupun orangtua.

Seiring waktu, pelaku mulai menggeser batasan dalam komunikasi. Topik pembicaraan perlahan berubah menjadi lebih personal atau membuat anak merasa tidak nyaman.

Namun, karena prosesnya bertahap, anak sering kali tidak yakin apakah yang dialaminya salah. Kebingungan ini menjadi tanda bahwa batasan telah mulai dilanggar.

“Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan,” ujar Lahargo.

Mengapa anak sulit menolak di dunia digital

Di ruang digital, anak sering merasa memiliki kendali karena berada di balik layar. Namun, Lahargo menjelaskan bahwa pelaku justru memanfaatkan rasa aman semu tersebut.

Anak dapat merasa takut kehilangan perhatian atau khawatir rahasia yang dibagikan akan disalahgunakan.

Kondisi ini membuat anak sulit memutus komunikasi meski merasa tidak nyaman.

Peran orangtua di ruang digital anak

Pencegahan child grooming di dunia digital tidak dapat dilakukan dengan pengawasan ketat semata.

Orangtua perlu terlibat dengan memahami aktivitas daring anak, tanpa menciptakan suasana saling curiga.

Lahargo menekankan pentingnya membangun dialog terbuka tentang pengalaman anak di dunia digital. Ketika anak merasa aman bercerita, potensi manipulasi dapat dikenali lebih awal.

“Kedekatan orangtua adalah benteng pertama, bukan pengawasan ketat,” kata Lahargo.

Mengenali batasan aman di dunia maya

Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan relasi digital. Orangtua dapat membantu anak membedakan antara perhatian yang wajar dan perhatian yang berlebihan.

Pembicaraan tentang rahasia yang aman dan rahasia yang berbahaya menjadi bagian penting dari perlindungan.

Dengan pemahaman ini, anak lebih siap menghadapi interaksi digital yang kompleks.

Dunia digital merupakan bagian dari kehidupan anak masa kini. Melarang tanpa penjelasan justru dapat membuat anak mencari ruang aman di luar pengawasan keluarga.

Pendekatan yang hadir, terbuka, dan empatik membantu anak merasa terlindungi tanpa merasa dikekang.

Child grooming di dunia digital menunjukkan bahwa perhatian tidak selalu berarti kepedulian.

Kesadaran bersama menjadi kunci agar ruang digital tidak berubah menjadi ruang yang melukai.

Tag:  #child #grooming #mengintai #anak #dunia #digital #perhatian #berlebihan #bisa #jadi #perangkap

KOMENTAR