Sering 'Ngopi' Tinggi Gula? Kenali Risiko 'Sugar Rush' yang Bisa Berujung Diabetes
Ilustrasi minuman manis(freepik)
20:18
17 Januari 2026

Sering 'Ngopi' Tinggi Gula? Kenali Risiko 'Sugar Rush' yang Bisa Berujung Diabetes

Nongkrong di kafe sambil menikmati kopi susu gula aren, boba, atau dessert manis yang sedang viral makin diminato generasi muda saat ini.

Namun, di balik kenikmatan sesaat tersebut, terdapat ancaman kesehatan yang nyata.

Dalam siaran langsung InstagramKementerian Kesehatan, spesialis gizi dr. Steffi Sonia, M.Gizi, Sp.GK, memperingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan manis tanpa batas bisa menjadi jalan pintas menuju diabetes, bahkan jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Fakta mengkhawatirkan: Gen Z dan pre-diabetes

Banyak anak muda merasa diabetes adalah "penyakit orang tua". Namun, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mematahkan asumsi tersebut.

"Di usia 20-an, angka diabetes di Indonesia sudah berada di kisaran 5 persen. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah angka pre-diabetes, yaitu kondisi di mana gula darah sudah mulai terganggu meski belum masuk kategori diabetes, yang mencapai 15 persen untuk usia 20 hingga 30 tahun," jelas dr. Steffi, dikutip Kompas.com dari Instagram Kemenkes, Sabtu (17/1/2025)

Peningkatan ini cukup signifikan. Jika ditarik rentang waktu 30 tahun, angka kejadian diabetes pada usia muda meningkat hampir dua kali lipat.

Hal ini membuktikan bahwa faktor genetik yang berpadu dengan gaya hidup sedenter (kurang gerak) dan konsumsi gula berlebih menciptakan bom waktu kesehatan bagi Gen Z.

Fenomena sugar rush dan adiksi gula

Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat dan bahagia sesaat setelah mengonsumsi minuman manis? Kondisi inilah yang sering disebut sebagai Sugar Rush.

Secara medis, glukosa yang masuk ke tubuh diolah menjadi energi secara instan, memicu pelepasan neurotransmitter dopamin di otak.

"Dopamin memberikan rasa senang dan puas. Inilah yang menyebabkan efek adiksi atau ketergantungan. Levelnya bisa menjadi berat jika terus-menerus dilakukan sebagai pelarian saat stres, mirip dengan mekanisme ketergantungan pada zat terlarang," ungkap dr. Steffi.

Bahayanya, setelah lonjakan energi (sugar rush) mereda, tubuh akan mengalami penurunan energi secara drastis, yang membuat seseorang kembali "ngidam" makanan manis untuk mendapatkan perasaan senang yang sama.

Siklus inilah yang merusak metabolisme tubuh dalam jangka panjang.

ilustrasi saat suhu semakin panas, maka orang semakin ingin minum minuman manis dan dingin.canva.com ilustrasi saat suhu semakin panas, maka orang semakin ingin minum minuman manis dan dingin.

Batas aman: 4 sendok makan per hari

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah akses makanan manis yang semakin murah dan masif. dr. Steffi menyoroti bagaimana minuman kopi kekinian seharga Rp8.000 hingga Rp10.000 yang menjamur di pasar didominasi oleh kandungan gula.

Kementerian Kesehatan sendiri telah menetapkan batas aman konsumsi gula harian:

  • Orang dewasa sehat: Maksimal 4 sendok makan gula per hari.
  • Kondisi khusus (obesitas/pre-diabetes): dianjurkan tidak lebih dari 2 sendok makan per hari.

Sebagai gambaran, satu gelas minuman kekinian sering kali sudah mengandung gula yang mendekati atau bahkan melebihi batas harian tersebut.

Jika dalam satu hari Anda mengonsumsi lebih dari satu jenis makanan atau minuman manis, maka risiko penumpukan lemak dan lonjakan gula darah menjadi tak terhindarkan.

Pemanis buatan: apakah solusi aman?

Banyak orang kini beralih ke pemanis buatan seperti Stevia atau produk berlabel Zero Calorie untuk tetap bisa menikmati rasa manis.

Meski secara jangka pendek efektif mencegah lonjakan gula darah dan membantu manajemen berat badan, dr. Steffi menyarankan untuk tetap bijak.

"Secara medis, efek jangka panjang pemanis buatan dalam 5-10 tahun ke depan masih menjadi perdebatan. Ada spekulasi mengenai gangguan bakteri usus dan efek lainnya. Jadi, pilihan terbaik tetaplah kembali ke rasa yang alami atau tawar, seperti air putih atau teh tawar," tambahnya.

Diabetes di usia muda bukan hanya tentang satu faktor, melainkan akumulasi dari genetika, stres, kurang tidur, dan pola makan yang tidak terjaga.

Sebelum tubuh "mogok" di usia produktif, mulailah dengan langkah sederhana: sadari berapa sendok gula yang masuk ke tubuh Anda hari ini. Karena hidup sehat tidak harus menunggu usia tua.

Tag:  #sering #ngopi #tinggi #gula #kenali #risiko #sugar #rush #yang #bisa #berujung #diabetes

KOMENTAR