Sido Muncul Raih Penghargaan “Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional” dari BPOM
Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat (kanan) menerima BPOM Achievement Award dari Kepala BPOM Prof dr Taruna Ikrar M Biomed MD PhD dalam rangkaian Malam Inagurasi HUT Ke-25 BPOM di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026). (KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko)
11:36
3 Februari 2026

Sido Muncul Raih Penghargaan “Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional” dari BPOM

– PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) meraih penghargaan “Pelopor Herbal Indonesia - Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional” dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam Malam Inagurasi Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-25 BPOM di Auditorium Gedung Merah Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).

Penghargaan tersebut diberikan atas konsistensi Sido Muncul dalam menerapkan standar keamanan produk jamu yang berbasis uji ilmiah di Tanah Air.

Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat mengatakan, penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas komitmen perusahaan.

Komitmen itu, lanjut dia, diwujudkan dengan memastikan produk jamu yang beredar di masyarakat dapat dipertanggungjawabkan keamanannya secara ilmiah.

“Produk jamu yang kami hasilkan tidak hanya diperkenalkan ke masyarakat, tetapi juga harus bisa dipertanggungjawabkan keamanannya secara ilmiah,” ujar Irwan kepada Kompas.com, Sabtu.

Baca juga: 75 Tahun Eksis, Sido Muncul Konsisten Hadirkan Produk Herbal Berbasis Ilmiah

Menurut Irwan, tidak semua produk bisa begitu saja diklaim aman. Setiap produk memiliki potensi risiko jika tidak melalui proses pengujian yang ketat.

Oleh karena itu, lanjut Irwan, produsen wajib memastikan seluruh produk aman untuk dikonsumsi dan memenuhi standar ilmiah yang dapat diuji.

Ia menuturkan, seluruh produk Sido Muncul diuji melalui berbagai tahapan pengujian, mulai dari uji toksisitas hingga uji khasiat.

Penilaian tersebut menjadi bagian dari dasar BPOM memberikan penghargaan kepada Sido Muncul sebagai pelopor herbal Indonesia yang konsisten menjaga keamanan jamu.

Penerima BPOM Achievement Award berfoto bersama dalam Malam Inagurasi HUT Ke-25 BPOM di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026). 
KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Penerima BPOM Achievement Award berfoto bersama dalam Malam Inagurasi HUT Ke-25 BPOM di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).

“Keamanan ini bukan sekadar klaim. Semua dibuktikan lewat pengujian yang ketat,” kata Irwan.

Baca juga: Sido Muncul Kembali Pulihkan Senyum Anak Indonesia di Wilayah Bogor

Selain pengujian internal, pengawasan dari BPOM juga dilakukan secara berkala. Irwan menyebut, untuk perusahaan dengan skala produksi dan penjualan besar, inspeksi BPOM dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun sesuai periode audit yang ditetapkan.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, Irwan mengakui kepercayaan publik menjadi aset yang sangat rapuh.

Menurut dia, sedikit saja muncul keraguan, kepercayaan masyarakat bisa langsung menurun. Namun, pihaknya memilih tidak berdebat di ruang publik digital.

Ia menambahkan, seluruh proses produksi Sido Muncul telah memenuhi syarat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Setiap hasil produksi diuji ulang untuk memastikan bebas dari pestisida, aflatoksin, logam berat, DNA babi, serta kontaminan lainnya. Seluruh proses tersebut terdokumentasi dalam sertifikat analisis pada setiap batch produksi.

Baca juga: Program Smartani Antar Sido Muncul Jadi Peringkat Pertama Indonesias SDGs Action Awards 2025

“Kalau ada yang meragukan keamanan produk, kami menjawabnya dengan data ilmiah dan bukti proses produksi yang memenuhi standar,” ujarnya.

Audit produk dan pabrik

Pada kesempatan sama, Research and Quality Operation Head Sido Muncul, Apt Wahyu Widayani, SSi, menuturkan bahwa audit yang dijalani perusahaan mencakup audit produk dan audit pabrik.

Produk diperiksa melalui pengambilan sampel setiap batch sebelum dipasarkan. Sementara, pabrik diawasi untuk memastikan proses produksi sesuai standar.

“Semua hasil uji harus memenuhi standar keamanan sebelum produk beredar,” tutur Wahyu.
Wahyu menjelaskan, audit dari BPOM dilakukan secara insidental minimal setahun sekali.

Pemeriksaan tersebut biasanya dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya dan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan dokumen hingga proses produksi di lapangan.

Baca juga: Bappenas Apresiasi Program Smartani sebagai Praktik Baik Mendukung SDGs

Menurut Wahyu, Sido Muncul menerapkan tiga lapis pengamanan dalam menjaga kualitas produknya.

Pertama, keamanan produk melalui uji ilmiah. Kedua, pengawasan ketat terhadap fasilitas produksi yang harus memenuhi standar. Ketiga, setiap batch produksi wajib lolos uji sebelum dipasarkan ke konsumen,” terang Wahyu.

Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat menunjukkan trofi BPOM Achievement Award usai menerima penghargaan ?Pelopor Herbal Indonesia ? Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional? di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, Jakarta Pusat. KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk Dr (HC) Irwan Hidayat menunjukkan trofi BPOM Achievement Award usai menerima penghargaan ?Pelopor Herbal Indonesia ? Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional? di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, Jakarta Pusat.

Pengawasan berbasis sains

Kepala BPOM Prof dr Taruna Ikrar, MBiomed, MD, PhD, menegaskan bahwa pengawasan obat dan makanan, termasuk jamu, memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas.

Menurut dia, produk-produk yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari menyentuh seluruh siklus kehidupan manusia, mulai dari bayi hingga lanjut usia.

“Apa yang kami awasi dan jamin keamanannya berdampak langsung pada setiap insan di negeri ini, mulai dari bayi sampai orang tua, dari masyarakat biasa hingga pimpinan negara,” ujar Taruna.

Baca juga: Sido Muncul Salurkan Bantuan Rp 900 Juta untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatera

Taruna menjelaskan, seluruh kebijakan dan keputusan BPOM dalam pengawasan obat dan makanan didasarkan pada dua landasan utama, yakni sains dan regulasi.

Pendekatan ilmiah menjadi rujukan utama dalam menilai keamanan, mutu, dan khasiat produk. Sementara, regulasi berfungsi sebagai pagar untuk melindungi masyarakat dari risiko produk yang tidak memenuhi standar.

Menurut Taruna, pengawasan bukan hanya dilakukan secara simbolik, melainkan melalui proses profesional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

BPOM juga melakukan audit serta pemeriksaan, baik secara berkala maupun insidental, terhadap pelaku usaha untuk memastikan seluruh proses produksi berjalan sesuai ketentuan.

“Landasan kerja kami jelas, yaitu ilmu pengetahuan dan aturan. Setiap keputusan yang diambil harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik,” kata Taruna.

Tag:  #sido #muncul #raih #penghargaan #penjaga #marwah #jamu #aman #nasional #dari #bpom

KOMENTAR