Didorong Saham Teknologi dan AI, Wall Street Ditutup Menguat
- Bursa Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (2/2/2026). Indeks S&P 500 ditutup melonjak hingga hampir menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, ditopang reli saham produsen chip dan emiten yang berkaitan erat dengan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Mengutip Reuters Selasa (3/2/2026), indeks S&P 500 menguat 0,54 persen ke level 6.976,44, dekat dengan rekor penutupan tertinggi 6.978,60 yang tercatat pada Selasa pekan lalu. Indeks Nasdaq naik 0,56 persen ke level 23.592,11, sementara Dow Jones Industrial Average melesat 1,05 persen ke posisi 49.407,66.
Volume perdagangan saham di bursa Amerika Serikat tercatat mencapai 20,1 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di kisaran 19,4 miliar saham.
Baca juga: Wall Street Melemah, Kekhawatiran Balik Modal Investasi AI Tekan Saham Teknologi
Saham teknologi
Saham-saham teknologi kembali menjadi motor penggerak pasar. Saham Alphabet melonjak 1,9 persen hingga mencetak rekor tertinggi baru, disusul Amazon yang menguat 1,5 persen. Kedua perusahaan dijadwalkan merilis laporan kinerja kuartalan pekan ini, yang dinanti investor untuk membaca arah persaingan dan monetisasi teknologi AI.
Sementara itu, saham perusahaan data dan analitik berbasis AI, Palantir, naik 0,8 persen menjelang publikasi laporan keuangan setelah penutupan pasar.
Optimisme terhadap permintaan komponen AI juga mendorong reli saham produsen chip. Saham SanDisk melesat 15,4 persen, Advanced Micro Devices (AMD) naik 4 persen, dan Micron Technology menguat 5,5 persen.
Penguatan kali ini menjadi kenaikan pertama S&P 500 dalam tiga sesi terakhir, setelah sebelumnya pasar dibayangi kekhawatiran valuasi saham teknologi yang dinilai sudah mahal seiring lonjakan harga dalam beberapa tahun terakhir akibat euforia AI. Sepanjang 2026, S&P 500 tercatat naik sekitar 2 persen, masih tertinggal dibandingkan indeks Russell 2000 yang mencatatkan kenaikan lebih dari 6 persen.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Wall Street Berakhir Variatif
Kenaikan saham berkapitalisasi kecil kerap dipandang sebagai cerminan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian.
“Fundamentalnya kuat dan pendapatan perusahaan solid. Kami melihat kejutan positif, baik dari sisi pendapatan maupun laba, hampir di seluruh sektor,” ujar Tim Ghriskey, ahli strategi portofolio senior di Ingalls & Snyder, New York.
Dari sisi data ekonomi, aktivitas pabrik AS tumbuh untuk pertama kalinya dalam setahun pada Januari, tercermin dari data Purchasing Managers’ Index (PMI). Di sisi lain, indeks volatilitas CBOE VIX, yang kerap dijuluki sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street, turun 1 poin ke level 16,5, meski sempat menyentuh posisi tertinggi dalam hampir dua pekan selama sesi perdagangan.
Faktor harga minyak
Berbeda dengan sektor teknologi, indeks sektor energi S&P 500 justru turun 2 persen seiring merosotnya harga minyak. Presiden AS Donald Trump menyebut Iran “sedang serius berbicara” dengan Washington, pernyataan yang mengisyaratkan potensi de-eskalasi geopolitik dan meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Turunnya harga energi menjadi sentimen positif bagi saham maskapai penerbangan. Saham United Airlines, JetBlue, Delta Air Lines, dan Southwest Airlines kompak menguat di kisaran 4 persen hingga 8 persen.
Di luar pasar, Dewan Perwakilan Rakyat AS tengah membahas rancangan undang-undang untuk mencabut penutupan sebagian pemerintahan federal yang dimulai sejak Sabtu, dengan pemungutan suara final diperkirakan berlangsung pada Selasa.
Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyatakan laporan ketenagakerjaan Januari yang sangat dinantikan tidak akan dirilis pada Jumat akibat penutupan sebagian pemerintah tersebut.
Tag: #didorong #saham #teknologi #wall #street #ditutup #menguat