BRIN Diminta Petakan Wilayah Rawan Banjir-Longsor, Termasuk Lokasi yang Tak Bisa Ditanam Sawit
Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati(Dokumen resmi DPR RI)
12:54
29 Januari 2026

BRIN Diminta Petakan Wilayah Rawan Banjir-Longsor, Termasuk Lokasi yang Tak Bisa Ditanam Sawit

- Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan mitigasi bencana serta memetakan daerah yang rawan bencana hidrometeorologi.

BRIN juga diharapkan dapat melakukan berbagai terobosan untuk mencegah dampak bencana alam, seperti memetakan jenis pohon yang cocok ditanam di berbagai daerah.

"BRIN dapat memetakan, termasuk rekomendasi pohon apa yang tidak boleh ditanam karena ada spesifikasi khusus, termasuk akarnya seperti apa. Pemetaan ini penting. Mungkin sudah ada di dokumennya BRIN, jadi kami minta buka dan jadikan itu rekomendasi," kata Esti dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Dia menambahkan, BRIN harus bisa membuat rekomendasi terkait jenis pohon apa yang tepat dan bisa ditanam di lokasi-lokasi tertentu untuk mengadang material saat longsor atau banjir terjadi.

Baca juga: Anggota DPR Minta Radar Buatan BRIN Dikerahkan ke Lokasi Longsor Cisarua

Politikus PDIP ini menekankan pemetaan itu penting karena dapat mengurangi risiko bencana.

"Ini berkaitan dengan bagaimana caranya kita mengurangi risiko bencana yang ada di negara kita. Di wilayah tertentu misalnya apakah ada tanaman yang tidak boleh ditanam, misalkan sawit,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, BRIN diminta membuat rekomendasi terkait daerah mana yang cocok ditanam sawit.

"Mungkin disampaikan bahwa sawit itu penting. Baik, sawit itu penting. Tapi boleh ditanam di mana? Berapa maksimal luasan boleh ditanami. Saya kira ini juga kebijakan yang memang dari BRIN ini perlu memberikan masukan supaya kebijakannya tepat," sambung Esti.

Lebih lanjut, Esti mengungkap para petani sawit di Aceh sebenarnya bersedia mengganti tanaman perkebunan mereka.

Baca juga: BRIN Sebut Sawit Tak Cocok untuk Semua Lahan di Indonesia, Ini Alasannya

Hal tersebut didengarnya langsung dari sejumlah petani saat ia berkunjung ke Aceh.

"Waktu kami ke Aceh, saya cukup senang karena ada petani yang mengatakan 'Bu, termasuk yang di bio-bio kami sudah tidak akan menanam lagi. Kami sadar pohon ini tidak mampu menahan ketika terjadi banjir'. Ini harus jadi perhatian,” sebut Esti.

Esti pun meminta pemerintah mendukung hasil rekomendasi serta pemetaan dari BRIN. Terlebih, urusan lingkungan dan bencana ini menyangkut hajat hidup orang banyak.

"Kita tidak ingin terjadi lagi bencana alam yang bisa diantisipasi, seperti di Aceh dan Sumatera akhir tahun kemarin,” tegasnya.

Esti kemudian menyatakan Komisi X DPR akan terus memantau perkembangan kebencanaan di Indonesia, yang dapat dimitigasi dengan peran dari BRIN.

Baca juga: BRIN Ingatkan Potensi Virus Nipah di Indonesia, Kelelawar Jadi Sorotan

Komisi X DPR juga akan terus memastikan agar kebutuhan dan keselamatan masyarakat terpenuhi baik melalui fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.

"Dan kami harap semua stakeholder dapat bekerja sama dan bersinergi, demi meminimalisir dampak dari bencana alam, khususnya masyarakat yang menjadi korban," pungkas Esti.

Selain soal pemetaan wilayah, Esti juga mendorong agar alat hasil riset dan inovasi dari BRIN digunakan untuk mitigasi dan evakuasi korban bencana alam.

Termasuk untuk mencari korban longsor di kaki Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang belum ditemukan.

Seperti diketahui, Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi pencarian korban yang tertimbun longsor di Cisarua.

Menurut Esti, alat Ground Penetrating Radar (GPR) yang diintegrasikan dengan drone (UAV) dapat dipakai untuk membantu mencari korban bencana.

Baca juga: Peneliti BRIN Kritisi Skema Kemitraan Perusahaan-Petani Sawit di Papua

Alat tersebut juga dinilai dapat digunakan sebagai salah satu langkah mitigasi bencana karena memiliki berbagai fitur dan keunggulan.

"Saya kira alat ini bisa dimanfaatkan untuk membantu evakuasi korban bencana longsor di Cisarua. Kami berharap BRIN mengambil langkah cepat untuk ini,” tambahnya.

Adapun Ground Penetrating Radar (GPR) yang diintegrasikan dengan drone (UAV) merupakan inovasi yang dikembangkan oleh BRIN untuk deteksi bawah permukaan secara non-destruktif.

Teknologi ini mampu menembus tanah hingga kedalaman 60-100 meter, serta dapat digunakan untuk pencarian korban bencana, pemetaan struktur tanah, dan eksplorasi geofisika.

Salah satu fitur pada alat milik BRIN tersebut yaitu Aero-GPR yang merupakan metode pemetaan struktur dangkal di wilayah sulit dijangkau.

Fitur ini dapat mendeteksi material bawah permukaan hingga kedalaman 60 meter.

Baca juga: Mahasiswa Bisa Ikut Riset Sosial Humaniora Bareng BRIN, Ini Skemanya

Selain itu, drone pada GPR juga dapat mendeteksi keberadaan benda atau jenazah yang tertimbun hingga kedalaman 100 meter, sehingga sangat berguna untuk operasi SAR dan pascabencana.

Drone itu menggunakan sistem kontrol canggih untuk menghasilkan data subsurface yang geotagged (ditandai secara spasial), memetakan lapisan tanah, dan mendeteksi jalur bawah tanah.

BRIN pun turut mengembangkan radar bernama Ground-Based Synthetic Aperture Radar (GB SAR) dan radar berbasis Software Defined Radio (SDR) untuk pemantauan struktural yang lebih presisi.

Teknologi ini dikembangkan BRIN untuk mendukung mitigasi bencana, arkeologi, dan keamanan.

Untuk itu, Esti meminta BRIN ikut andil dalam setiap proses pencarian korban bencana alam, dan terlibat aktif pada mitigasi bencana.

Baca juga: Banjir Awal 2026 Jadi Alarm, BRIN Dorong Sistem Polder Kecil di Jakarta

Ia menilai, teknologi dan inovasi yang dikembangkan BRIN juga dapat berperan dalam upaya penyelamatan lingkungan.

"Dengan BRIN ikut terlibat aktif, artinya upaya menyelamatkan lingkungan semakin bertambah. Alat dan teknologi milik BRIN dapat mengantisipasi terjadinya bencana, dan lingkungan hidup juga dapat terselamatkan dari musibah-musibah yang akan lebih besar mendatang," papar Esti.

Tag:  #brin #diminta #petakan #wilayah #rawan #banjir #longsor #termasuk #lokasi #yang #bisa #ditanam #sawit

KOMENTAR