Indonesia Peringkat Pertama Kasus TBC Dunia, Ini Kelompok yang Paling Berisiko
Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan rasio kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia, melampaui India jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk.
Pemerintah mengakui masih banyak kasus TBC yang tidak terdeteksi, sehingga penularan terus berlangsung di masyarakat.
Kondisi ini membuat sejumlah kelompok berada dalam risiko jauh lebih besar untuk terinfeksi dan jatuh sakit.
Faktor daya tahan tubuh, penyakit penyerta, hingga lingkungan tempat tinggal menjadi penentu utama.
Baca juga: Faktor Risiko TBC yang Perlu Diketahui Menurut Dokter Paru
Beban TBC nasional masih sangat tinggi
Diberitakan Kompas.com, Kamis (29/1/2026), Wakil Menteri Kesehatan II Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan Indonesia mencatat 386 kasus TBC per 100.000 penduduk, jauh di atas India yang berada di angka 190 kasus per 100.000 penduduk.
Tingginya rasio tersebut menunjukkan penularan TBC di Indonesia masih aktif dan belum tertangani secara optimal.
Benjamin menjelaskan karakter TBC yang berkembang perlahan membuat banyak penderita tetap beraktivitas seperti biasa pada fase awal, sehingga penyakit sering luput dari perhatian dan tidak segera diobati.
Baca juga: Gejala TBC yang Perlu Dikenali Sejak Dini, Ini Penjelasan Dokter Paru
Faktor risiko TBC
Ilustrasi penderita TBC. Indonesia mencatat rasio kasus TBC tertinggi di dunia, dan sejumlah kelompok ini menghadapi risiko paling besar tanpa disadari.
Berikut adalah beberapa faktor risiko TBC yang perlu diketahui.
-
Orang dengan daya tahan tubuh lemah
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menegaskan bahwa siapa pun dapat terinfeksi TBC, tetapi risiko berkembang menjadi TBC aktif jauh lebih tinggi pada orang dengan sistem imun yang melemah.
Kelompok ini mencakup penderita HIV, diabetes, penyakit ginjal berat, kanker kepala dan leher, serta mereka yang menjalani terapi imunosupresif seperti kortikosteroid atau obat penyakit autoimun.
CDC menyebut orang dengan daya tahan tubuh lemah lebih sulit mengendalikan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, sehingga penyakit lebih mudah berkembang menjadi TBC aktif.
Baca juga: Beda Batuk Biasa dan Batuk TBC, Ini Penjelasan Dokter Paru
-
Diabetes dan malnutrisi
Jurnal Pulmonary Medicine mencatat diabetes sebagai salah satu faktor risiko terbesar TBC di negara berkembang.
Penderita diabetes memiliki risiko sekitar tiga kali lipat lebih tinggi mengalami TBC aktif dibandingkan orang tanpa diabetes karena respons imun yang terganggu.
Selain diabetes, kondisi gizi buruk juga berperan besar. Kekurangan nutrisi melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi serta memperlambat proses penyembuhan.
-
Anak-anak, lansia, dan perokok
CDC juga menempatkan anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun, sebagai kelompok berisiko tinggi karena sistem imun yang belum matang. Lansia menghadapi risiko serupa akibat penurunan fungsi kekebalan tubuh secara alami.
Kebiasaan merokok turut meningkatkan risiko TBC. Paparan asap rokok merusak pertahanan paru-paru, sehingga bakteri TBC lebih mudah bertahan dan berkembang.
Perokok tercatat memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi terkena TBC dibandingkan non-perokok.
-
Lingkungan padat dan ventilasi buruk
Faktor lingkungan menjadi pemicu penting penularan TBC. Rumah padat penghuni, ventilasi minim, dan kurangnya sinar matahari menciptakan kondisi ideal bagi kuman TBC bertahan lama di udara.
Benjamin menyebut kuman TBC dapat hidup hingga enam bulan di rumah lembap tanpa cahaya matahari, tetapi bisa mati dalam 15–30 menit jika terpapar sinar matahari langsung.
Baca juga: Langkah Pengobatan TBC yang Perlu Dipahami Pasien, Ini Penjelasan Dokter Paru
Deteksi dini masih jadi tantangan
Pemerintah mengakui banyak kasus TBC belum terdeteksi.
Di Kulon Progo, misalnya, jumlah kasus terlapor baru mencapai sekitar separuh dari estimasi, sehingga ratusan penderita berpotensi menularkan penyakit di lingkungan sekitarnya.
CDC menegaskan TBC sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan jika terdeteksi lebih awal dan diobati hingga tuntas.
Karena itu, pemeriksaan dini pada kelompok berisiko menjadi kunci untuk menekan penularan dan menurunkan beban TBC nasional.
Baca juga: Makanan yang Harus Dihindari Saat Minum Obat TBC, Ini Penjelasan Dokter Paru
Tag: #indonesia #peringkat #pertama #kasus #dunia #kelompok #yang #paling #berisiko