The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Terkoreksi
Ilustrasi Bitcoin.(DOK. Shutterstock.)
20:56
29 Januari 2026

The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Terkoreksi

Harga bitcoin (BTC) kembali melemah pada Kamis (29/1/2026) dan turun ke bawah level 90.000 dollar AS setelah bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) mengumumkan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026.

Dalam pernyataan resminya, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50 sampai 3,75 persen.

Keputusan tersebut sejatinya sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar. Namun, respons negatif tetap muncul pada aset-aset berisiko, termasuk pasar kripto.

Baca juga: Pasar Kripto Melemah, Bitcoin Kembali di Bawah Tekanan Jual

Ilustrasi bitcoin.UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin.

Tekanan terhadap bitcoin terjadi sehari setelah aset kripto terbesar itu sempat diperdagangkan di atas 90.000 dollar AS pada Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan data pasar global, penguatan Bitcoin pada Rabu sebelumnya didorong oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan tidak khawatir terhadap pelemahan dollar AS.

Namun, sentimen tersebut tidak bertahan lama, seiring meningkatnya sikap hati-hati investor institusional.

Kehati-hatian tersebut tercermin dari arus dana keluar pada produk spot bitcoin exchange-traded fund (ETF) di AS yang mencapai 147,37 juta dollar AS.

Baca juga: Bitcoin Pimpin Reli, Pasar Kripto Menguat dalam 24 Jam Terakhir

Arus keluar dana ini menunjukkan bahwa sebagian investor institusi memilih mengurangi eksposur terhadap aset kripto di tengah kepastian kebijakan moneter yang belum berubah.

Wakil Presiden INDODAX Antony Kusuma menilai pergerakan harga bitcoin saat ini merupakan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter yang sebelumnya telah diantisipasi.

“Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dorongan baru bagi pasar,” ujar Antony dalam keterangannya, Kamis.

Ilustrasi bitcoin. FREEPIK/FABRIKASIMF Ilustrasi bitcoin.

Menurut Antony, volatilitas jangka pendek yang terjadi setelah pengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang kerap muncul di pasar kripto global. Ia menilai peristiwa FOMC sering menjadi momentum bagi investor untuk melakukan evaluasi portofolio.

Baca juga: Bitcoin Naik 1,8 Persen, Altcoin Ikut Hijau dalam 24 Jam Terakhir

“Peristiwa seperti FOMC sering menjadi momen evaluasi bagi investor. Pergerakan harga yang terjadi mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang sudah dikonfirmasi secara resmi,” lanjutnya.

Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, sentimen positif justru muncul dari sisi adopsi pemerintah dan institusional.

Salah satunya datang dari AS, di mana negara bagian South Dakota resmi mengajukan rancangan undang-undang pembentukan cadangan bitcoin atau Bitcoin Reserve.

Melalui rancangan aturan tersebut, South Dakota berpotensi mengalokasikan hingga 10 persen dari total dana kelolaan pemerintah negara bagian ke bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset.

Baca juga: Harga Bitcoin Terpuruk dalam 24 Jam, Altcoin Ikut Terseret

Dana yang digunakan untuk cadangan tersebut disebut berasal dari pendapatan pemerintah negara bagian.

Antony menilai langkah tersebut mencerminkan penguatan fundamental bitcoin di luar fluktuasi harga jangka pendek yang terjadi di pasar.

“Di tengah koreksi jangka pendek saat ini, ada juga perkembangan positif yang patut dicermati para investor. Adopsi bitcoin di level pemerintah dan institusional menunjukkan bahwa fundamental bitcoin terus berkembang, terlepas dari dinamika harga harian,” ujar Antony.

Ia menambahkan, volatilitas yang terjadi di pasar kripto saat ini tidak dapat dilepaskan dari tekanan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi.

Baca juga: BlackRock Soroti Potensi Bitcoin saat Harga Emas Terus Menguat

Menurut Antony, dinamika makroekonomi global yang cepat berubah menuntut investor untuk aktif mengikuti perkembangan informasi dan memahami konteks risiko sebelum mengambil keputusan.

Vice President Indodax Antony Kusuma.DOK. INDODAX Vice President Indodax Antony Kusuma.

“Investor perlu menjaga disiplin dan terus memperbarui wawasan. Contohnya dengan memanfaatkan pendekatan bertahap, seperti Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara berkala guna menekan risiko fluktuasi harga yang tajam,” kata Antony.

Ia juga menyebutkan, pelaku pasar dapat memanfaatkan berbagai sumber edukasi untuk memahami dinamika pasar kripto yang terus berkembang.

“Untuk membantu strategi investasi di tengah volatilitas saat ini, pelaku pasar juga dapat memanfaatkan sumber edukasi dan berita seperti INDODAX Academy yang menyediakan pembahasan rutin terkait berita dan dinamika pasar terkini,” tutur Antony.

Tag:  #tahan #suku #bunga #bitcoin #kembali #terkoreksi

KOMENTAR