Gelombang PHK Amazon Berlanjut, 16.000 Karyawan Terdampak
- Amazon kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Kali ini, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut memangkas sekitar 16.000 pegawai di berbagai negara.
Informasi PHK ini dikonfirmasi langsung oleh Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, Beth Galetti, melalui unggahan blog resmi perusahaan, pada Rabu (28/1/2026).
Dalam keterangannya, Galetti menyebut bahwa langkah pengurangan tenaga kerja dilakukan sebagai bagian dari lanjutan restrukturisasi organisasi yang telah dimulai sejak Oktober 2025 lalu. Saat itu, Amazon memangkas sekitar 1.400 posisi.
"Kami telah berupaya memperkuat organisasi dengan mengurangi lapisan manajemen, meningkatkan rasa kepemilikan, dan memangkas birokrasi," tulis Galetti dalam pernyataan resminya.
Ia juga menjelaskan, sebagian tim Amazon sebenarnya telah lebih dulu merampungkan proses penyesuaian struktur tersebut. Namun, ada unit kerja lain yang baru menyelesaikan evaluasi organisasinya sekarang.
"Sejumlah tim telah menyelesaikan perubahan organisasinya pada Oktober, tapi ada juga tim yang baru menuntaskan proses tersebut sekarang," tutur Galetti.
Baca juga: Kisah di Balik Kesuksesan Jeff Bezos, Penjual Burger yang Jadi Pendiri Amazon
Terdampak di sejumlah negara
Mengutip laporan outlet media BBC, pemangkasan besar-besaran ini berdampak pada karyawan Amazon yang tersebar di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Kosta Rika.
Kendati sudah dikonfirmasi, Amazon belum mengungkap secara rinci divisi apa maupun wilayah mana saja yang terkena dampak paling besar.
Sebagai informasi, saat ini Amazon mempekerjakan sekitar 1,5 juta karyawan secara global, dengan kurang lebih 350.000 di antaranya berada di posisi korporat.
Sebagai bentuk kompensasi, Amazon menyatakan telah menyiapkan sejumlah dukungan bagi karyawan yang terdampak.
Pertama, untuk pegawai yang berbasis di Amerika Serikat, perusahaan memberikan waktu hingga 90 hari untuk mencari dan melamar posisi internal lain di Amazon. Skema serupa juga diterapkan di negara lain, menyesuaikan dengan regulasi setempat.
Kedua, bagi karyawan yang tidak menemukan peran baru di Amazon atau memilih untuk tidak mencarinya, perusahaan akan menyediakan dukungan transisi, termasuk uang pesangon, layanan penempatan kerja, manfaat asuransi kesehatan, dan lain sebagainya.
Baca juga: Amazon PHK 30.000 Karyawan, Terbesar sejak 2022
Bukan PHK berkala
Meski kembali memangkas karyawan, Galetti menegaskan bahwa Amazon tidak berencana menjadikan pemutusan hubungan kerja sebagai "agenda" rutin yang dilakukan setiap beberapa bulan.
Namun, ia menekankan bahwa setiap tim akan terus mengevaluasi struktur kerja, kepemilikan tugas, dan kecepatan, serta kapasitas untuk berinovasi bagi pelanggan seiring perubahan industri teknologi global yang semakin cepat.
Di tengah pemangkasan ini, Amazon juga menegaskan bahwa mereka akan tetap merekrut dan berinvestasi pada area strategis yang dinilai penting bagi masa depan perusahaan.
Sebelumnya, rencana PHK ini juga sempat menjadi sorotan setelah sebuah e-mail internal tentang pemangkasan karyawan tersebar secara tidak sengaja ke sebagian pegawai Amazon.
E-mail tersebut kemudian ditarik kembali, sebelum akhirnya Amazon mengonfirmasi kebijakan tersebut secara resmi dengan jarak waktu beberapa jam. BBC juga melaporkan bahwa pemangkasan ini merupakan bagian dari proyek internal Amazon bernama "Project Dawn".
Keputusan memangkas 16.000 karyawan ini menambah daftar panjang langkah efisiensi Amazon sejak Andy Jassy menjabat sebagai CEO, menggantikan sang founder Jeff Bezos.
Dalam beberapa tahun terakhir, Amazon juga diketahui menerapkan kebijakan kerja lima hari penuh dari kantor, serta memperketat pengeluaran operasional, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BBC.
Baca juga: 7 Perusahaan Teknologi Ini PHK Massal Karyawan di 2025
Tag: #gelombang #amazon #berlanjut #16000 #karyawan #terdampak