Virus Nipah Jadi Sorotan Global, IDAI Tegaskan Indonesia Masih Nol Kasus Manusia
Virus Nipah kembali menjadi sorotan global setelah muncul laporan kasus di India dan peringatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa hingga kini Indonesia belum mencatat satu pun kasus virus Nipah pada manusia.
Ia mengingatkan virus ini memiliki tingkat kematian tinggi, mencapai 40–75 persen, serta belum tersedia obat antivirus maupun vaksin.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan melalui langkah pencegahan tanpa terjebak kepanikan.
Baca juga: Virus Nipah Menular dari Kelelawar ke Manusia, Ini Cara Penularan yang Perlu Diwaspadai
Indonesia masih nol kasus, pencegahan jadi kunci
Piprim mengatakan penegasan tersebut penting disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran publik akibat pemberitaan virus Nipah di sejumlah negara.
“Indonesia sampai hari ini masih nol kasus Nipah pada manusia, tetapi ini tidak berarti kita boleh lengah,” ujar Piprim dalam Webinar IDAI Mengenal dan Mewaspadai Nipah yang diikuti Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Ia menekankan bahwa ketiadaan kasus tidak boleh disalahartikan sebagai kondisi aman sepenuhnya, mengingat virus Nipah tergolong penyakit infeksi zoonosis dengan dampak fatal.
“Karena belum ada obat dan vaksin, pencegahan menjadi satu-satunya langkah paling rasional,” kata Piprim.
Baca juga: Dari Kelelawar ke Manusia, Ini Penyebab Virus Nipah di Balik Wabah India
Kasus Nipah dunia masih terbatas di lima negara
Tangkapan layar webinar IDAI, Kamis (29/1/2026). Indonesia belum mencatat kasus virus Nipah pada manusia, namun IDAI mengingatkan kewaspadaan tetap penting di tengah sorotan global.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menjelaskan bahwa virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia.
“Sejak ditemukan, kasus Nipah di dunia hanya terkonsentrasi di lima negara, yaitu Malaysia, Singapura, Filipina, India, dan Bangladesh,” ujar Dominicus.
Menurutnya, secara global tercatat lebih dari 800 kasus, sehingga Nipah tergolong penyakit langka, tetapi dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.
Baca juga: Waspadai Demam Mendadak dan Cara Penularan Virus Nipah, Ini Kata Ahli Epidemiologi
Virus Nipah ditemukan pada kelelawar, bukan manusia
Dominicus menuturkan bahwa hingga kini Indonesia memang belum menemukan virus Nipah pada manusia, tetapi penelitian menunjukkan virus dan antibodinya telah terdeteksi pada kelelawar buah di sejumlah wilayah.
“Kelelawar buah merupakan inang alami virus Nipah, dan di Indonesia virus ini sudah ditemukan pada kelelawar, bukan pada manusia,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut Dominicus, menjadi dasar pentingnya penguatan pencegahan penularan dari hewan ke manusia sebelum terjadi kasus.
Baca juga: Bukan Lima Kasus, Ini Penjelasan Resmi India Soal Situasi Terkini Wabah Virus Nipah
Penularan dan gejala sering tidak disadari
Virus Nipah dapat menular melalui kontak dengan cairan tubuh hewan terinfeksi, konsumsi buah yang terkontaminasi air liur atau gigitan kelelawar, serta kontak erat dengan pasien.
“Buah yang sudah tergigit kelelawar sebaiknya tidak dikonsumsi meskipun terlihat masih layak,” ujar Dominicus.
Ia menjelaskan bahwa gejala awal virus Nipah sering menyerupai infeksi virus biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan muntah, sehingga kerap terlambat dikenali.
“Dalam kondisi tertentu, penyakit ini bisa berkembang cepat menjadi radang otak atau gangguan pernapasan berat yang berisiko fatal,” katanya.
Risiko pandemi dinilai kecil, wabah lokal tetap mungkin
Menanggapi kekhawatiran soal potensi pandemi, Dominicus menilai risiko virus Nipah menjadi pandemi global relatif kecil karena penularannya tidak dominan melalui udara.
“Penularannya tidak secepat Covid-19, sehingga lebih berpotensi menimbulkan wabah lokal daripada pandemi global,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa mutasi virus tetap harus diantisipasi, terutama di negara dengan populasi kelelawar yang besar seperti Indonesia.
Baca juga: Kasus Virus Nipah Meningkat di India, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai
IDAI imbau waspada tanpa panik
IDAI menekankan bahwa langkah paling efektif saat ini adalah memperkuat perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan, mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, serta memastikan daging dimasak hingga matang.
“Kuncinya adalah kewaspadaan, bukan kepanikan,” ujar Piprim.
Ia juga mengimbau media menyampaikan informasi secara akurat dan proporsional agar masyarakat memahami risiko virus Nipah secara utuh dan berbasis sains.
Baca juga: Waspada Lonjakan Kasus Virus Nipah di India, Ini Langkah Antisipasi Kemenkes untuk Wilayah Indonesia
Tag: #virus #nipah #jadi #sorotan #global #idai #tegaskan #indonesia #masih #kasus #manusia