Studi Ungkap Sering Begadang dan Sulit Tidur Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke
Ilustrasi insomnia. Studi besar menunjukkan orang yang terbiasa tidur larut atau mengalami insomnia memiliki risiko kardiovaskular lebih tinggi.(Shutterstock/amenic181)
16:06
29 Januari 2026

Studi Ungkap Sering Begadang dan Sulit Tidur Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Orang yang terbiasa begadang atau sulit tidur malam hari memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung dan stroke.

Temuan ini terungkap dalam studi berskala besar yang menelusuri pola tidur ratusan ribu orang selama lebih dari satu dekade.

Peneliti menegaskan, masalahnya bukan sekadar jam tidur yang larut, melainkan benturan antara jam biologis tubuh dan tuntutan hidup sehari-hari.

Studi tersebut dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association dan dilaporkan oleh Science Alert.

Penelitian ini menyoroti kelompok yang dikenal sebagai night owl, orang yang merasa lebih aktif secara fisik dan mental pada malam hari, yang kerap mengalami gangguan tidur atau insomnia.

Baca juga: Angin Duduk Bukan Masuk Angin, Dokter Jelaskan Gangguan Aliran Darah ke Jantung

Begadang bukan sekadar kebiasaan

Penelitian yang dipimpin Sina Kianersi, peneliti di Brigham and Women’s Hospital dan Harvard Medical School, menganalisis data lebih dari 300.000 orang dewasa dari UK Biobank.

Sekitar 8 persen responden mengidentifikasi diri sebagai night owl, sementara seperempat lainnya termasuk early bird.

Selama periode pemantauan hingga 14 tahun, kelompok night owl tercatat memiliki risiko 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke pertama dibandingkan kelompok dengan pola tidur rata-rata.

“Ini bukan berarti para night owl sudah pasti sakit,” kata Kianersi. “Tantangannya adalah ketidakcocokan antara jam biologis internal dan jadwal hidup sehari-hari, yang membuat perilaku sehat lebih sulit dijalani.”

Baca juga: Super Flu Dapat Memperburuk Penyakit Jantung dan Diabetes

Jam biologis dan kesehatan jantung

Ilustrasi gejala serangan jantung mirip flu. Studi besar menunjukkan orang yang terbiasa tidur larut atau mengalami insomnia memiliki risiko kardiovaskular lebih tinggi.Freepik/Niken Ilustrasi gejala serangan jantung mirip flu. Studi besar menunjukkan orang yang terbiasa tidur larut atau mengalami insomnia memiliki risiko kardiovaskular lebih tinggi.

Jam biologis tubuh atau ritme sirkadian mengatur lebih dari sekadar rasa kantuk. Sistem ini memengaruhi tekanan darah, detak jantung, hormon stres, hingga metabolisme.

Ketika seseorang yang cenderung aktif malam hari dipaksa bangun pagi untuk bekerja, tubuhnya sering berada dalam kondisi tidak selaras.

Akibatnya, pola tidur menjadi tidak teratur, durasi tidur berkurang, dan risiko insomnia meningkat.

Menurut penelitian, kondisi ini berkaitan dengan kebiasaan tidak sehat, seperti kurang tidur, pola makan buruk, dan merokok, faktor yang berkontribusi langsung pada kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Baca juga: Menurunkan Gula Darah Tekan Risiko Penyakit Jantung

Dampaknya lebih luas dari kurang tidur

Ahli tidur dari Northwestern University, Kristen Knutson, yang tidak terlibat langsung dalam studi ini, menjelaskan bahwa dampak ketidaksinkronan jam biologis tidak berhenti pada tidur.

“Metabolisme berubah sepanjang hari. Bagi night owl, sarapan besar di pagi hari bisa terasa berat karena tubuh mereka secara biologis masih ‘malam’,” ujar Knutson.

Kondisi ini dapat memengaruhi kadar gula darah dan cara tubuh memproses makanan. Selain itu, aktivitas larut malam juga sering membatasi pilihan makanan sehat.

Baca juga: Apakah Tidur Siang Baik untuk Kesehatan? Ini Kata Studi…

Apa yang bisa dilakukan?

Para peneliti menekankan bahwa risiko ini bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Kianersi menyarankan fokus pada kebiasaan dasar yang berpengaruh besar pada kesehatan jantung.

“Salah satu langkah terbaik untuk melindungi jantung, baik bagi night owl maupun siapa pun, adalah berhenti merokok,” katanya.

Selain itu, menjaga jam tidur dan bangun yang konsisten, meski belum mencapai durasi ideal tujuh jam per malam, dinilai dapat membantu menurunkan risiko.

“Fokus pada hal-hal mendasar, bukan kesempurnaan,” ujar Kianersi.

Pengingat dari ilmu pengetahuan

Temuan ini memperkuat pesan bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan istirahat, melainkan bagian penting dari kesehatan jantung.

Insomnia dan kebiasaan begadang yang berlangsung lama dapat berdampak lebih serius daripada sekadar rasa lelah keesokan hari.

Baca juga: Viral di TikTok, Perdebatan Soal Tidur Siang Picu Diskusi Soal Kesehatan Mental

Tag:  #studi #ungkap #sering #begadang #sulit #tidur #tingkatkan #risiko #serangan #jantung #stroke

KOMENTAR